
trenddjakarta.com, Jakarta, 23 Oktober 2026 – Memasuki hari ketiga penyelenggaraannya, Jakarta Film Week 2026 menghadirkan beragam program yang mempertemukan perspektif tentang film anak dan keluarga, proses kreatif pembuat film, serta peluang kolaborasi di industri sinema.
Festival yang berlangsung 21–25 Oktober 2026 ini menampilkan 157 film dari 59 negara di sejumlah lokasi di Jakarta.
Jakarta Film Week 2026: Merawat Cerita Anak untuk Lintas Generasi
Program Cerita Anak Nusantara menghadirkan Pitching Session yang memberikan kesempatan kepada para kreator untuk mempresentasikan gagasan cerita mereka. Dari 499 ide cerita yang masuk, sebanyak 10 proyek terpilih untuk mengikuti sesi pitching.
Acara tersebut berlanjut dengan Industry Talk bertajuk Indonesian Family Films: From Time to Time. Dipandu oleh Putri Ayudya, diskusi ini menghadirkan Mira Lesmana, Riri Riza, Anggia Kharisma, Ryan Andriandhy, dan Edwin Nazir.
Dalam diskusi, Mira Lesmana dan Riri Riza merefleksikan pengalaman mereka menggarap Petualangan Sherina, ketika referensi film anak Indonesia masih terbatas. Sementara Anggia Kharisma membahas pendekatan dalam Na Willa yang melihat cerita melalui dua perspektif, yakni anak dan orang tua.
Film anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi titik awal percakapan antara orang tua dan anak mengenai pengalaman, emosi, dan cara memahami dunia
Jakarta Film Week 2026: Masterclass Neo Sora: The Wonder of Ideas
Di Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, sutradara dan produser Neo Sora berbagi pendekatan kreatifnya melalui masterclass The Wonder of Ideas: A Masterclass with Neo Sora. Program ini berkolaborasi dengan Japan Foundation. Dan Tumpal Tampubolon sebagai moderatornya.
Neo Sora membahas bagaimana pengalaman personal dan realitas sosial dapat menjadi sumber gagasan dalam pembuatan film, termasuk film Happyend (2024) dan konsep affect.
“Ketika membuat film saya memulai dari affect yang berasal dari pengalaman personal. Saya menggunakan berbagai teknik dalam sinema untuk merekonstruksi gagasan menjadi sesuatu yang utuh dan koheren,” ujar Neo Sora.
Ia juga membagikan kebiasaannya mencatat detail kecil sehari-hari yang bisa menjadi bahan mengembangkan karakter dan adegan film.
Industry Talks dan Peluang Kolaborasi Co-Production
Rangkaian Industry Talks di Mercure Jakarta Cikini membahas perkembangan cerita di berbagai medium melalui sesi Stories Beyond Medium.
“Every medium offers a different way of experiencing a story. As creators, we need to understand these changes and how they shape the way audiences engage with content,” ujar Titis Sapto Raharjo.
Sesi Find Your Ways to Co-Production membahas proses membangun kolaborasi dengan mitra yang tepat. Alexandra Zakharchenko menekankan bahwa ko-produksi tidak hanya soal pendanaan, tetapi juga pengembangan proyek dan perluasan jaringan.
Program lain adalah Filmmakers Lounge: Director to Director bersama IFDC dan sesi What Goes Unspoken? yang menghadirkan exclusive first look film Secrets, drama thriller Netflix Indonesia 2026 karya Ravi Bharwani.
Sorotan Film: Harga Teman Angkat Dinamika Pekerja Kreatif
Salah satu film yang menarik perhatian adalah Harga Teman, Wregas Bhanuteja memproduseri film panjang perdana dengan sutradara Andrew Kose melalui Rekata Studio. Harga teman terlahir dari novel karya Debora Danisa, yang berdurasi 117 menit. Ini mengikuti Uji, yaitu seorang desainer grafis dari Dieng yang membangun agensi kreatif dengan temannya.
Melalui komedi dan drama pertemanan, film ini mengangkat pengalaman pekerja kreatif.
“Gue pernah menghidupi itu sih, sebelum jadi filmmaker bertahun-tahun gue palu gada jadi fotografer, pernah di creative agency juga. Kebetulan pas baca bukunya, kerasa deket banget sama pengalaman gue,” ujar Andrew.“
Apa yang tersaji di film ini benar-benar beyond my expectations, dan ending-nya aku puas banget. Sesuai dengan visi aku,” tambah Debora Danisa.
(***)






