Sukses Menenggalamkan Jakarta, Rangkaian Wahana Ombak Banyu Asmara Dari The Panturas Telah Tuntas!

Trenddjakarta.com, 11 Agustus 2022 – Sebetulnya tak perlu panjang lebar untuk menjelaskan sebuah panggung pertunjukan The Panturas ketika lokasi gelarannya berada di kisaran Jakarta dan selingkupnya. Antusias para ABK dan juga banyak penggemar kasual unit rock selancar asal Jatinangor tersebut tentunya tak perlu dipertanyakan lagi.

Gegap gempita dan euforia selalu menjadi kata kunci untuk pertunjukan mereka di Ibu Kota. Lantas apa yang membuat pertunjukan Wahana Ombak Banyu Asmara edisi Jakarta satu pekan lalu – tepatnya di tanggal 6 Agustus 2022 – di Studio Palem, Kemang menjadi berbeda dengan panggung-panggung The Panturas sebelumnya di kota tersebut?

Tentunya selain dari suguhan konsep musikal dan visual yang lebih megah (juga seakan menunjukan bahwa kini The Panturas sanggup memproduksi sebuah helatan dahsyat dengan merogoh uang kas band-nya sendiri), saya merasakan sebuah pesan tersirat ketika menyaksikan acara tersebut dari awal sampai akhir.

Saya meyakini bahwa The Panturas adalah band rock yang tepat untuk mewakili identitas musikal generasi orang-orang yang masuk ke golongan paska millennial.
Antusiasme 900 lebih kepala (setidaknya itu angka terakhir yang saya dengar terhitung masuk di data penjualan tiket saat itu) berdarah muda untuk menyaksikan The Panturas (dan mungkin dua band pembuka mereka) menenggelamkan mereka dalam rasa dan sukacita lewat hentakan musik rock selancar kontemporer yang dimainkan malam itu rasanya tak membuat opini saya di atas terkesan terlalu banal.

Di tengah kelap kelip lampu panggung yang memekakan mata dan juga hiruk pikuk di area pinggir panggung, saya pun mencoba mengamati sebanyak mungkin wajah penonton sebisa saya. Walhasil, saya pun teryakinkan bahwa lautan manusia yang hadir di Wahana Ombak Banyu Asmara edisi Jakarta sepertinya memang berkisar di umur belasan dan dua-puluhan awal yang aktif dan memiliki hasrat aktualisasi diri yang bergejolak di dalam raganya. See what I mean? Banyak anak muda yang merelakan waktu malam minggunya untuk menyaksikan The Panturas dibandingkan Tinder date, mabuk di Beer Garden atau konvoi bersama geng motornya. They actually mean a lot for some kids today.

Berbicara perihal siratan pesan yang saya tangkap di dua paragraf sebelumnya, saya pun seakan menangkap pesan di helatan pertunjukan spesial malam itu. Kini The Panturas semakin sahih mengemban status sebagai band populer.
Mungkin beberapa tahun ke belakang mereka masih layak untuk didaulat sebagai band for the underdogs in sidestream scene. Keberadaan mereka masih terbilang segmented untuk penggemar rock saja. Bahkan lebih niche ketika mayoritas pangsa penggemar mereka masih berkutat di remaja laki-laki yang haus akan adrenalin.

Namun seiring waktu berjalan – dan pula sepengamatan saya sebagai sesama musisi dan juga kawan –, kisaran penggemar The Panturas semakin beragam dan bias akan suatu golongan tertentu. Kala Wahana Ombak Banyu Asmara edisi Jakarta kemarin, sepanjang mata saya memandang ke jajaran penonton terasa sangat kentara perbedaannya dibandingkan panggung-panggung The Panturas beberapa tahun ke belakang. Kini lantai dansa tak lagi dikuasai oleh remaja pria berumur tanggung dengan kaos Morfem atau Teenage Death Star yang ugal-ugalan, malah sudah banyak perempuan yang turut bersuka cita di tengah gegap gempita para penonton malam itu.

Ada pula yang menikmati The Panturas dengan cara yang lebih non-ekspresif seperti rengsekan penonton dari berbagai gender ke depan panggung demi untuk bisa sing along saja tanpa mengeluarkan ekspresi yang berlebih. It was beautiful.

