
trenddjakarta.com, Jakarta, 6 Oktober 2026 – Pernahkah kita membayangkan bagaimana musik yang kita dengarkan sampai ke telinga kita? Sebelum musik dapat diakses melalui platform digital, ada perjalanan panjang yang melibatkan rekaman, toko musik, label, teknologi, hingga jaringan distribusi. Berbagai lapisan cerita tersebut menjadi bagian dari Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia. Yaitu pameran temporer hasil kolaborasi Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) dan Irama Nusantara yang menelusuri perkembangan musik populer Indonesia. Yang sekaligus kontribusi masyarakat Tionghoa Indonesia dalam membentuk ekosistemnya.
Berlangsung dari 19 September 2026 hingga 21 Februari 2027 di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Pantjoran PIK. Popularia menghadirkan arsip, objek, dan pengalaman mendengarkan yang membawa pengunjung menyusuri perjalanan musik populer dari era Hindia Belanda hingga ekosistem musik Indonesia hari ini. Cerita yang di tampilkan tidak hanya berkaitan dengan musisi dan lagu, tetapi juga dengan orang-orang yang merekam, memproduksi, mendistribusikan. Dan menciptakan ruang bagi musik untuk bertemu dengan pendengarnya.
Mitha Budhyarto, Kurator GBTI, mengatakan.
“Musik dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana masyarakat Tionghoa Indonesia hadir dan berkontribusi dalam kehidupan budaya di Indonesia. Melalui rekaman, perdagangan, perkembangan teknologi, hingga berbagai bentuk keterlibatan dalam industri musik. Dan kita dapat melihat bagaimana sebuah masyarakat turut menjadi bagian dari perjalanan musik populer Indonesia.”
Menelusuri Jejak di Balik Rekaman
Pada dekade awal abad ke-20, lanskap hiburan di Hindia Belanda mengalami perubahan seiring berkembangnya teknologi rekaman. Salah satu nama yang muncul dalam perjalanan tersebut adalah Tio Tek Hong. Melalui tokonya di Batavia, Tio Tek Hong memproduksi rekaman komersial musisi lokal dalam bentuk piringan hitam berbahan shellac. Musik Melayu, keroncong, hingga stambul turut di rekam dan di edarkan kepada publik.
Perkembangan tersebut juga melibatkan para saudagar rekaman di berbagai kota. Nama-nama seperti Tan Tik Hing di Semarang dan Lie Liang Swie di Surabaya menjadi bagian dari cerita ketika musik mulai bergerak dari pertunjukan langsung menjadi karya yang dapat di rekam, di arsipkan, di edarkan, dan di nikmati oleh lebih banyak orang.
Cerita kemudian bergerak dari Pasar Baru pada awal abad ke-20 hingga Glodok pada dekade 1970-an. Pengunjung dapat menemukan berbagai nama yang hadir dalam perjalanan tersebut, termasuk Yo Kim Tjan, Tio Tek Djin, Miss Riboet Orion, Canary, Harry Lim, Amin “Cengli” Wijaya dari Musica Studios, Eugene Timothy dari Remaco, Johanes Soerjoko dari Aquarius, Log Zhelebour, hingga Adi Nugroho dari Dian/Prosound.
Jejak Musik dan Budaya Mendengar
Perjalanan musik tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah lagu di rekam dan di distribusikan. Pilihan musik yang tersedia turut membentuk pengalaman mendengarkan. Sementara perkembangan selera masyarakat juga ikut memengaruhi musik yang terus beredar dan berkembang. Popularia membawa cerita tersebut melalui berbagai bentuk musik dan pengalaman mendengarkan.
Gambang Kromong, Pop Mandarin, karya Teresa Teng, hingga live karaoke menjadi bagian dari materi yang memperlihatkan bagaimana musik hadir dalam ruang sosial dan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Pengalaman mendengarkan menjadi bagian penting dari pameran ini. Melalui Listening Booth, pengunjung dapat mendengarkan lagu dari berbagai masa sekaligus melihat bagaimana pilihan musik berkaitan dengan proses rekaman dan distribusi. Mendengarkan menjadi cara lain untuk membaca perubahan dalam teknologi, selera, dan kebiasaan masyarakat dalam menikmati musik.
Kolaborasi dengan Irama Nusantara turut memperkaya pengalaman tersebut melalui arsip dan dokumentasi musik populer Indonesia. Arsip dan dokumentasi tersebut membantu pengunjung melihat kembali perjalanan musik dari berbagai masa sekaligus memahami bagaimana rekaman, distribusi, dan kebiasaan mendengarkan turut membentuk perkembangan musik populer di Indonesia.
“Arsip musik membantu kita memahami bahwa sejarah musik populer tidak hanya tentang lagu dan musisi, tetapi juga tentang bagaimana musik diproduksi, didistribusikan, dan didengarkan pada masanya. Melalui rekaman dan berbagai dokumentasi yang masih dapat ditelusuri, kita bisa melihat bagaimana perubahan teknologi, pola distribusi, dan selera masyarakat turut membentuk perjalanan musik Indonesia. Popularia menjadi kesempatan untuk menghadirkan kembali arsip tersebut sekaligus melihat cerita yang lebih luas di balik musik yang kita dengarkan.” Ujar Ignatius Aditya Adhiyatmaka, Periset, Irama Nusantara.
Dari Piringan Hitam ke Era Digital
Perubahan teknologi juga mengubah cara musik di produksi, di temukan, dan di bagikan. Jika sebelumnya toko, label, dan jaringan distribusi menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah lagu menuju pendengar, ekosistem tersebut kini berkembang melalui platform, masyarakat, dan jaringan yang lebih cair.
Perubahan tersebut juga menghadirkan ruang bagi beragam pelaku musik masa kini. Mulai dari musisi dan produser hingga kolektor, kritikus, dan pelaku kreatif di skena independen.
Popularia melihat kembali bagaimana keterlibatan Tionghoa Indonesia dalam musik populer terus berkembang, termasuk melalui perspektif pelaku musik keturunan Tionghoa di Indonesia hari ini.
Cerita Popularia kemudian dapat di lanjutkan melalui berbagai program publik, mulai dari talkshow, listening session, tur kuratorial, hingga music takeover. Pengunjung dapat mendengarkan cerita dari berbagai sudut pandang, menyimak musik bersama. Serta melihat kembali arsip dan perjalanan musik Indonesia melalui pengalaman yang lebih dekat dan partisipatif.
Pada akhirnya, sejarah musik populer juga dapat di baca melalui jejak orang-orang yang merekamnya, ruang tempat musik berkembang, teknologi yang membuatnya dapat di dengar. Serta masyarakat yang menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Popularia membuka kesempatan untuk menelusuri jejak tersebut dan menemukan cerita di balik musik dan perjalanan panjangnya sebelum sampai kepada pendengarnya.
Pameran “Popularia: The Untold Story Behind Popular Music in Indonesia” dapat di kunjungi pada 19 September 2026 hingga 21 Februari 2027 di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Pantjoran PIK.
(***)




