
trenddjakarta.com – Siapa yang tidak kenal dengan terasi, khususnya rakyat Indonesia? Tentu semua mengenal bumbu dapur yang beraroma tajam ini. Yang kini menjadi pelengkap wajib sambal di meja makan kita. Tetapi perlu di ketahui akar sejarahnya. Yang bisa di katakan memiliki sejarah lintas samudra hingga ke China pada abad ke-15. Nama terasi sendiri di percaya berasal dari kata ter-asih yang berarti sangat di sukai atau di cintai. Asal-usul etimologis ini merujuk pada ketertarikan mendalam para bangsawan pada masa itu terhadap cita rasa gurih alami yang di hasilkan dari fermentasi udang rebon. Sebuah kelezatan otentik yang selalu berhasil memikat lidah siapa saja yang mencicipinya.
Keberadaan bumbu legendaris ini tidak bisa di lepaskan dari sosok penciptanya. Yaitu Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana, putra sulung Prabu Siliwangi sekaligus pendiri Kesultanan Cirebon. Saat membuka pedukuhan di pesisir Lemahwungkuk, sang pangeran memanfaatkan melimpahnya udang rebon dengan cara merebus, menumbuk. Dan memfermentasikannya hingga menjadi pasta padat. Menariknya, aktivitas pengolahan sisa air rebusan udang (ci) dan udang kecil (rebon) inilah yang kelak melahirkan nama kota Cirebon. Sementara produk terasinya menjadi upeti yang sangat di gemari di Kerajaan Pajajaran.
Gema kelezatan mahakarya Pangeran Cakrabuana ini kian meluas hingga menarik perhatian Laksamana Cheng Ho. Yaitu penjelajah Muslim legendaris dari China, saat armadanya merapat ke tanah Jawa. Terpikat oleh aroma dan kelezatan unik pasta udang tersebut, lalu beliau membawa terasi Cirebon sebagai buah tangan berharga dalam perjalanannya kembali ke daratan Tiongkok. Di mana untuk di perkenalkan langsung di lingkungan istana kekaisaran Dinasti Ming.
Hingga kini, terasi tetap menjadi warisan rasa yang abadi sekaligus bukti nyata bahwa kreativitas kuliner nusantara. Dan yang telah memiliki daya pikat global sampai menembus batas antar bangsa sejak ratusan tahun lalu.
(Td/L)







