
trenddjakarta.com – Setelah bertahun-tahun berkarya di balik layar sebagai performer. Vocal coach, dan music director, Seche kini melangkah ke depan dengan karya pertamanya sendiri. Single debut bertajuk “Apa Adanya” resmi di rilis di seluruh platform musik digital pada 30 Agustus 2026 di bawah naungan Indomusik Records. Sebuah lagu yang lahir dari perjalanan panjang seorang musisi yang akhirnya memilih untuk bercerita dengan suaranya sendiri.
“Apa Adanya” adalah refleksi yang jujur tentang perjalanan hidup. Dan tentang menikmati setiap usia, tentang jatuh dan bangkit, dan tentang proses panjang belajar menerima diri sendiri. Sebuah lagu yang tidak datang dengan janji kesempurnaan. Melainkan dengan ketenangan seseorang yang sudah melewati banyak hal dan akhirnya tiba di titik penerimaan.
“Apa Adanya” di mulai dari sebuah keberanian yang sederhana namun tidak mudah. Berkenalan dengan keikhlasan. Dari sana, lagu ini membawa pendengar menyusuri perjalanan emosional yang terasa sangat manusiawi, rasa kehilangan, suara-suara bising dunia yang perlahan di lepaskan. Hingga momen ketika seseorang berdiri di depan cermin dan memilih untuk menerima dirinya apa adanya.
“Mulut tak bisa berkata / menikmati usia”, baris yang menjadi jantung dari lagu ini menggambarkan hal-hal yang terkadang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Namun tetap di jalani hari demi hari. Sesuatu yang tidak selalu terlihat dari luar, namun sangat nyata di rasakan dari dalam.
Yang membuat lagu ini terasa istimewa adalah penutupnya. Outro yang terasa seperti napas panjang setelah perjalanan yang panjang.
“Ternyata ujungnya / tiada kecewa / sederhana / berjalan apa adanya”
Tidak ada resolusi yang dramatis. Tidak ada kemenangan yang besar. Hanya penerimaan yang tulus dan ternyata, itulah yang paling membebaskan.
Melalui “Apa Adanya”, Seche mengajak pendengar untuk menikmati perjalanan hidup dan belajar mencintai diri sendiri. Bahwa segala hal baik maupun buruk yang pernah ada di masa lalu adalah bagian dari proses yang membawa kita tiba di hari ini. Dan bahwa berjalan apa adanya pun adalah sebuah bentuk keindahan tersendiri.
“Apa Adanya” lahir dari kolaborasi yang hangat dan penuh kepercayaan. Lagu ini di tulis oleh Secherazade Annisa dan Venessa Adverta Fortunata. Dengan lirik yang di kerjakan bersama Christian Bong dan Frisella Asimi Martina Ully. Yang adalah sebuah proses kolektif yang memastikan setiap lapisan cerita dalam lagu ini tersampaikan dengan tepat dan penuh perasaan.
Produksi dan aransemen di percayakan kepada Muhammad Haekal, yang membangun atmosfer lagu ini dengan pendekatan yang hangat dan tidak berlebihan. Juga memberi ruang bagi vokal Seche dan permainan gitar Keren Christina untuk menjadi elemen yang paling terasa dan paling dekat dengan pendengar. Proses mixing dan mastering di kerjakan oleh Abror Samdya. Memastikan setiap detail dalam lagu ini terdengar bersih, intim, dan siap menemani pendengar dalam berbagai momen reflektif.
Seche bukan nama baru di industri musik Indonesia, meski mungkin baru kali ini namanya hadir di depan sebagai artis dengan karya solonya sendiri.
Lahir dan tumbuh besar di Bali. Seche memulai perjalanan bermusiknya dengan merantau ke Jakarta sebagai performer dan singing guitarist. Membangun karakter musikalnya melalui berbagai panggung dan kesempatan bermusik yang terus mengasah kemampuan dan sensibilitasnya.
Dari sana, Seche berkembang menjadi vocal coach bagi sejumlah penyanyi dan public figure ternama. Di antaranya Rendy Pandugo, Manohara, Anji Dunia Manji, dan Tatjana Saphira. Kepercayaan dari nama-nama besar tersebut menjadi bukti nyata dari kualitas dan dedikasi Seche dalam dunia vokal.
Pada 2023, Seche di percaya menjadi Penata Musik dalam konser Musik Eraku. Yaitu sebuah pertunjukan yang menghadirkan deretan penyanyi lawas papan atas Indonesia. Yaitu Mayangsari, Atiek CB, Ronnie Sianturi, dan Ita Purnamasari. Sebuah tanggung jawab besar yang ia emban dengan penuh kemampuan.
Kini, Seche juga aktif sebagai content creator di bidang musik, terus memperluas jangkauannya di berbagai platform digital. Dan dengan “Apa Adanya”, ia akhirnya menghadirkan sisi paling personalnya kepada publik. Tidak sebagai orang yang bekerja untuk artis lain, melainkan sebagai artis yang bercerita untuk dirinya sendiri.
(***)







