
trenddjakarta.com, Jakarta, 20 Agustus 2025 – Euforia 17an Usai, namun gaung kemeriahannya masih terasa di hati masyarakat. Dari gang sempit hingga lapangan desa, dari halaman perumahan hingga pusat kota, suara riuh lomba 17an masih terngiang. Anak-anak tertawa terpingkal saat jatuh di lintasan balap karung. Masyarakat bersorak melihat peserta panjat pinang berjuang meraih puncak. Sementara kerupuk yang tergantung di tali rafia jadi rebutan dalam lomba makan kerupuk.
Itulah wajah Indonesia: ceria, penuh energi, dan selalu menyatukan. Tahun ini, kemeriahan itu semakin terasa karena hadir di 1000 titik perlombaan. Yang di dukung Bejo Jahe Merah, herbal asli Indonesia dengan semangat merah putih.
Lomba & Euforia 17an mungkin terlihat sederhana, karung goni, bambu pinang, hadiah ala kadarnya. Namun justru dari kesederhanaan itu lahirlah kebersamaan. Semua orang ikut ambil bagian, dari anak kecil yang penuh antusias hingga orang tua yang tak kalah bersemangat.
Menurut Rindu Melati Siregar, Group Brand Manager Natural Wellness Category PT Bintang Toedjoe. Bahwa hadirnya Bejo Jahe Merah di tengah masyarakat bukan sekadar dukungan simbolis.
“Bejo Jahe Merah ingin selalu membersamai masyarakat, bukan hanya saat tubuh kurang fit, tapi juga saat mereka merayakan kebahagiaan bersama. Karena itu, kami hadir di 1000 titik perlombaan sebagai wujud nyata semangat #AkuMerahPutih dan #PamerIndonesia,” tutur Rindu Melati Siregar.
Di setiap titik, Bejo Jahe Merah hadir bukan hanya sebagai produk, tetapi juga penguat semangat. Menemani masyarakat tetap bugar, agar bisa tertawa lebih lepas, bersorak lebih
kencang. Dan merayakan kemerdekaan dengan sepenuh hati.
Salah satu momen istimewa adalah kolaborasi dengan Komunitas Bermain, ruang nostalgia permainan tradisional. Pendirinya, Akihiko Akira (Kiko), menyebut 17 Agustus sebagai “festival bermain” terbesar bangsa ini. “Di tengah momentum lomba 17an itu, semua orang seperti kembali jadi anak-anak. Ada keringat, ada tawa, ada semangat untuk menang tapi tetap riang. Inilah budaya kita yang harus di jaga. Dukungan Bejo Jahe Merah membuat momen ini terasa makin hangat,” ujar Kiko.
Di sana, usia tidak lagi jadi batasan. Semua melebur dalam permainan yang di wariskan turun-temurun. Gotong royong pun terasa nyata: ada yang jadi panitia, ada yang menyumbang hadiah, ada yang menyiapkan konsumsi. Itulah wajah asli Indonesia yang beragam tapi selalu bersatu.
Merayakan Keberagaman, Memperkuat Persatuan
Perayaan 17 Agustus memang hanya sehari, tapi maknanya jauh lebih panjang. Setiap lomba, setiap kibaran bendera, setiap sorakan penonton. Ini jadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga kebersamaan hari ini.
“Merayakan kemerdekaan Indonesia berarti juga merayakan keberagaman masyarakatnya. Kami bangga bisa ikut menjaga tradisi, dari permainan khas 17an hingga semangat gotong royongnya,” tambah Rindu.
Dalam momen ini, Bejo Jahe Merah juga mengibarkan bendera bersama Urrofi. Yaitu traveler content creator yang menjelajah Overland Borneo untuk mengungkap keindahan tersembunyi Indonesia. Bersama Jeremy Owen, Juwita Situmorang, Bang Ijal, dan We The Sibs, kampanye #PamerIndonesia pun menggema lewat media sosial. Menghadirkan perayaan kemerdekaan dalam berbagai bentuk yang relevan bagi generasi hari ini.
Kini, dekorasi Dirgahayu Indonesia mulai di turunkan, panggung hiburan di bongkar dan jalanan kembali seperti biasa. Dan Euforia 17an pun berakhir sudah. Namun semangat yang lahir dari 1000 titik kemeriahan itu tidak ikut pudar. Ia tetap hidup dalam cerita-cerita sederhana. Yaitu anak kecil yang bangga jadi juara lomba, ibu-ibu yang tertawa mengingat momen lucu. Sampai dengan bapak-bapak yang masih membicarakan panjat pinang.
“Seperti halnya Bejo Jahe Merah yang setia menemani masyarakat, semangat #AkuMerahPutih dan kebanggaan #PamerIndonesia akan terus menyala. Karena kemerdekaan bukan hanya di rayakan setahun sekali, tapi setiap kali kita tertawa bersama, bergotong royong dan merasa bangga sebagai bangsa Indonesia”. Pungkas Rindu Melati Siregar.
(***)






