
trenddjakarta.com, JAKARTA– Upaya peningkatan atas kesiapsiagaan bencana Dan ketahanan komunitas perlu di lakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dar pemimpin, pelaksanaan lapangan, masyarakat hingga anak muda. Hal tersebut di sampaikan dalam kegiatan “Ruang Cerita Daring – Berangkat Bareng, Bangkit Bersama Untuk Kemanusiaan” pada Kamis, 08/01/2025 di Jakarta. Hadir saat acara, yaitu Ahmad Lukman bagian dari DMC Dompet Dhuafa, Dimas Dwi Pangestu CEO Youth Ranger Indonesia. Dan juga Slamet Widodo Relawan Ambulance Dompet Dhuafa Yogyakarta. Dan yang membahas mitigasi bencana dan pemberdayaan pemuda berbasis komunitas.
Narasumber pertama di sampaikan kepada Lukman yang menegaskan bahwa penentuan jalur evakuasi dan titik kumpul tidak boleh di lakukan secara sepihak. Seluruh pihak terkait perlu menyepakati keputusan secara kolektif. Agar langkah yang di ambil dapat di jalankan oleh semua unsur di lapangan. “Penentuan titik kumpul dan jalur evakuasi harus di sepakati bersama. Tidak boleh hanya satu pihak, sementara masukan dari unsur lain seperti petugas keamanan di abaikan” ujar Lukman.
Selain perencanaan, Lukman menekankan pentingnya langkah praktis melalui latihan rutin. Seperti simulasi evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama. Menurutnya, kesiapsiagaan lebih efektif jika di bangun secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Dalam kesempatan yang sama. Dimas Dwi Pangestu memaparkan peran strategis pemuda dalam membangun ketahanan sosial dan keberlanjutan komunitas. Dan sekaligus memperkenalkan komunitas Youth Ranger Indonesia. Yaitu sebuah wadah pengembangan potensi pemuda yang hadir di 34 provinsi dan berfokus pada pelatihan, pendampingan, serta penciptaan pemuda penggerak di daerah.
“Anak muda Indonesia tidak pernah kekurangan potensi dan kreativitas. Yang masih kurang adalah akses dan sosok pendamping yang mampu mengarahkan potensi tersebut agar berkembang dan berdampak,” ujar Dimas
Dimas menekankan bahwa keberhasilan sebuah program sosial tidak di ukur dari besarnya acara atau jumlah peserta. Melainkan dari keberlanjutan program dan partisipasi aktif masyarakat setelah kegiatan di laksanakan. Ia juga mendorong penerapan konsep pentahelix framework. Dan yang melibatkan lima sektor di Pemerintahan, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta. Yang bertujuan agar program yang di jalankan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Ia juga membagikan pengalamannya saat terjun langsung bersama Dompet Dhuafa dalam penyaluran bantuan dan pelaksanaan pendidikan darurat di Aceh. Selain distribusi logistik, tim juga melakukan trauma healing, layanan kesehatan gratis, penyediaan air bersih. Serta pendampingan psikososial bagi anak-anak dan warga terdampak. Menurutnya, bantuan kebencanaan perlu di rancang berdasarkan asesmen kebutuhan agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Sementara Itu, Slamet Widodo atau yang sering di sapa Dodo, selaku Relawan Ambulance Dompet Dhuafa Yogyakarta, membagikan kisah personal yang melatarbelakangi keputusannya menjadi relawan. Dodo mengungkapkan bahwa langkahnya tersebut berawal dari nazar ketika anaknya jatuh sakit, sehingga tergerak hatinya menjadi seorang relawan.
“Waktu anak saya kecil, sering masuk rumah sakit, jadi saya termotivasi ingin membantu sesama, atau menolong orang” tuturnya.
Dodo juga membagikan pengalamannya selama terlibat dalam berbagai aksi kebencanaan. Menurutnya, setiap aksi selalu meninggalkan kesan yang berbeda dan menghadirkan pengalaman baru yang berharga.
“Semua aksi yang saya jalankan itu berkesan. Setiap aksinya memiliki hal baru atau pengalaman baru bagi saya. Bahkan hal ini terkesan sangat mengasyikkan dan juga mewah karena bisa membantu orang lain secara langsung” ujarnya.
Namun demikian, tantangan muncul ketika terjadi lebih dari satu kejadian darurat dalam waktu yang bersamaan. Pada kondisi tersebut, relawan ambulans harus menentukan skala prioritas berdasarkan tingkat kedaruratan dan jarak tempuh lokasi kejadian. Jika kejadian yang lebih darurat berada di lokasi yang jauh, koordinasi dengan tim ambulans terdekat menjadi langkah yang di lakukan agar penanganan tetap dapat berlangsung secara cepat dan tepat.
Ketiga narasumber sepakat bahwa ketahanan komunitas dapat di bangun melalui langkah-langkah sederhana yang di rencanakan dengan baik. Dan yang di lakukan secara partisipatif, dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor, penguatan peran pemuda, serta dedikasi relawan kemanusiaan di nilai menjadi kunci penting dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh menghadapi risiko bencana.(***)







