
trenddjakarta.com, 14 Oktober 2025 –Archipelago Video Summit, yang di adakan pada tanggal 9 Oktober di Jakarta. Mempertemukan lebih dari 150 eksekutif senior dari seluruh Asia. Untuk mendalami masa depan video di beberapa pasar paling dinamis di dunia. Yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Dalam pidato utama pembuka Archipelago Video Summit. Hermawan Sutanto, Managing Director Vidio, membagikan bagaimana platform tersebut membangun kekuatan streaming lokal di sekitar hak siar olahraga. Dan konten orisinal untuk memanfaatkan strategi pendapatan ganda dari iklan dan langganan.
Sutanto menekankan bahwa di Indonesia, ““execution is everything” sambil juga menyoroti sikap agresif Vidio terhadap pembajakan. Ia juga menguraikan penggunaan AI (kecerdasan buatan) di tiga bidang utama penargetan pengguna yang sangat spesifik (hypertargeting). Untuk rekomendasi demi mendorong langganan, otomatisasi proses termasuk layanan pelanggan. Dan juga inovasi bisnis seperti penempatan iklan dinamis dalam siaran langsung olahraga dan terjemahan bahasa lokal untuk dialek regional. Ke depan, ia memproyeksikan bahwa penetrasi streaming OTT di Indonesia dapat berlipat ganda hingga 15% dalam lima tahun ke depan.
Dalam sesi “Menciptakan Kembali untuk Masa Depan yang Dinamis” (Reinventing for a Dynamic Future), Jane Jimenez-Basas, Presiden & CEO MediaQuest Holdings dan Cignal TV. Menyoroti ekosistem media unik Filipina dan visinya untuk membangun platform berfokus pada konten yang terintegrasi dengan layanan telekomunikasi. Meskipun TV linear masih mempertahankan posisinya, momentum nyata datang dari streaming. Namun, dengan ARPU (pendapatan rata-rata per pengguna) yang lebih rendah, kemitraan strategis. Seperti distribusi perangkat dan peluncuran aplikasi sangat penting untuk meningkatkan jangkauan dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Saya mencoba membangun ekosistem yang berfokus pada konten, bukan bisnis saluran,” kata Jimenez-Basas saat acara Archipelago Video Summit. Dan dengan kesuksesan Cignal dalam drama mikro, terutama di kalangan audiens yang lebih muda, Jimenez-Basas juga mengungkapkan ambisi mereka untuk memproduksi drama mikro yang di hasilkan AI di masa depan.
Perlawanan Terhadap Pembajakan dan Peran Satelit Pembajakan tetap menjadi tema utama di sepanjang summit. Gina Golda Pangaila, SVP, Legal, Anti-Piracy & Government Relation, Vidio, menekankan perlunya pendekatan berlapis dan menyeluruh oleh industri, menggabungkan langkah-langkah pertahanan seperti DRM (Manajemen Hak Digital) dan perlindungan konten dengan strategi ofensif yang meningkatkan pengalaman konsumen dan investasi dalam teknologi anti-pembajakan. Dia juga menyoroti peran penting AVIA dan AVISI dalam melobi pemerintah untuk mendukung upaya-upaya ini.
Darmawan Zaini, Chief Technology Officer, Vision+, juga menyerukan edukasi konsumen yang lebih kuat terutama di kalangan audiens yang lebih muda dan bahkan menyarankan untuk menjajaki sanksi bagi mereka yang mengonsumsi konten bajakan. Ian Franklyn, Chief Revenue Officer, MainStreaming, menggemakan urgensi tersebut, dan menekankan pentingnya deteksi real-time dan respons cepat, terutama untuk konten siaran langsung di mana pembajak paling banyak mendapat keuntungan dan pemilik konten menghadapi kerugian terbesar.
“Pembajakan bukan lagi gangguan, ini adalah kejahatan terorganisir. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kekuatan kepada pemilik konten,” kata Franklyn.
Mengenai masa depan video satelit, para pemimpin teknologi dari AsiaSat, MEASAT dan INTEGRASYS. Menegaskan kembali relevansi dan efektivitas biaya satelit dalam menjangkau pasar pedesaan dan yang kurang terlayani. Serta memainkan peran penting dalam menjembatani kesenjangan digital di seluruh geografi kepulauan Asia Tenggara.
Strategi Monetisasi dan Masa Depan Periklanan Dalam sesi yang berfokus pada strategi monetisasi, para pembicara mengakui bahwa meskipun adopsi Connected TV (CTV) di Asia Tenggara menghadapi tantangan infrastruktur dan akuisisi konten, lintasan pertumbuhannya meningkat pesat. Tushar Tyagi, Head of Channel Partnerships, Samsung Ads, mencatat bahwa kawasan ini siap untuk melompati tahapan perkembangan tradisional dan bergerak langsung menuju hasil yang cerdas dan berbasis data, menjadikan edukasi, standardisasi, dan kemampuan penargetan berbasis AI penting untuk membuka potensi monetisasi penuh CTV.
Sesi tersebut juga mendalami tren co-viewing (menonton bersama) dan kekuatan periklanan kontekstual. Menekankan semakin pentingnya personalisasi berbasis data, dengan inovasi dalam format iklan dan segmentasi audiens. Dan yang membantu mendorong keterlibatan di seluruh platform linear dan OTT.
Sachidananda Panda, President, Client, WPP Media, menyimpulkan masa depan streaming dengan “tiga I”Intelijen (Intelligence), Integrasi (Integration), dan Dampak (Impact)— menggarisbawahi peran AI, strategi lintas-platform, dan efektivitas dalam membentuk gelombang berikutnya dari periklanan video.
Dialog CEO menutup hari itu dengan Mike Kerr, Managing Director, Asia, beIN Media Group. Menekankan pentingnya akuisisi konten yang disiplin dan kemitraan strategis. Terutama dalam olahraga, sambil mengingatkan agar tidak terlalu bergantung pada model periklanan tradisional.
Alexandre Muller, Managing Director APAC, TV5MONDE mencatat bahwa adopsi teknologi baru yang cepat di Asia terus menginspirasi inovasi. Tetapi keberhasilan membutuhkan pemahaman lokal yang mendalam dan kolaborasi. Dialog tersebut di tutup dengan optimisme bersama untuk masa depan kawasan ini. Yang di dasarkan pada kemampuan beradaptasi, inovasi dan komitmen untuk membangun ekosistem media yang terukur dan berpusat pada konsumen.
Archipelago Video Summit dengan bangga di sponsori oleh Sponsor Emas Publica by IAS, Vidio dan Vision+. Serta Sponsor Perak AsiaSat, INTEGRASYS, INVIDI, Magnite, MainStreaming dan TV5MONDE. (***)





