
Pada acara Health Talk yang digelar di Siloam Hospitals Surabaya, 20 Juni 2026 sebagai wujud kolaborasi antara Daewoong dengan Siloam Hospitals Surabaya, Dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, Direktur Siloam Hospitals Surabaya, mengatakan bahwa edukasi diabetes perlu disampaikan secara lebih menyeluruh.
trenddjakarta.com, SURABAYA, 22 Juni 2026 — Daewoong Pharmaceutical Indonesia (“Daewoong”) berkolaborasi dengan Siloam Hospitals Surabaya menggelar health talk untuk pasien. Guna menekankan pentingnya pemeriksaan dini dan pengobatan berkelanjutan dalam mencegah komplikasi kardiovaskular dan ginjal pada pasien di abetes.
Mengangkat tema “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Di abetes”. Kegiatan ini di rancang untuk membantu pasien dan keluarga memahami bahwa di abetes bukan hanya soal mengendalikan kadar gula darah. Di abetes merupakan kondisi serius yang dapat memicu komplikasi pada organ-organ penting. Yang termasuk jantung, pembuluh darah, dan ginjal.
Di abetes masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Jawa Timur. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2023 yang di terbitkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Jumlah estimasi penderita di abetes usia 15 tahun ke atas di Jawa Timur mencapai 854.454 orang pada 2023. Sementara itu, data Profil Kesehatan Kota Surabaya 2023 dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya mencatat terdapat 104.363 pasien di abetes di Surabaya.
Sesi pertama di sampaikan oleh Prof. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA. Adalah seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Ia menjelaskan bahwa serangan jantung pada pasien di abetes tidak selalu di awali gejala khas seperti nyeri dada. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf yang mengirimkan sinyal nyeri. Akibatnya, ketika pembuluh darah koroner mengalami penyumbatan, pasien belum tentu merasakan tanda peringatan yang jelas.
“Pasien di abetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata,” ujar Prof. Yudi. “Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan pengelolaan faktor risiko tidak boleh di abaikan, meskipun pasien merasa sehat.”
Prof. Yudi juga menjelaskan bahwa di abetes dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis. Yaitu kondisi ketika kolesterol dan zat lain menumpuk di dinding pembuluh darah hingga menyebabkan penyempitan. LDL-C, yang di kenal sebagai “kolesterol jahat”, dapat masuk ke dinding pembuluh darah yang rusak dan membentuk plak. Jika plak terus menumpuk, pembuluh darah koroner dapat menyempit atau tersumbat. Di mana dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Sebagai prinsip utama pengelolaan kolesterol, Prof. Yudi memperkenalkan pesan kampanye pencegahan penyakit kardiovaskular Daewoong. Yaitu “The Sooner, The Lower, The Better.” Ia menekankan pentingnya mengelola LDL-C lebih dini, menurunkannya hingga mencapai target yang di rekomendasikan tenaga kesehatan. Serta menjaga kepatuhan pengobatan secara konsisten dalam jangka panjang.
Sesi kedua di bawakan oleh Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP. Yang adalah dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi. Ia membahas risiko penyakit ginjal akibat di abetes. Di mana yang sering kali tidak menunjukkan gejala khusus pada tahap awal dan baru terdeteksi ketika fungsi ginjal sudah menurun cukup jauh.
“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap. Seperti filter yang aus seiring waktu,” ujar Dr. dr. Soebagijo. “Karena pasien sering tidak merasakan kelainan pada tahap awal. Pemeriksaan ginjal sebaiknya di lakukan secara proaktif, bukan menunggu sampai muncul gejala.”
Ia menjelaskan tiga pemeriksaan penting yang perlu di pantau secara rutin oleh pasien di abetes. Yaitu HbA1c, UACR, dan eGFR. HbA1c di gunakan untuk melihat rata-rata kendali gula darah, UACR membantu mendeteksi kebocoran protein dalam urine sejak dini. Sedangkan eGFR menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, mengatakan. Bahwa edukasi kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan komplikasi di abetes.
“Edukasi di abetes tidak boleh berhenti pada penurunan kadar gula darah saja. Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa di abetes dapat secara diam-diam memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah. Dan kualitas hidup secara keseluruhan,” ujar dr. Maria.
“Siloam Hospitals Surabaya berkomitmen mendukung diagnosis dini, edukasi pasien. Serta layanan kesehatan terpadu melalui dukungan tim dokter multidisiplin dan fasilitas medis yang komprehensif. Di mana untuk membantu masyarakat mencegah komplikasi di abetes sejak awal,” tambahnya.
Baik In-hyun, Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, mengatakan. Bahwa kegiatan edukasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang Daewoong dalam mendukung kesehatan masyarakat.
“Ketika pasien memahami sejak dini hubungan antara di abetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam. Mereka dapat memulai langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan organ yang tidak dapat di pulihkan,” ujar Baik.
“Daewoong akan terus berperan bukan hanya dalam memastikan pasokan terapi kardiovaskular inovatif dan terapi di abetes tipe 2. Yang di kembangkan secara mandiri, tetapi juga sebagai mitra tepercaya dalam membangun masyarakat yang lebih sehat.”
Daewoong terus memperluas pilihan terapi untuk membantu pasien di abetes mengelola risiko kardiovaskular dan kadar gula darah. Kombinasi dosis tetap ezetimibe dan rosuvastatin, terapi dislipidemia yang di luncurkan pada November tahun lalu. Yang menjadi pilihan terapi bagi pasien yang memerlukan kontrol LDL-C secara ketat berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Sementara itu, enavogliflozin 0,3 mg, terapi di abetes tipe 2 yang di kembangkan secara mandiri oleh Daewoong. Telah memperoleh persetujuan produk dari BPOM RI pada Desember tahun lalu. Dan di jadwalkan meluncur pada semester pertama tahun ini. Ke depan, Daewoong akan terus memperkuat kolaborasi dengan institusi medis untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan gula darah, LDL-C. Dan fungsi ginjal secara terpadu pada pasien di abetes. Yang sekaligus memperluas akses terhadap pilihan terapi yang lebih maju.
(***)





