
trenddjakarta.com – Kisah mengenai Batu Angkek-Angkek di wariskan secara turun-temurun melalui cerita lisan dari generasi ke generasi. Menurut sejarah yang di percaya masyarakat setempat, sekitar 600 tahun yang lalu nenek moyang dari Nagari Pariangan mendirikan sebuah perkampungan baru bernama Kampung Palagan. Seperti tradisi Minangkabau pada umumnya, pendirian rumah gadang selalu di awali dengan doa bersama dan ritual adat. Dan yang terutama saat memasang tonggak tuo atau tiang utama rumah gadang.
Ketika tonggak utama hendak di pancang, masyarakat menemukan benda keras di tanah. Selama 14 hari, kejadian aneh terjadi. Yaitu suara seperti petir di siang hari, gempa kecil setiap hari, dan hujan panas tanpa henti. Masyarakat menganggapnya pertanda mistis.
Pada hari ke-15, para tetua kampung sepakat menghentikan pembangunan. Namun suara gaib memberi izin untuk melanjutkan dengan syarat kampung di namakan Palagan. Masyarakat pun menemukan dua batu unik, hitam dan emas, dengan lafaz Allah dan Muhammad. Satu batu di ambil, yang lain hilang ke dalam tanah. Batu yang tersisa di hormati dan di namai Batu Angkek-Angkek atau Batu Pandapatan.
Keunikan Batu Angkek-Angkek
Batu Angkek-Angkek tidak seperti batu biasa. Keanehan utamanya terletak pada berat yang berubah-ubah setiap kali di angkat. Seorang anak kecil kadang dapat mengangkatnya dengan mudah, sementara orang dewasa yang kuat justru kesulitan. Fenomena ini membuat banyak orang percaya bahwa batu tersebut menyimpan pesan filosofis mendalam.
Masyarakat memaknainya sebagai simbol bahwa kekuatan batin, tekad, dan keyakinan sering kali lebih berperan daripada kekuatan fisik semata. Sejak dahulu, batu ini di jadikan media motivasi dan sugesti. Konon, ketika seseorang berhasil mengangkatnya dengan niat tulus, ia merasa lebih percaya diri untuk mewujudkan cita-citanya.
Makna Filosofis Batu Angkek-Angkek
Meski banyak yang percaya bahwa mengangkat Batu Angkek-Angkek bisa mengabulkan semua keinginan. Sejatinya makna yang terkandung jauh lebih dalam. Batu ini bukan sekadar benda mistis, melainkan simbol perjuangan hidup.
- Jika terasa ringan saat di angkat, itu memberi pesan agar kita terus bersemangat dan tidak ragu berusaha meraih cita-cita.
- Jika terasa berat, itu menandakan bahwa setiap impian membutuhkan kerja keras, waktu, dan kesabaran.
- Jika tidak terangkat sama sekali, itu berarti akan ada rintangan dan masalah yang harus di hadapi sebelum meraih keberhasilan.
Dengan demikian, Batu Angkek-Angkek mengajarkan bahwa dalam hidup selalu ada jalan, perjuangan, dan tantangan. Yang terpenting bukanlah mengandalkan kekuatan fisik semata. Melainkan niat, tekad, dan keyakinan yang tulus.
Rute Menuju Batu Angkek-Angkek
Objek wisata ini terletak di Nagari Balai Tabuh, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Dari Kota Padang, jaraknya sekitar 110 kilometer. Sementara dari Kota Batusangkar, lokasi dapat di tempuh sekitar 20 menit dengan jarak kurang lebih 7,5 kilometer. Jika berangkat dari Istana Pagaruyung, jaraknya sekitar 11 kilometer.
Sejak tahun 1980, Batu Angkek-Angkek telah di tetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah Sumatra Barat. Kini, tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata populer di Tanah Datar. Dan sering di kunjungi wisatawan yang tertarik dengan sejarah, budaya, maupun nuansa mistis Minangkabau.
Ditulis oleh:
Mega Adyna Movitaria, M.Pd., lahir di Tanah Datar, Sumatera Barat. Lulusan Universitas Bung Hatta dan Universitas Negeri Padang, ia adalah dosen di UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Fokusnya pada Pembelajaran IPA dan media inovatif.
(***)






