Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Adakan Zoom Meeting “Hari Pneumonia Sedunia 2022”

Trenddjakarta.com – Jakarta, Rabu (16/11/22) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengadakan zoom meeting dengan pembahasan Bahaya dari penyakit “Pneumonia”. Pada kesempatan tersebut dr Fathiyah Isbaniah, dr spesialis paru mengemukakan, pneumonia merupakan suatu peradangan akut parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Di Indonesia angka kejadian pneumonia ini sering di temukan pada kelompok usia <5 tahun : 14%, 55-66 tahun: 2,5 %, 65-74 tahun: 3% dan 75 tahun : 2,9%. Gejala dari Pneumonia seperti batuk yang berkepanjangan, lendir yang berwarna, suhu tubuh > 38C, nyeri dada,sesak nafas, dan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan leukositosis. Pneumonia berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini dapat terjangkit di semua kalangan usia. Hal tersebut berhubungan dengan adanya resistensi antibiotik,
meningkatnya populasi usia lanjut, dan tingginya populasi dengan komorbiditas kronik.

Lebih lanjut dr Fathiyah mengemukakan bahwa penyakit Pneumonia dapat di cegah dengan cara,
-Perilaku hidup bersih dan sehat, asupan gizi sesuai kebutuhan, istirahat yang cukup, berolahraga secara teratur dan menghindari stress yang itu semua dapat meningkatkan daya, tahan tubuh.
-Vaksinasi pencegahan pneumonia, khususnya untuk kelompok lansia dan komorbid.
-Berhenti merokok, karena merokok resiko nya 2.17 kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak merokok.
-Pencegahan resistensi Antibiotik ini disarankan untuk tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter dan apabila mendapatkan antibiotik diharapkan minum sesuai dosis dan dihabiskan.

Dalam kesempatan yang sama dr Arif Bakhtiar juga mengutarakan bahayanya penyakit paru lainnya yaitu PPOK. PPOK, bisa disebabkan dari, genetik, debu industri, merokok aktif dan pasif, dan infeksi saluran nafas di masa kecil. Indikator utama terdiagnosis PPOK adalah sesak nafas, batuk yang berkepanjangan, produksi dahak yang lama dan riwayat faktor resiko, seperti genetik, abnormalitas bawaan, asap rokok, asap dari limbah, debu, uap, , bahan bakar, gas dan bahan kimia lainnya. PPOK bisa dicegah dan diobati dengan cara berperilaku hidup bersih dan sehat.

Di akhir acara dr Arif juga mengharapkan masyarakat menghentikan pajanan asap rokok tembakau dan polusi udara lainnya, dan di harapkan bagi perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi pekerjanya. Bagi masyarakat dapat menjaga lingkungan yang bebas polusi udara, dan bagi mereka yang telanjur sakit dapat memanfaatkan kualitas layanan kesehatan termasuk rehabilitasi paru. dr Arif juga menghimbau kepada pemerintah untuk dapat semakin meningkatkan akses ke layanan kesehatan, ketersediaan obat-obatan serta sarana untuk mendiagnosis PPOK secara dini. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.