
trenddjakarta.com, JAKARTA, 2 November 2026 — Hari ini, Dataiku, Platform untuk Kesuksesan AI umumkan sebuah studi terbaru di Succeed. Yaitu konferensi tahunan unggulan perusahaan yang soroti bagaimana paraCIO kelola populasi agen yang berkembang pesat dan semakin terintegrasi ke dalam bisnis. Laporan berjudul “Global AI Confessions Report: CIO Edition, 2026”, yang lakukan oleh Harris Poll terhadap 685 CIO global, temukan 83% CIO belum miliki manajemen siklus hidup agen yang terstandarisasi di seluruh organisasi, dan 47% telah nonaktifkan lebih dari 20 agen sepanjang tahun ini. Pergantian agen tersebut sebagian besar terjadi tanpa visibilitas yang memadai.
Seiring dengan tambah jumlah agen di berbagai tim dan platform, hanya 21% CIO yang laporkan miliki visibilitas penuh dan hampir real-time terhadap biaya AI, termasuk perincian biaya berdasar unit bisnis, tim, atau kasus penggunaan.
Global AI Confessions Report :Kontrol Jadi Kunci Maksimalkan Nilai AI
“Industri telah yakinkan para CIO mengenai manfaat otonomi, tetapi sering kali lupakan konsekuensinya: sistem otonom perlu kelola, bukan sekadar pantau,” ujar Florian Douetteau, Co-founder dan CEO Dataiku.
“Pemantauan hanya beri tahu Anda bahwa suatu agen sedang jalan. Pengelolaan beri tahu Anda apakah agen tersebut masih layak untuk terus operasi. Saat ini, hampir tidak ada mekanisme yang dapat hentikan agen tersebut. Kontrol yang andal kini jadi kunci maksimalkan nilai AI, sekaligus pastikan kinerjanya tetap konsisten,” tambahnya.
Menjalankan Agen AI Tidak Sama dengan Buktikan Agen Berfungsi
Para CIO kini kelola sesuatu yang sebelumnya tidak perlu kendalikan perusahaan: armada agen AI otonom dalam skala yang telah lampaui sistem yang bangun untuk kelolanya. Sebanyak 67% CIO perkirakan terdapat 51 atau lebih agen AI yang aktif operasi di lingkungan produksi. Hampir seluruh CIO (90%) yakin mereka miliki pelacakan lengkap atas semua agen tersebut, namun:
Hampir 3 dari 4 CIO (72%) tidak dapat secara konsisten pastikan apakah agen tersebut benar-benar beri hasil bisnis yang harap ketika pertama kali buat. 60% katakan bahwa mereka belum miliki lapisan tata kelola AI terpusat yang mencakup aplikasi, perangkat, dan lingkungan TI di seluruh perusahaan. 81% tidak miliki pengawasan lengkap terhadap agen yang buat sepenuhnya di luar sistem yang setujui atau saluran resmi.
Para CIO juga mulai diversifikasi model yang gunakan untuk jalankan AI: 75% di antaranya rencana gunakan lebih banyak atau model yang berbeda untuk tingkatkan kesinambungan operasional AI, 74% pertimbangkan model open-source atau open-weight sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan model tidak lagi tersedia di masa depan, dan 80% telah atau rencana lakukan penilaian terhadap risiko ketergantungan pada AI.
CIO Pilih Pengembangan Terdistribusi Dibanding Kontrol Terpusat
Pandangan umum sebutkan bahwa masalah penyebaran agen AI yang tidak terkendali dapat atasi dengan perketat sistem, batasi akses, pusatkan kontrol. Dan perlambat pengembangan hingga ke tingkat yang dapat pantau oleh tim TI. Namun, data tunjukkan bahwa para CIO ambil pendekatan berbeda.
Sebanyak 91% CIO sepakat bahwa strategi AI yang paling efektif bukan pusatkan setiap aplikasi dan agen. Melainkan beri ruang bagi tim bisnis lakukan pengembangan dalam lingkungan yang miliki tata kelola yang jelas.
Global AI Confessions Report: Sistem Pengendalian Belum Mampu Imbangi Perkembangan AI
Seiring organisasi semakin distribusikan proses pengembangan AI, tata kelola dan pengukuran pun kesulitan imbangi laju perkembangannya. Sebanyak 84% CIO sepakat karyawan kembangkan agen dan aplikasi AI lebih cepat daripada kemampuan tim TI untuk kelolanya.
Pengukuran juga hadirkan celah tersendiri. Hanya 28% CIO yang secara konsisten ukur kinerja operasional maupun hasil bisnis dari seluruh agen AI yang mereka gunakan. Sementara 76% nyatakan organisasi mereka belum miliki metode pengukuran ROI yang matang dan andal untuk seluruh atau sebagian besar inisiatif AI.
Tekanan Datang dari Jajaran Pimpinan dan Dewan Direksi
Sebanyak 88% CIO nyatakan bahwa reputasi profesional atau perkembangan karier mereka akan bergantung pada keberhasilan dalam terapkan AI. Dan 87% sebutkan CEO mereka telah sampaikan bahwa keberlangsungan posisi mereka bergantung pada hasil penerapan AI.
Dan sebanyak 97% CIO laporkan adanya peningkatan tekanan dari dewan untuk tunjukkan ROI AI yang terukur. Dengan 77% di antaranya nilai peningkatan tekanan tersebut signifikan. 72% CIO nyatakan anggaran AI mereka kemungkinan akan pangkas atau bekukan jika target kinerja tidak capai hingga akhir tahun 2026.
Laporan lengkap “Global AI Confessions Report: CIO Edition, 2026” tersedia di sini: https://pages.dataiku.com/global-ai-confessions-cio-edition.
Metodologi Survei Harris Poll
Penelitian ini lakukan secara daring oleh The Harris Poll atas nama Dataiku pada 9–29 Juli 2026. Survei ini libatkan 685 CIO yang berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Uni Emirat Arab, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.
(***)




