Imunoterapi Pertama untuk Pasien Kanker Hati Disetujui BPOM,

Trenddjakarta.com, 28 September 2021 – Obat imunoterapi atezolizumab dengan kombinasi bevacizumab telah  mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk pengobatan pasien kanker  hati tipe karsinoma sel hati stadium lanjut atau yang tidak dapat dioperasi dan belum pernah mendapatkan
pengobatan sebelumnya. Persetujuan BPOM untuk imunoterapi pertama pada terapi kanker hati ini  menandai era baru pengobatan kanker hati yang merupakan penyakit yang berkembang cepat.

Dengan jumlah kasus yang mencapai 21.392 orang  pada tahun 2020, kanker hati adalah salah satu kanker  yang paling tinggi menyebabkan kematian di Indonesia. Kanker hati juga merupakan penyebab kematian  karena kanker peringkat ke-4 di Indonesia dengan angka prevalensi 5 tahun sebesar 22.530 kasus.
Karsinoma sel hati (hepatoselular karsinoma/HCC) merupakan salah satu tipe kanker hati utama yang
paling umum dengan prognosis (perjalanan penyakit) yang sangat buruk. Di dunia, terdapat sekitar 750.000  orang per tahunnya terdiagnosis karsinoma sel hati (HCC)2,3 dan umumnya sudah pada stadium lanjut.

Di  Indonesia, insiden karsinoma sel hati terjadi pada 13,4 per 100.000 penduduk.
.“Penyakit kanker menjadi beban masyarakat dunia. Oleh sebab itu Kementerian Kesehatan menjadikan  kanker sebagai prioritas dalam rencana strategis. Menangani kanker harus komprehensif, melibatkan  berbagai sektor dan pihak dengan pendekatan multidisiplin dan kolaborasi interprofesional, dengan fokus
pada pasien. Peran organisasi peduli pasien dan swasta sebagaimana yang dilakukan oleh Roche
Indonesia yang telah banyak berkiprah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kanker,  mengembangkan solusi pengobatan dan diagnostik dan mengupayakan akses bagi pasien sangatlah  penting,” demikian sambutan Prof. dr. Abdul Kadir, PhD, Sp.THT-KL (K), MARS  Direktur Jenderal  Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, yang disampaikan oleh dr. Else Mutiara Sihotang,  Sp.PK, Kasubdit RS Pendidikan Kementerian Kesehatan.

Publikasi yang dilakukan secara retrospektif pada dua rumah sakit tersier (Rumah Sakit Umum Nasional  Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Nasional Kanker Dharmais), antara Januari 2015 hingga  November 2017 tercatat tingkat kematian pasien karsinoma sel hati sebesar 48,2% dimana diantaranya  terdapat 23,4% pasien meninggal dalam rentang waktu 6 bulan setelah terdiagnosis. Salah satu penyebab
tingginya tingkat mortalitas ini adalah terlambatnya diagnosis, sehingga sebagian besar pasien datang  sudah dalam kondisi stadium lanjut. Tidak hanya itu, meskipun angka kejadian karsinoma sel hati tinggi,  pasien dengan penyakit ini hanya memiliki pilihan yang terbatas untuk pengobatan yang berdampak pada
tingkat kematian yang tinggi. “Sebagian besar pasien karsinoma sel hati di Indonesia datang ketika sudah masuk stadium lanjut,
sementara pilihan pengobatan yang ada sangat terbatas.

Data menunjukkan selama 15 tahun (1998 – 1999  dibandingkan dengan 2013 – 2014) tidak ada perubahan angka kesintasan yang signifikan untuk pasien  kanker hati. Pasien saat ini terus berharap akan adanya pengobatan transformatif yang bisa meningkatkan  harapan hidupnya,” jelas DR. dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, FINASIM, yang merupakan seorang dokter  spesialis gastroenterohepatologi. “Dengan disetujuinya obat imunoterapi atezolizumab dengan
kombinasi bevacizumab sebagai imunoterapi pertama untuk pengobatan pasien kanker hati tipe karsinoma  sel hati stadium lanjut, diharapkan adanya perbaikan kesintasan pasien kanker hati yang lebih tinggi. Kami  sangat berharap agar pengobatan baru ini dapat menjangkau pasien yang membutuhkan sehingga kita  dapat menekan angka kematian akibat kanker hati,” lanjutnya.

