
trenddjakarta.com – Selama ini dari 12 Tahun, pertumbuhan ekonomi Republik Indonesia (RI) berkutat atau stagnan di kisaran 5 persen. Di mulai dari 2014 jaman awal pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla, kemudian periode kedua Joko Widodo – KH. Ma’ruf Amin dan 1 tahun pemerintahan Presiden Praboowo Subianto – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 2025-2026.
Di beritakan kompas.id, 15 Februari 2025. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara konsisten berada di kisaran 5 persen (sering di sebut 5 percent growth trap) terutama sejak tahun 2014. Tren ini berlanjut selama satu dekade terakhir, termasuk pasca-pandemi. Yaitu dengan capaian 5,31 persen pada 2022, 5,05 persen pada 2023. Dan yang berlanjut ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% pada 2024, dan tumbuh 5,11% pada 2025.
Sementara Ekonomi Indonesia tahun 2026 di prediksi pertumbuhan berada di kisaran 4,9%–5,7% yoy. Pertumbuhan ini di topang oleh kuatnya permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, investasi, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Sektor hilirisasi SDA dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, dengan potensi pertumbuhan kuartal I-2026 mencapai 5,5%–6%. (Rilis Kemenkue, 27 Januari 2026).
Di sampaikan, Kemenkeu pada triwulan IV 2025, Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur berada di zona ekspansi. Dan yang berdasarkan survei S&P Global, penjualan ritel tumbuh positif. Dan yang juga neraca perdagangan mencatat surplus.
Pertumbuhan uang primer (M0) di Desember 2025 tercatat tinggi sebesar 11,4% yoy. Dan ini di pengaruhi oleh koordinasi pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter sejalan dengan stimulus fiskal Pemerintah di akhir tahun dan ekspansi likuiditas bank sentral. Penempatan kas negara di perbankan turut meningkatkan pertumbuhan M0 dan menurunkan biaya dana perbankan.
Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tercatat sebesar 9,6% yoy. Yang antara lain di pengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 di prakirakan berada di sekitar 5,2%.
Purbaya Optimis Ekonomi Kuartal I/2026 Tumbuh 6%
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara optimistis memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 6% kuartal I/2026, di dukung belanja APBN Rp809 triliun, melampaui prediksi sebelumnya 5,6%. Ia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2026 yakni mencapai 6%.
Pada acara Indonesia Economic Outlook 2026, Purbaya memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi Tanah Air pada 2025 akan berlanjut sampai dengan tahun ini. Pada tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11% dan khusus pada kuartal IV/2025 sebesar 5,39%.
“Momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat tahun 2025 akan terus berlanjut hingga tahun 2026. Prediksi kami di triwulan pertama, di triwulan pertama ekonomi kita bisa tumbuh antara 5,5% sampai dengan 6%,” terangnya di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Prediksi ini lebih tinggi dari yang sebelumnya sudah di sampaikan oleh Purbaya maupun jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Sebelumnya, dengan bantuan stimulus ekonomi Idulfitri 2026, otoritas fiskal memprediksi pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini mencapai 5,6%.
Menurut Purbaya, apabila target pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 sebesar 6% tercapai, maka Indonesia bisa keluar dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5%. Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu mengatakan, dorongan pencapaian target pertumbuhan ekonomi awal 2026 itu turut berasal dari belanja APBN yang di targetkan Rp809 triliun.
“Belanja negara di Q1 2026 ini akan mencapai Rp809 triliun. Kami juga melakukan dorongan investasi, dorongan konsumsi, percepatan MBG Rp62 triliun, ada belanja lain-lain serta paket stimulus Rp13 triliun. Jadi kami keluarkan semua belanja di triwulan pertama untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi masih akan berkelanjutan,” terangnya.
Adapun sepanjang tahun Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai kisaran 5,4% sebagaimana di targetkan APBN, hingga 6%. Prediksi pertumbuhan ekonomi ini melebihi yang di perkirakan Kemenko Perekonomian.
Menko Airlangga Hartarto Prediksi Tumbuh 5,4% sampai 5,6%
Pada acara yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi ekonomi Indonesia bisa tumbuh dalam rentang target 5,4% sampai dengan 5,6% pada 2026.
“Pertumbuhan ekonomi di targetkan di tahun 2026 5,4% dengan potensi hingga 5,6%,” terang Airlangga kepada Presiden Prabowo Subianto di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026), sebagaiman di lansir dari bisnis.com, Jumat (15/2/2026).
