
trenddjakarta.com – Survei Global Workforce Hopes and Fears 2025 dari PwC menemukan bahwa 69% pekerja Indonesia menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam setahun terakhir, sementara 16% mengaku menggunakan GenAI setiap hari. Di antara pengguna harian GenAI, 96% melaporkan peningkatan produktivitas, di bandingkan dengan 75% pengguna yang jarang memakainya. Temuan ini menyoroti potensi AI dalam meningkatkan produktivitas. Yang sekaligus memunculkan pertanyaan penting bagi dunia usaha. Bagaimana keuntungan ini dapat di terjemahkan menjadi nilai bisnis yang terukur dan berkelanjutan? Adopsi AI hanyalah titik awal. Tantangan berikutnya adalah membuktikan nilai nyata yang di hasilkan dari adopsi tersebut.
Investasi teknologi secara tradisional di nilai melalui indikator yang khusus berkaitan dengan TI. Seperti waktu aktif sistem (uptime), ketersediaan infrastruktur, atau waktu penyelesaian insiden. Metrik ini tetap penting, tetapi para pemimpin TI kini semakin di tuntut untuk menghubungkannya dengan hasil yang berarti bagi seluruh lini bisnis.
Penyelesaian insiden TI yang lebih cepat dapat berarti berkurangnya waktu henti (downtime) bagi karyawan. Pemantauan proaktif dapat membantu mencegah gangguan sebelum berdampak pada pelanggan. Otomatisasi tugas yang berulang dapat membebaskan tim TI agar bisa fokus pada inisiatif yang bernilai lebih tinggi.
Pergeseran ini semakin terlihat dalam cara organisasi mengelola TI, menurut ManageEngine, divisi manajemen TI perusahaan dari Zoho Corporation. Seiring dunia usaha mengadopsi AI berdampingan dengan layanan cloud, otomatisasi, dan lingkungan teknologi yang semakin tersebar. Para pemimpin TI di minta untuk menunjukkan bukan hanya apakah teknologi berfungsi, tetapi juga seberapa efektif teknologi tersebut mendukung kinerja bisnis.
“Seiring adopsi AI yang semakin cepat, pembicaraan kini bergerak melampaui seberapa cepat organisasi dapat menerapkan teknologi baru menuju seberapa efektif mereka mengubahnya menjadi hasil bisnis yang terukur.” Ujar Hanief Bastian, technical manager, ManageEngine.
“Hal ini menuntut tim TI untuk memiliki visibilitas yang lebih luas di seluruh lingkungan mereka, mengurangi kompleksitas operasional, dan memastikan investasi teknologi selaras dengan kebutuhan bisnis. Pendekatan manajemen TI yang terpadu dapat membantu organisasi membangun fondasi tersebut. Sehingga mereka dapat meningkatkan efisiensi operasional saat ini. Dan sekaligus menciptakan kelincahan yang di butuhkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.” Ungkapnya lagi.
Ekspektasi yang berubah ini mencerminkan evolusi yang lebih luas dalam peran TI. Tim teknologi tidak lagi bertanggung jawab semata-mata menjaga infrastruktur tetap beroperasi. Mereka kini semakin di harapkan berkontribusi pada produktivitas, optimalisasi biaya, ketahanan, dan pertumbuhan.
Namun, mewujudkan hasil-hasil ini menjadi semakin sulit seiring lingkungan TI yang kian kompleks.
Karyawan bergantung pada beragam aplikasi dan perangkat, sementara dunia usaha beroperasi di lingkungan cloud, on-premises, dan hybrid. AI dan otomatisasi menambah lapisan baru pada ekosistem yang sudah saling terhubung.
Ketika sistem di kelola secara terpisah (silo), masalah sederhana sekalipun bisa menjadi sulit di diagnosis. Sebagai contoh, karyawan yang tidak dapat mengakses sebuah aplikasi mungkin menghadapi masalah pada aplikasi itu sendiri, atau pada jaringan, endpoint, autentikasi, atau infrastruktur yang mendasarinya.
Visibilitas yang terbatas dapat memperlambat penyelesaian dan menyulitkan tim TI memahami dampak yang lebih luas dari sebuah insiden. Konsekuensinya melampaui ranah TI; masalah yang tidak terselesaikan dapat menurunkan produktivitas karyawan, mengganggu pengalaman pelanggan, dan menimbulkan biaya yang tidak perlu.
Di sinilah manajemen TI terpadu menjadi semakin relevan. Organisasi dapat beralih dari mengelola teknologi sebagai komponen yang terpisah-pisah dengan menghadirkan visibilitas yang lebih luas di seluruh endpoint, jaringan, aplikasi, infrastruktur, dan operasi layanan TI.
Bagi ManageEngine, pendekatan yang lebih terpadu dapat membantu tim TI mengidentifikasi masalah lebih dini, mengotomatiskan proses yang berulang, meningkatkan penyampaian layanan, serta mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang lebih menyeluruh atas lingkungan teknologi mereka.
Nilai ini menjadi sangat relevan saat AI mulai terintegrasi ke dalam operasi TI. AI dapat membantu mengenali pola, mengotomatiskan proses rutin, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, tetapi efektivitasnya bergantung pada lingkungan operasional di sekitarnya. Wawasan menjadi lebih sulit di terjemahkan menjadi tindakan ketika data dan proses terfragmentasi.
Dengan visibilitas dan integrasi yang lebih baik, organisasi dapat menerapkan AI dan otomatisasi pada tantangan operasional yang nyata serta mengukur dampaknya secara lebih efektif, sehingga bergeser dari sekadar menggunakan AI menjadi memanfaatkan AI untuk memperbaiki cara bisnis beroperasi.
Bagi Indonesia, implikasinya melampaui masing-masing organisasi. Seiring negara ini memperkuat kapabilitas digitalnya dan mengejar pertumbuhan ekonomi. Dunia usaha perlu memastikan bahwa investasi pada AI dan teknologi yang sedang berkembang dapat di terjemahkan menjadi peningkatan produktivitas yang nyata. Serta daya saing yang lebih kuat.
Karena itu, keunggulan kompetitif berikutnya mungkin tidak datang dari sekadar mengadopsi lebih banyak teknologi. Keunggulan itu bisa jadi justru datang dari mengelola teknologi secara lebih cerdas.
Pada akhirnya, keberhasilan AI tidak ditentukan oleh adopsi semata, melainkan oleh nilai yang diciptakannya. Menghadirkan nilai tersebut membutuhkan lebih dari sekadar teknologi cerdas. Dibutuhkan pula operasi TI yang lebih pintar dan terpadu untuk mengubah inovasi menjadi kinerja bisnis yang terukur.
(***)





