


trenddjakarta.com – Monash University akan menyusun peta jalan teknologi untuk mengembangkan platform berbasis AI yang menghubungkan tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan anggota komunitas terkait dengan riset kesehatan dan medis terbaru yang cukup real-time.
Panduan klinis yang usang menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan. Di karenakan keterlambatan sekecil apapun dapat menghambat respons terhadap kondisi darurat, seperti pandemi atau wabah lokal.
Untuk menyusun peta jalan ini, Monash menggelar dua lokakarya pada tahun 2025 bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Cochrane. Yaitu jaringan nirlaba global penyedia info kesehatan tepercaya. Lebih dari 70 perwakilan sektor kesehatan dari Australia, Tiongkok, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Korea Selatan, Swis. Dan tak ketiggalan Thailand hadir dalam kegiatan tersebut.
Proyek regional berskala besar ini mengidentifikasi berbagai kebutuhan, hambatan, dan faktor pendukung. Guna menghadirkan bukti riset kesehatan serta medis yang di perbarui secara berkesinambungan untuk para pengambil keputusan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.
Hasil dari lokakarya tersebut tertuang dalam sebuah laporan ilmiah baru bertajuk Co-designing a Living Evidence Architecture: Understanding the needs of South-East Asia and the Western Pacific. Laporan ini menjelaskan bagaimana platform bukti ilmiah di bidang kesehatan berbasis AI yang di koordinasikan secara regional dapat meningkatkan akses terhadap riset kesehatan terkini.
Inisiatif ini di pimpin oleh Australian Living Evidence Collaboration (ALEC) dari Monash. Yakni kolaborasi penyedia bukti kesehatan yang berkesinambungan (living evidence) di Australia. Bersama dengan Fakultas Seni, Desain, dan Arsitektur (MADA) dan Fakultas Teknologi Informasi (FIT) di kampus pusat Monash di Australia. Serta juga Monash University, Indonesia.
Profesor Tari Turner, Direktur ALEC. Menyebut living evidence sebagai infrastruktur baru untuk pengetahuan kesehatan yang mampu berkembang. Seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kemampuan kita untuk menyesuaikan dengan kondisi lokal.
Profesor Indah Suci Widyahening dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menegaskan bahwa dokter dan pasien membutuhkan panduan yang dapat di percaya.
Associate Professor Leah Heiss, pemimpin co-design dari MADA, mengatakan bahwa riset yang di pimpin secara regional ini menempatkan Australia di garis terdepan dalam merancang ulang cara dunia memanfaatkan bukti ilmiah untuk meningkatkan health outcome.
Associate Professor Grace Wangge dari program Master of Public Health, Monash University, Indonesia, mengatakan bahwa inisiatif ini akan menyoroti bukti ilmiah di bidang kesehatan dan praktik medis terbaik dari Asia Tenggara.
Profesor John Grundy dari Fakultas Teknologi Informasi, Monash University Australia, mengatakan bahwa AI yang di kembangkan secara lokal dan etis sangat penting bagi kedua kawasan.
Setelah peta jalan teknologi selesai, tim proyek akan secara aktif mencari pendanaan untuk mendukung pengembangan, pengujian. Dan juga penerapan platform tersebut di seluruh kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.
Di danai oleh Monash University 2025 Incubator Program. Inisiatif ini membangun fondasi bagi Living Evidence Architecture (LEA) regional. Yakni sebuah visi jangka panjang untuk mempercepat penerjemahan hasil riset kesehatan ke dalam kebijakan dan praktik lintas negara.
(***)