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Optimis 6%
Ekonomi Indonesia tahun 2026 di prediksi menguat dengan kisaran 4,9%–5,7% yoy. Pertumbuhan ini di topang oleh kuatnya permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, investasi, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Sektor hilirisasi SDA dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, dengan potensi pertumbuhan kuartal I-2026 mencapai 5,5%–6%. (Kementerian Keuangan RI, Januari 2026).
Poin-Poin Utama Prediksi Ekonomi Indonesia 2026:
Proyeksi Pertumbuhan: Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan di angka 4,9%–5,7%, sementara lembaga lain seperti Permata Bank memprediksi 5,1%–5,2%, dan APINDO memperkirakan 5%–5,4%.
Motor Penggerak Utama: Konsumsi rumah tangga di perkirakan tetap menjadi penyumbang terbesar (sekitar 53% PDB) karena daya beli yang stabil dan inflasi yang terkendali.
Investasi dan Hilirisasi: Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi akan meningkat, di dukung oleh hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA) dan proyek strategis.
Dukungan Pemerintah: Belanja APBN yang di percepat dan stimulus seperti Tunjangan Hari Raya (THR) di prediksi mendorong konsumsi pada kuartal I-2026.
Tantangan Eksternal: Meskipun optimis, ekonomi tetap di hadapkan pada risiko global, perlunya reformasi struktural, dan kesinambungan investasi. (CNBC Indonesia, 31 Desember 2025).
Secara keseluruhan, prospek ekonomi 2026 di nilai cerah dan menunjukkan tren positif pasca-2025.
Apa Kata Pengamat Ekonomi
Memasuki tahun baru 2026, delapan ekonom tanah air memperkirakan kondisi perekonomian Indonesia akan mengalami perbaikan, dengan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dari 2025.
Mereka menganggap konsumsi rumah tangga yang menjadi pendorong utama pertumbuhan, dengan porsi sekitar 53% terhadap produk domestik bruto (PDB) akan mengalami perbaikan. Di topang oleh kebijakan pemerintah yang tengah fokus memperbaiki daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan insentif, baik dari sisi fiskal maupun moneter.
Di sisi lain, komponen kedua terbesar, yakni pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga akan mengalami penguatan, d idukung sinyal makin gencarnya investasi yang porsinya 29,15% terhadap PDB. Lalu, kinerja ekspor yang memiliki porsi 22,18% PDB juga masih berpotensi terjaga dengan prospek iklim perdagangan dunia yang makin kondusif.
Percepatan Pertumbuhan
Delapan ekonom yang berasal dari institusi lembaga jasa keuangan hingga think tank kompak memperkirakan ekonomi Indonesia mampu mengalami percepatan pertumbuhan pada 2026, bila di bandingkan 2025.
Namun, mereka menganggap, laju pertumbuhannya tak akan secepat target pemerintah dalam UU APBN 2026 sebesar 5,4%. Bahkan, di antaranya mematok proyeksi pertumbuhan di kisaran bawah target pertumbuhan ekonomi pemerintah untuk 2025 yang sebesar 5,2%.
Tim ekonom BCA misalnya, di bawah kepemimpinan Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan, laju pertumbuhan PDB riil pada 2026 hanya akan tumbuh di kisaran 5,1%, sedikit lebih tinggi dari prospek pertumbuhan keseluruhan tahun ini sebesar 5%.
Daya dorongnya terletak pada stimulus fiskal dan moneter yang gencar di dorong pemerintah dan Bank Indonesia pada tahun itu, sehingga akan mendongkrak investasi dan konsumsi masyarakat. Namun, ada faktor penghambat pertumbuhan yang masih tak kunjung membaik dan menjadi masalah struktur, yakni lambatnya pertumbuhan pendapatan masyarakat.
“Prospek makroekonomi Indonesia di perkirakan akan mengalami perbaikan moderat pada 2026, di dukung oleh kebijakan fiskal ekspansif untuk meningkatkan konsumsi dan suku bunga pinjaman yang lebih rendah untuk merangsang investasi, meskipun masalah struktural di sektor rumah tangga akan terus membatasi momentum tersebut,” di kutip dari BCA 2026 Indonesia Economic Outlook, Selasa (30/12/2025).
Prospek pertumbuhan 5,1% juga di keluarkan oleh Ekonom CGS International Sekuritas Indonesia Wisnu Trihatmojo. Terutama karena tekanan PHK telah mereda hingga mampu mendorong daya beli masyarakat meski tingkat pendapatan masih rendah. Selain itu, laju investasi juga akan mampu terdorong oleh BPI Danantara.
Sementara itu Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 akan mampu ke atas level kisaran 5,1%-5,2% setelah laju pertumbuhan pada 2025 akan berada di kisaran 5%-5,1%.