Obat imunoterapi kanker bekerja dengan cara membantu sistem imun di tubuh manusia untuk secara  spesifik membunuh sel kanker. Studi klinis menunjukkan penggunaan Atezolizumab yang dikombinasikan  dengan Bevacizumab meningkatkan angka kesintasan hingga 19,2 bulan atau 34% lebih tinggi  dibandingkan dengan pengobatan standar  dan mencegah perburukan penyakit hingga 6,9 bulan atau
perbaikan hasil pengobatan hingga 35% dibandingkan dengan pengobatan standar yang ada saat ini. Selain memperoleh kesempatan harapan hidup yang baik, pasien dapat juga menjalani hidup yang lebih  berkualitas dengan profil keamanan obat yang dapat ditoleransi dengan baik

“Selama 125 tahun keberadaan kami di dunia dan 50 tahun di Indonesia, Roche memiliki sejarah  menjelajahi bidang ilmiah baru, bidang penyakit baru dan teknologi baru, dan mengembangkan obat yang  dapat mengubah hidup pasien. Namun, terobosan dalam ilmu kedokteran hanya memiliki arti bila dapat
mencapai pasien-pasien yang membutuhkannya,” kata Dr. Ait-Allah Mejri, Presiden Direktur Roche  Indonesia. “Kanker adalah masalah kita bersama. Karena itu, Roche terus mengajak semua kalangan,  mulai dari praktisi kedokteran, akademisi, media, pemerintah, dan masyarakat untuk dapat bekerja sama  dalam menyediakan akses yang lebih luas terhadap diagnosis dan pengobatan kanker yang berkualitas  untuk pasien, baik di sektor swasta, maupun di sektor publik melalui Jaminan Kesehatan Nasional,” tutup
Dr. Mejri.

Ibu Evy Rachmad (68 tahun), yang merupakan pasien kanker hati menyampaikan harapannya, “Sebagai  pasien kanker hati, saya sangat berharap pengobatan kanker hati dapat ditanggung oleh pemerintah,  termasuk obat-obatan yang terbaru seperti imunoterapi kanker ini. Selama ini semua biaya pengobatan
saya tanggung sendiri dan tidak masuk dalam BPJS. Saya juga berharap agar bisa mendapatkan informasi  yang lengkap, baik tentang pentingnya memeriksa risiko kanker hati secara rutin, apa saja tahapan  penyakit saya dan apa saja pengobatan yang ada sehingga kami sebagai pasien jelas tentang penanganan
kanker hati yang kami alami,” ungkap Evy Rachmad, pasien kanker hati yang juga anggota komunitas  CISC (Cancer Information and Support Center). Deteksi dini juga menjadi kunci dalam perbaikan kesintasan pasien kanker hati. Untuk itu, pemeriksaan  rutin pada pasien yang memiliki risiko tinggi seperti pasien hepatitis B dan C harus menjadi perhatian. Hal
ini yang dialami oleh Ibu Erla Watiningsih, dimana suaminya telah meninggal dalam jangka waktu setahun setelah terdiagnosis kanker hati. “Pembelajaran yang saya dapatkan adalah penting sekali melakukan meriksaan rutin untuk pasien dengan risiko tinggi kanker hati, diantaranya hepatitis B. Harapan saya
adalah terbentuknya sinergi antara berbagai pihak baik pemerintah, dokter, rumah sakit maupun komunitas untuk peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai deteksi dini kanker hati,” ujar ibu
Erla Watiningsih yang juga merupakan pendiri Komunitas Peduli Hepatitis. “Semakin cepat dideteksi, maka akan semakin cepat mendapatkan penanganan yang tepat. Sehingga,
prognosa kanker hati juga akan semakin baik.

Karena itu, masyarakat yang berisiko harus rutin melakukan tes atau kita sebut surveilans untuk mendeteksi kanker hati. Dengan perkembangan kemajuan teknologi kesehatan, hasil pemeriksaan bagi pasien juga kini dapat lebih akurat dalam bantuan diagnosis kanker hati yaitu dengan tes terkini, PIVKA II. Kadar PIVKA II di atas nilai normal dapat menjadi penanda yang lebih baik dalam surveilans untuk menyarankan pasien mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.” jelas Dr. dr. Agus Susanto Kosasih, Sp.PK(K), MARS yang merupakan seorang dokter spesialis patologi klinik. PIVKA II adalah biomarker yang dapat digunakan dalam surveilans rutin pada populasi berisiko tinggi yaitu pada pasien dengan kelainan hati. Kadar PIVKA II diatas nilai normal dapat menjadi penanda dalam surveilans untuk menyarankan pasien mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. PIVKA II lebih sensitif dalam
mendiagnosis kanker hati, terutama bila dikombinasikan dengan Tes darah untuk alfa-fetoprotein (AFP).

Studi menunjukan kombinasi PIVKA II + AFP memberikan akurasi diagnostik yang lebih baik dan dapat mendeteksi lebih banyak pasien kanker hati pada pasien hepatitis B & C. Peningkatan kadar PIVKA II berkorelasi baik dengan stadium penyakit, terlepas dari ukuran tumor, kelompok etnis pasien, atau etiologi
kanker hati. Dalam interpretasi hasil PIVKA II, pemeriksaan lainnya dalam tatanan klinis tetap perlu dilakukan seperti CT-Scan dan MRI atau jika dibutuhkan adalah biopsi untuk memberikan diagnosis yang tepat bagi pasien. Pemeriksaan PIVKA II dilakukan dengan menggunakan sampel darah dan dikerjakan metode ECLIA di laboratorium Patologi Klinik.(Rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *