trenddjakarta.com, Rotterdam, 1 Februari 2024 – Whispers In the Dabbas (Nyanyi Sunyi Dalam Rantang) yang di sutradarai oleh Garin Nugroho, di tayangkan secara perdana pada gelaran festival bergengsi International Film Festival Rotterdam yang ke-54. Sebelumnya, beberapa karya Garin Nugroho seperti, Leaf on a Pillow (Daun Di Atas Bantal),
Opera Jawa dan Deadly Love Poem (Puisi Cinta Yang Membunuh) juga pernah berpartisipasi di International Film Festival Rotterdam.
Whispers In the Dabbas (Nyanyi Sunyi Dalam Rantang) kali ini masuk pada program Harbour di International Film Festival Rotterdam ke-54. Film yang terinspirasi dari kisah nyata beberapa kasus pengadilan dengan keputusan yang janggal. Mengisahkan tentang seorang pengacara muda bernama Puspa. Di perankan oleh Della Dartyan. Mengisahkan di sebuah kota kabupaten, yang berhadapan dengan kasus-kasus di pengadilan yang tidak berpihak pada keadilan rakyat kecil. Sebuah karya produksi Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative. Menunjukkan suatu peran penting film sebagai pendidikan politik dan pemberdayaan warga untuk kritis terhadap sistem pengadilan di negeri ini.
Film ini melengkapi keberagaman film Indonesia yang terseleksi dalam International Film Festival Rotterdam 2025 ini. Antara lain : “Gowok” di sutradarai oleh Hanung Bramantyo, “Perang Kota” di sutradarai oleh Mouly Surya. Dan “Midnight In Bali” di sutradarai oleh Razka Robby Ertanto.
Garin Nugroho mengatakan. “Film sebagai karya yang terbuka dan kritis dan di tuturkan secara personal. Dan akan selalu mendapat tempat di festival film dunia, terlebih karena film ini memiliki keberpihakan pada masyarakat.”
Fim ini di balut dengan drama, investigasi dan satir. Seperti di kutip dari laman social media Stefan Borsos (Programmer IFFR): “…its unassuming style investigates the Indonesian judicial system with a mix of melodrama and sharp. Black humour making the blatant injustice happening to the various characters at times almost unbearable. Less blatant, but still very visible and clear are the numerous references to 1965 raising questions about uncomfortable historical continuities.”
(***)