Hal lainnya yang berkesan bagi saya di Wahana Ombak Banyu Asmara edisi Jakarta kemarin adalah bagaimana Tabraklari, Mad Madmen dan The Jansen – yang didaulat sebagai band pembuka – mendapatkan momen bersinarnya di acara tersebut. Kedua band tersebut mungkin sudah mempunyai basis penggemar yang lumayan loyal seiring waktu berjalan. Tapi momentum kala mereka bermain di atas panggung Wahana Ombak Banyu Asmara bak sebuah perkenalan di gathering sebuah perusahaan yang dihadiri oleh semua divisi dan juga pegawai di perusahaan tersebut.

Apabila The Panturas adalah CEO yang sudah jelas dikenal semua orang, ketiga band pembuka tersebut bak supervisor atau frontliner yang tugasnya seringkali dianggap remeh tapi krusial untuk sebuah perusahaan (baca analogi: skena). Ketika The Panturas mengenalkan mereka ke khalayak ‘pengikut’ mereka, saya rasa hal tersebut adalah sesuatu yang efektif untuk membuka cakrawala para penggemar The Panturas untuk mendengarkan musik lain yang sebetulnya banyak yang lebih bagus dari apa yang mereka mainkan. For doing that, The Panturas still has their cool.

Ah berbicara soal para band pembuka. Saya pun lumayan memberikan apresiasi bagi tim kreatif atau pun show director Wahana Ombak Banyu Asmara yang mengatur giliran penampilan para band pembuka tersebut.
Ketika acara dibuka oleh Tabraklari, saya mendapatkan kesan penonton harus ‘ditempa’ dulu dengan agresi dan intensitas musik yang tanpa fa-fi-fu supaya tidak kaget akan suguhan musik dari band-band setelahnya.

Lalu setelahnya disambung oleh penampilan dari The Jansen yang seakan memberikan pemanasan vokal bagi para penonton supaya prima ketika singalong bersama The Panturas dalam beberapa jam ke depan. Dan ini yang menarik. Mad Madmen diposisikan bermain tepat sebelum The Panturas naik panggung. Hal itu sangat brilian. Begini, musik Mad Madmen yang cukup rumit dan teknis harus diakui belum tentu bisa dinikmati oleh seluruh kalangan penonton Wahana Ombak Banyu Asmara malam itu.

Namun itu adalah momen yang sempurna untuk para penonton bisa menyimak musik mereka secara lebih khidmat – tanpa harus bergelut dengan energi lantai dansa. Hanya fokus ke musiknya saja.

Ah tapi kalau saya pribadi, ada sebuah tendensi yang saya rasakan akan penempatan Mad Madmen sebelum The Panturas tampil. Sepertinya penyelenggara acara tersebut memang sengaja menyimpan Mad Madmen untuk membuat penonton beristirahat sebelum kembali menggila bersama The Panturas. Haha! Overall, it went well.

Mengingat fakta bahwa The Panturas sudah bisa meraih banyak hati dengan menjadi diri sendiri dan menuangkannya lewat garapan visual macam showcase Wahana Ombak Banyu Asmara kemarin, tentu popularitas adalah sesuatu yang tak mungkin mereka hindari sekarang. Entah apa lagi yang akan muncul dari pikiran The Panturas setelah sukses menghelat Wahana Ombak Banyu Asmara di Bandung, Yogyakarta dan Jakarta.

Jujur saya pun sebenarnya tidak mau tahu manuver apalagi yang sedang mereka kembangka sekarang. Tapi satu hal yang saya ketahui sebagai orang-dalam-yang-tidak-terlalu-dalam-juga di lingkup The Panturas, sepertinya ambisi mereka masih menggebu. Saya bisa yakinkan kamu yang ikhlas menghabiskan waktu untuk membaca tulisan meracau ini, euforia Wahana Ombak Banyu Asmara bukanlah titik akhir The Panturas untuk bersantai dan ongkang angkang kaki mereguk kesuksesan. Mereka akan kembali mengibarkan layar perahu mereka setelah menenggelamkan Jakarta kemarin dan merencanakan pelayaran selanjutnya!
(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.