
trenddjakarta.com, Bandung, 28 Agustus 2026 — Di balik keindahan pegunungan yang mengelilingi Bandung ada sebuah paradoks: kawasan ini berada di tengah lanskap geologi yang dinamis dengan risiko yang nyata. Lebih dari sembilan juta orang tinggal di Kawasan Metropolitan Bandung. Yang kita ketahui berdekatan dengan Sesar Lembang dan sejumlah gunung api aktif, seperti Tangkuban Parahu, Guntur, Papandayan, dan Galunggung. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya risiko geologi yang berkaitan dengan Sesar Lembang. Sementara posisi Bandung yang berada di dekat Tangkuban Parahu dan sejumlah gunung api lainnya juga menjadi bagian dari karakter lingkungan alam kawasan ini yang dinamis.
Memahami kondisi tersebut penting bukan untuk menimbulkan kekhawatiran, melainkan untuk membantu masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesadaran, memperkuat kesiapsiagaan. Serta juga merencanakan resiliensi berdasarkan pengetahuan ilmiah.
Sejumlah penelitian sebelumnya telah menunjukkan risiko geologi yang berkaitan dengan Sesar Lembang. Di saat yang sama, keberadaan Tangkuban Parahu dan gunung api lain di sekitar Bandung juga menjadi bagian dari karakter alam kawasan ini. Penting untuk memahami kondisi tersebut. Akan tetapi bukan dengan tujuan menimbulkan kekhawatiran, melainkan untuk membantu masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesadaran, memperkuat kesiapsiagaan. Dan juga membangun resiliensi berdasarkan pengetahuan ilmiah.
Pemerintah Kota Bandung juga melihat perlunya pemahaman yang lebih baik terhadap risiko tersebut. Menjawab hal ini, British Geological Survey (BGS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menginisiasi penelitian yang memberikan dukungan ilmiah. Untuk memahami paparan terhadap risiko geologi sekaligus memperkuat kesiapsiagaan bencana dan perencanaan resiliensi perkotaan.
Penelitian bertajuk Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia ini menggabungkan keahlian di bidang geosains, observasi bumi berbasis satelit, kecerdasan buatan, analisis demografi, pemodelan perkotaan. Serta pelibatan masyarakat untuk mendapatkan gambaran risiko yang lebih menyeluruh. Kolaborasi antara peneliti Inggris dan Indonesia tersebut di danai bersama oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek RI). Dan juga British Council yang melalui International Science Partnerships Fund (ISPF).
Agar dampaknya tidak berhenti di lingkungan akademik. Pengetahuan dari penelitian ini juga di bawa kepada publik melalui pameran Setanah, Tak Diam. Pameran tersebut di hadirkan melalui kolaborasi Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Gamma Metrics. Yang dengan dukungan The Toyota Foundation dan Kemendiktisaintek RI.
Pameran ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk membuat pengetahuan ilmiah mengenai risiko geologi semakin mudah di akses masyarakat. Setanah, Tak Diam menghadirkan keahlian Dr Ekbal Hussain (British Geological Survey), Dr Endra Gunawan (ITB), Dr Rahma Hanifa (BRIN), Dr Prasanti Widyasih Sarli (ITB), serta Dr Prananda Luffiansyah Malasan (ITB dan kurator di Selasar Sunaryo).
Berlangsung mulai 28 Agustus 2026 hingga Januari 2027, Setanah, Tak Diam juga akan menghadirkan rangkaian program publik berupa kuliah, lokakarya, diskusi, dan kegiatan bersama komunitas. Program-program ini di harapkan membuka percakapan yang lebih luas mengenai risiko geologi, resiliensi, serta bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan lanskap Bandung yang terus bergerak dan berubah. Dengan mempertemukan sains, seni, budaya, dan pengalaman masyarakat, pameran ini membuka cara yang lebih dekat, relevan, dan bermakna bagi publik untuk berinteraksi dengan penelitian.
Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia, mengatakan. “British Council bangga mendukung kemitraan yang mempertemukan para peneliti berbakat, institusi, dan masyarakat untuk menjawab tantangan yang berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana keahlian dari Inggris dan Indonesia dapat menghasilkan pengetahuan baru, memperkuat generasi peneliti berikutnya. Serta membangun hubungan jangka panjang yang terus memberikan dampak bahkan setelah proyek ini berakhir.”
Memahami Risiko dan Siapa yang Paling Terpapar
Proyek penelitian Exposed berfokus pada tiga area yang saling berkaitan untuk membantu Bandung memahami risiko geologi dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Pertama, para peneliti mempelajari berbagai risiko geologi yang dapat memengaruhi Bandung beserta potensi dampaknya. Penelitian ini bukan bertujuan memprediksi kapan suatu peristiwa akan terjadi. Melainkan menyediakan bukti ilmiah yang dapat di gunakan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mendukung perencanaan resiliensi dalam jangka panjang.
Kedua, penelitian melihat masyarakat, infrastruktur, dan wilayah mana yang berpotensi lebih terpapar. Dengan menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata di tempat masyarakat tinggal dan bekerja. Hasil penelitian di harapkan dapat mendukung perencanaan yang lebih relevan dan tepat sasaran.
Ketiga, resiliensi masyarakat menjadi bagian penting dari penelitian. Tim peneliti bekerja langsung bersama masyarakat untuk memahami pengalaman dan perspektif lokal, meningkatkan kesadaran, serta mengeksplorasi pendekatan kesiapsiagaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Sesar Lembang, misalnya, tidak hanya di tempatkan sebagai penerima informasi. Pengalaman dan pengetahuan lokal mereka memberikan perspektif penting mengenai bagaimana risiko di pahami dan di hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempertemukan pengetahuan ilmiah dan pengalaman masyarakat, perencanaan kesiap-siagaan di harapkan dapat semakin relevan dengan situasi nyata di lapangan.
Dr Endra Gunawan, Indonesian Project Lead dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa penelitian ini tidak hanya berupaya memahami sumber bahaya, tetapi juga bagaimana risiko tersebut bersinggungan dengan kehidupan masyarakat.
“Yang penting bagi kami bukan hanya memahami di mana bahaya dapat terjadi dan seberapa besar potensinya. Tetapi juga mengidentifikasi siapa dan apa yang paling terpapar serta bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat dan pemerintah mempersiapkan diri secara lebih efektif. Kolaborasi kami dengan BGS dan para mitra lainnya memungkinkan kami menggabungkan keahlian di bidang geosains, teknologi, analisis sosial, dan pengetahuan lokal untuk memperoleh gambaran risiko yang lebih utuh. Pada saat yang sama, pertukaran pengetahuan antara peneliti Indonesia dan Inggris menjadi kesempatan berharga. Di mana untuk memperkuat kapasitas riset kami dalam menjawab tantangan terkait kebencanaan di masa mendatang,” ujar Dr Endra.
Dalam rangkaian riset dan sosialisasi ini, Pemerintah Kota Bandung memegang pula perananan yang penting.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey mengatakan.
“Inggris dan Pemerintah Kota Bandung bekerja bersama untuk mempercepat transisi menuju net zero. Dan memperkuat resiliensi masyarakat melalui aksi iklim, sains, dan inovasi. Inggris merupakan mitra jangka panjang bagi Jawa Barat. Dan kami berkomitmen untuk mendorong investasi dan infrastruktur hijau, memperkuat kolaborasi di bidang sains dan inovasi. Serta juga memberdayakan generasi muda melalui pendidikan. Kerja sama yang kami lakukan di Bandung dan Jawa Barat berkontribusi terhadap implementasi yang lebih luas dari Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia. Yang dalam prioritas bersama di bidang Iklim dan Energi, serta Masyarakat. Kami akan terus memperdalam kemitraan dengan Indonesia untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Mengatasi tantangan iklim dan menghadirkan kesejahteraan bagi kedua negara.”
Membawa Pengetahuan Keluar dari Laboratorium
Pengetahuan mengenai risiko baru akan memberikan dampak yang berarti ketika dapat di pahami dan di manfaatkan oleh masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko tersebut. Prinsip inilah yang di wujudkan melalui Setanah, Tak Diam. Yaitu pameran yang resmi di buka di Bandung sebagai salah satu bentuk pelibatan publik dalam kolaborasi ini.
Setanah, Tak Diam mengeksplorasi risiko lingkungan dan geologi dengan mempertemukan sains, seni, budaya, storytelling, dan pengalaman masyarakat. Konsep-konsep ilmiah yang kompleks diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih dekat dan mudah dipahami publik, tanpa kehilangan konteks ilmiahnya.
Tujuannya bukan untuk menimbulkan ketakutan terhadap gempa bumi atau aktivitas gunung api. Sebaliknya, pameran ini mengajak masyarakat untuk lebih memahami tempat tinggal mereka. Menyadari bahwa bumi terus bergerak dan berubah, serta memandang pengetahuan sebagai salah satu landasan penting bagi kesiapsiagaan
Pameran ini juga menciptakan ruang bagi masyarakat, praktisi, peneliti, perwakilan pemerintah, jurnalis, dan publik luas. Di mana untuk bertemu, berdiskusi, dan berinteraksi dengan berbagai isu mengenai risiko geologi, resiliensi, serta bagaimana hidup di tengah bentang alam yang dinamis.
Dalam konteks tersebut, Setanah, Tak Diam menjadi salah satu perwujudan penting dari penelitian Exposed. Dan membawa data dan analisis keluar dari ruang akademik dan menghubungkannya kembali dengan masyarakat yang hidup di lanskap yang menjadi bagian dari penelitian.
Bagi British Council, proses ini mencerminkan tujuan yang lebih luas dari kolaborasi ilmiah internasional. Yaitu mempertemukan keahlian untuk menjawab tantangan yang muncul dari kebutuhan lokal, memperkuat ekosistem riset, membangun hubungan jangka panjang antara Inggris dan Indonesia. Serta memastikan pengetahuan ilmiah dapat berkontribusi pada pengambilan keputusan dan tindakan nyata.
Summer menambahkan bahwa dampak sebuah kolaborasi riset tidak berhenti ketika penelitian itu selesai.
“Pengetahuan menjadi lebih bernilai ketika dapat dibagikan, dipahami, dan digunakan. Setanah, Tak Diam menunjukkan bagaimana sains, seni, dan suara masyarakat dapat bertemu untuk mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, dialog, dan aksi. Pada akhirnya, inilah esensi dari kolaborasi internasional: menghubungkan manusia dan gagasan untuk menciptakan perubahan positif.”
Di wilayah yang tanahnya tidak pernah sepenuhnya diam, memahami lingkungan tempat kita tinggal menjadi bagian penting dalam membangun resiliensi. Sains membantu kita memahami risiko, masyarakat membantu memberikan konteks, dan kolaborasi memungkinkan pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan untuk masa depan.
(***)




