
trenddjakarta.com, Jakarta, 22 September 2026 – Jakarta memasuki babak penting dalam pembangunannya dengan visi menjadi Top 20 Global City pada 2045, sekaligus menyongsong usia 500 tahun (Jakarta 500). Seiring dengan visi tersebut, Jakarta menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan saling berkaitan. Mulai dari infrastruktur, lingkungan, hingga aspek sosial dan ekonomi. Menjawab tantangan ini, Sampoerna University bersama Pusat Riset dan Inovasi Daerah (PRID) Bappeda Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan International Symposium “Towards Jakarta 500: Building a Resilient and Inclusive City”. Di mana untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam berbagi pengetahuan dan perspektif global. Serta merumuskan rekomendasi kebijakan lintas sektor yang berbasis riset dan studi kasus nyata bagi masa depan Jakarta.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut. Sampoerna University menjalankan perannya sebagai perguruan tinggi dalam menghadirkan perspektif berbasis pengetahuan dan riset mengenai masa depan Jakarta. Yang sekaligus menyediakan ruang untuk pertukaran pengetahuan dan kolaborasi melalui simposium ini.
Dr. Farid Triawan, Dekan Faculty of Engineering and Technology Sampoerna University sekaligus Symposium Chair, mengatakan.
“Sampoerna University merupakan bagian dari Jakarta, sehingga kami ingin turut berperan dalam menjawab tantangan dan membangun masa depan kota ini. Kami melihat perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk mengambil langkah proaktif melalui pengetahuan, riset, dan perspektif akademik yang di milikinya. Melalui simposium ini, kami tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga belajar dari berbagai perspektif yang hadir. Kami berharap keahlian dan riset yang kami bawa dapat memperkaya pembahasan. Serta menghasilkan insight yang relevan bagi pembangunan Jakarta, sekaligus mendukung cita-cita Jakarta menjadi kota global yang mampu menarik talenta terbaik.”
Maruhal Mangasi Tunas Sijabat selaku Kepala Pusat PRID Bappeda DKI Jakarta mengatakan.
“Menjadi kota global bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia, pengetahuan, dan ekosistem yang mendukung inovasi. Karena itu, penguatan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi menjadi salah satu bagian penting dalam meningkatkan daya saing Jakarta serta membangun fondasi menuju Jakarta 500. Kami optimis bahwa Jakarta dapat terus berkembang menjadi kota global yang semakin berdaya saing. Namun, pembangunan Jakarta bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kami mengajak seluruh warga Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan untuk ikut berpartisipasi membangun dan menjaga Jakarta. Di mana agar tetap menjadi kota yang nyaman dan menjadi rumah bagi semua.”
Dalam salah satu sesi keynote, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menjelaskan. Bahwa arah kebijakan riset dan inovasi Kemdiktisaintek kini mendorong riset berbasis permasalahan nyata, dengan setiap proposal perlu menunjukkan problem statement, relevansi terhadap kebutuhan daerah. Serta potensi penerapannya di dunia nyata. Pendekatan ini menempatkan perguruan tinggi sebagai motor inovasi yang perlu bekerja lebih dekat dengan pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan. Dan sekaligus mendorong pergeseran dari market fixing menuju market shaping melalui pembangunan ekosistem yang mampu mengantisipasi dan menyelesaikan persoalan sejak awal.
Melalui pertukaran pengetahuan dan perspektif selama simposium, berbagai gagasan yang muncul di harapkan dapat memberikan masukan bagi pembangunan Jakarta. Hasil diskusi akan di rangkum dalam Policy Recommendation dan Symposium Completion Report sebagai masukan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung pembangunan Jakarta yang semakin tangguh, inklusif, dan siap menghadapi masa depan.
(***)