Sedikit lebih cepatnya proyeksi laju pertumbuhan itu, kata Josua. Ini di sebabkan makin besarnya ruang penurunan suku bunga acuan BI yang berpotensi mendorong lebih cepat konsumsi dan investasi. Terutama karena terus terjaganya tekanan inflasi di kisaran bawah 3% sepanjang tahun ini.
“Konsumsi membaik seiring dukungan kebijakan pemerintah dan biaya pinjaman yang lebih ringan. Sementara investasi di dorong proyek bangunan serta ekspansi dunia usaha yang mulai pulih ketika suku bunga menurun,” tegas Josua.
Sama halnya dengan Ekonom Maybank Myrdal Gunarto yang turut memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi pada 2026. Yaitu memang bisa mencapai ke titik 5,21% akibat faktor kondusifnya situasi ekonomi domestik. Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana bahkan lebih percaya diri lagi. Dan laju pertumbuhan bisa menembus ke level 5,3% pada 2026 karena adanya indikator perbaikan daya beli kelas menengah dan kelas atas.
Proyeksi 5,3% juga di sampaikan oleh Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian dari prospeknya pada 2026 yang ia sebut hanya akan di kisaran 5,06%. Terutama karena arah kebijakan pemerintah dan bank sentral yang sangat tegas pro pertumbuhan.
Sementara itu, dari lembaga think tank, seperti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan. Yaitu laju pertumbuhan pada 2026 hanya akan berada pada kisaran 4,9%-5,1%. Strategic Research Manager CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menitikberatkan pada tekanan upah riil masyarakat yang berpotensi menahan laju pertumbuhan.
“Konsumsi di perkirakan belum pulih secara signifikan. Ini tercermin dari tekanan pada upah riil di sejumlah sektor utama dan lambatnya transmisi stimulus ke daya beli masyarakat,” ucap Rendy.
Sedangkan Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita memperkirakan. Pertumbuhan ekonomi tanah air pada tahun depan hanya akan berada pada kisaran 5%-5,4%.
“Konsumsi rumah tangga, saya meyakini akan tetap tumbuh, tetapi agak melambat secara struktural. Di karenakan seiring tekanan biaya hidup dan perubahan pola belanja kelas menengah.” Katanya di lansir dari CNBC Indonesia “8 Ekonom Bicara Prospek Ekonomi RI pada 2026, Simak!”
Keluar Dari Kutukan Pertumbuhan 5%
Proyeksi penulis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melesat sampai 6% ke atas sebagaimana cita-cita harapan Presiden Prabowo Subianto sebesar 6-8%. Hal ini sangatlah rasional mengingat di prediksi kwartal I akan tumbuh sekitar 6 persen. Di mana Januari-Maret terjadi kosumsi masyarakat yang tinggi di liburan bulan Januari dan perputaran keuangan bulan puasa Februari-Maret 2026.
Jika kita melihat arah kiblat ekonomi politik Presiden Prabowo Subianto baik dari sisi Visi-Misi, teori ekonomi politik dan landasan ekonomi politik nasional. Prabowo Subianto lebih mengarah kepada kiblat kemandirian politik nasional dengan isu-isu ekonomi kerakyatan dan negara kesejahteraan.
Dan beliau selalu membahas berbagai isu penting dan strategis di tingkat global, yang berdampak pada kehidupan bangsa Indonesia. Mulai dari isu ketahanan pangan, krisis energi, ancaman krisis keuangan di berbagai negara lain. Serta sejumlah tantangan yang sedang di hadapi masyarakat dunia.
Prabowo Subianto juga membahas tentang strategi dan sinergi antar kementerian untuk menghadapi situasi dunia yang tidak menentu dan penuh dengan ketidakpastian. Seperti tantangan krisis pangan, energi dan keuangan, sebagai dampak dari berbagai konflik. Yaitu konflik Rusia-Ukraina, konflik Israek-Palestina, perang dagan AS-Cina, serta recovery paska pandemi Covid-19.
Salah satu contohnya yakni tentang teknis terkait isu ketahanan pangan dan sumber daya energi (SDE). Yaitu melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi di dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan impor pangan.
Karena itu penulis optimis perekonomian Indonesia akan terus tumbuh melesat on the way (otw) 6% dan menuju 8%. Karena itu penulis yakin di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kutukan 5% persen nilai pertumbuhan ekonomi selama 12 tahun sejak 2014 bisa terpecahkan. (***)
Oleh : Syafrudin Budiman, SIP (Ketua Umum DPP Perhimpuan UKM Indonesia)







