Citarum Repair, dari Kami untuk Indonesia

Trenddjakarta.com, Bandung, 17 November 2022 – Tahun 2014, terdapat 3 miliar kantong plastik yang dihasilkan setiap harinya (Earth Policy Institute). Indonesia menggunakan 182,7 miliar kantong plastik setiap tahun dan dari total penggunaan tersebut dihasilkan sampah kantong plastik mencapai 1.278.900 per tahun.

Faktanya, sekitar 3,2 juta ton sampah plastik di Indonesia dibuang di sungai atau laut dan mengancam kelangsungan ekosistem tersebut setiap tahunnya. Beragam upaya dan inisiatif dari berbagai pihak dalam penanganan secara fisik serta aktivitas sosial telah dilakukan namun permasalahan terkait sampah belum menghasilkan langkah komprehensif.

Salah satu aturan yang telah diterapkan adalah upaya perbaikan sungai Citarum melalui Perpres no. 15 Tahun 2018 terkait pengendalian pencemaran dan kerusakan daerah aliran Sungai Citarum yang menjadi salah satu inisiatif nyata untuk mendukung upaya penanganan permasalahan sampah di Indonesia.

Menanggapi permasalahan tersebut, Greeneration Foundation melalui Citarum Repair menggelar talkshow dengan tema “Preventing Plastic Waste From Leaking Into The Ocean” pada 17 November 2022 di Holiday Inn Pasteur, Bandung. Talkshow ini turut dihadiri oleh berbagai komunitas dari bidang sungai dan laut turut hadir untuk membahas upaya penanganan permasalahan persampahan di Indonesia lalu mengerucut kepada dampak dan tantangannya terhadap sungai dan laut.

Citarum Repair, yang berasal dari singkatan Citarum River Plastic Recovery, merupakan
sebuah program dari Greeneration Foundation yang bekerjasama dengan Waste4Change dan River Recycle. Wisya Aulia Prayudi, Education Manager dari Greeneration Foundation menjelaskan bahwa kegiatan Citarum Repair merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi polusi plastik di laut dengan melakukan pembersihan sungai sehingga dapat mengurangi sampah yang menuju ke laut.

“Sungai Citarum merupakan penunjang utama ekosistem servis (kebutuhan air baku dan
aktivitas lainnya). Namun, 2000 ton sampah/tahun yang masuk ke sungai sehingga Citarum dinobatkan sungai terkotor di dunia. Citarum Repair di tahun 2020-2022 melakukan berbagai aktivitas mencakup below the line (aktivitas langsung di lapangan seperti, edukasi oleh fasilitator, river clean up, kerjasama dengan local hero) serta up the line (aktivitas secara online seperti kompetisi maupun webinar) untuk membantu menangani masalah di Sungai Citarum,” jelas Wisya.

Sejalan dengan pemaparan Wisya, Indra Darmawan, Founder Bening Saguling
Foundation, turut menyampaikan bahwa dalam menangani masalah sampah di Sungai
Citarum diperlukan berbagai faktor seperti pembangunan kebiasaan dalam masyarakat
serta penggunaan teknologi yang mumpuni. Hal ini kemudian berdampak pada penurunan
sampah di Sungai Citarum.

Taufan Suranto, Citarum Harum TaskForce dan PUPR Expert, juga turut menyampaikan
bahwa faktor lainnya yang berpengaruh untuk menangani sampah yang ada dilingkungan kita adalah kerjasama antar berbagai pemangku kepentingan termasuk adanya inisiatif dari masyarakat.

“Ketika punya inisiatif terkait penanganan masalah sampah, jalankan dulu dan kesampingan dulu soal kebijakan maupun perizinan yang tumpang tindih dan kompleks. Memulai Langkah dari tingkat masyarakat terkecil yaitu RW. Sehingga, jangan jadikan kebijakan maupun perizinan sebagai alasan dari hambatan yang akan dilakukan dalam upaya yang akan dilakukan.”

Permasalahan sampah di sungai ini jika tidak ditangani segera maka akan berdampak pada
jumlah sampah yang ada di lautan. Hal ini dijelaskan oleh Ivonne Milichristi Radjawane,
Dosen Oceanography Institut Teknologi Bandung.

“Laut lebih dinamis sehingga dapat menentukan karakteristik jenis sampah. Pulau sampah diakibatkan aliran arus laut yang kuat dan membawa sampah hingga ke titik tertentu karena adanya dinamika aliran di laut yang terjadi secara alami,” pungkas Ivonne.

Citarum Repair dalam perjalanannya selama tahun 2021-2022, telah berhasil
mengumpulkan 241 kg sampah yang 55,7% nya merupakan sampah organik, 28,1%
sampah residu, dan 16,1% merupakan sampah non-organik. Sampah ini kemudian
dikumpulkan, dipisah menjadi 26 jenis, dan dikelola bersama dengan Bening Saguling
Foundation. Sampah-sampah ini berhasil dikumpulkan dengan menggunakan berbagai
teknologi seperti trashboom serta conveyor bertenaga surya. Selain itu, hingga 2022 Citarum Repair sudah berhasil mengedukasi 5.146 orang di desa Cihampelas dan
Cipatik.

Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang dilakukan, edukasi ini berhasil meningkatkan kesadaran 56% masyarakat teredukasi terkait pengelolaan sampah. Kampanye kreatif yang dilakukan oleh Citarum Repair juga berhasil menjangkau ke lebih dari 2 juta orang hingga tahun 2022. (Red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.