
trenddjakarta.com – Monumen Nasional, atau yang lebih akrab di sapa Monas, adalah lebih dari sekadar tugu menjulang tinggi di tengah Jakarta. Ia adalah lambang semangat juang, saksi bisu sejarah, dan mahakarya arsitektur yang menyatukan estetika, filosofi, dan nasionalisme dalam satu titik sentral: Lapangan Medan Merdeka. Tugu ini di mahkotai lidah api yang di lapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan dari rakyat Indonesia.
Mimpi Besar Seorang Proklamator
Pasca Ibu Kota Republik Indonesia kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada tahun 1950, Presiden Soekarno mengusulkan pembangunan Monumen Nasional (Monas) sebagai simbol kebanggaan bangsa. Monas di rancang sebagai penanda perjuangan kemerdekaan Indonesia dan inspirasi untuk generasi mendatang.
Upaya merealisasikan mimpi itu di mulai dengan sayembara desain nasional. Sayembara pertama di gelar tahun 1955, namun meski desain Frederich Silaban mendapat pujian, Presiden Soekarno merasa masih kurang “berjiwa Nusantara.”
Perjalanan Ide hingga Bentuk Nyata
Sayembara kedua pada tahun 1960 melibatkan lebih dari 200 peserta. Meskipun hasilnya mengesankan, tidak ada desain yang memuaskan proklamator. Akhirnya, Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono di pilih untuk bekerja sama.
Rancangan Monas tidak lepas dari simbolisme kemerdekaan Indonesia. Tinggi cawan dari halaman mencapai 17 meter, lebar dasar monumen 8 meter, dan lebar halaman cawan 45 meter. Ketiga angka ini secara simbolis mewakili tanggal 17 Agustus 1945 — hari bersejarah ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Apa yang Bisa Di nikmati di Monas?
Kini, Monas tidak hanya berfungsi sebagai landmark ikonik Jakarta, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang mengedukasi dan menginspirasi. Di puncak Monas, terdapat Lidah Api Kemerdekaan, sebuah mahkota berbentuk api abadi yang di lapisi emas murni seberat 35 hingga 72 kilogram. Api ini melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang tak pernah padam.
Di bagian cawan monumen, pengunjung dapat menemukan Ruang Kemerdekaan, sebuah ruangan berbentuk amfiteater yang menyimpan benda-benda bersejarah seperti naskah asli Proklamasi, lambang negara, dan peta wilayah Indonesia dalam suasana yang sakral.
Sementara itu, di bagian dasar monumen, berdiri Museum Sejarah Nasional yang menampilkan 51 diorama perjalanan bangsa, mulai dari zaman prasejarah hingga era pembangunan nasional.
Simbol, Ruang, dan Napas Kota
Mengelilingi bagian luar monumen, terdapat Relief Sejarah Nusantara yang menggambarkan epos perjuangan bangsa Indonesia, mulai dari masa kejayaan kerajaan Majapahit, perlawanan terhadap penjajah, hingga detik-detik proklamasi kemerdekaan.
Tak ketinggalan, Taman Monas yang membentang seluas 80 hektar menghadirkan suasana hijau dan asri, lengkap dengan koleksi pohon-pohon dari berbagai provinsi, kolam air mancur yang menawan, serta area bermain yang ramah untuk keluarga. Dengan udara segar yang menyelimuti, pengunjung dapat bersantai di bawah rindangnya pepohonan atau menikmati piknik bersama keluarga. Taman ini juga sering menjadi lokasi berbagai kegiatan komunitas, seperti yoga pagi, senam bersama, dan pertunjukan musik. (***)
Ditulis oleh:
Empat Patonah, lahir di Subang pada 28 Desember 1980. Ia adalah seorang pembelajar sejati yang menyukai petualangan untuk memperoleh ilmu untuk mencapai kebahagiaan sejati melalui perjalanan hidup yang bermakna.






