
trenddjakarta.com, Jakarta, 15 September 2025 – Indonesian Business Council (IBC), asosiasi bisnis sekaligus think-tank, melakukan kunjungan resmi pertama ke Australia untuk memperkenalkan peran dan berbagai inisiatif IBC, sekaligus menghadiri AFR Asia Summit 2025 yang menandai keterlibatan aktif sektor swasta Indonesia dalam dialog strategis mengenai masa depan ekonomi dan stabilitas kawasan Asia. Dalam kunjungan ke Sydney dan Canberra pada 8–11 September 2025. IBC membangun hubungan dengan kalangan pemerintah, dunia usaha dan akademisi. Serta mulai menyampaikan rencana penyelenggaraan Indonesia Economic Summit (IES) 2026.
Di Sydney, IBC bertemu dengan Senator Don Farrell, Minister for Trade and Tourism Australia. Pertemuan ini menjadi salah satu agenda utama dan momentum penting untuk membicarakan peningkatan arus dagang dan peluang kemitraan investasi lintas sektor. Dalam kesempatan tersebut, IBC juga secara resmi mengundang Senator Farrell untuk menghadiri Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta. Dan memimpin delegasi Australia pada forum bilateral Indonesia–Australia.
“Selain memperkuat jejaring asosiasi, kunjungan ini juga mendorong agenda mobilitas tenaga kerja untuk peningkatan kualitas SDM”. Ujar Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid.
Delegasi juga berdialog dengan Senator Matt Thistlethwaite Assistant Minister for Foreign Affairs and Trade; Assistant Minister for Immigration Australia. Yaitu mengenai potensi mobilitas tenaga kerja di sektor kesehatan. Indonesia memiliki surplus perawat, sementara Australia menghadapi kekurangan; di sisi lain Australia memiliki surplus dokter. Surplus ini merupakan peluang untuk kedua negara dapat saling melengkapi melalui pelatihan dan penempatan yang terarah.
Masih di Sydney, IBC mengadakan pertemuan dengan Jennifer Westacott AC, Australia’s Business Champion for Indonesia, serta Paul Grimes, CEO Austrade. Mereka hadir untuk membahas pentingnya upaya mengurai hambatan investasi, mengoptimalkan pemanfaatan IA-CEPA. Dan juga membuka peluang investasi di tingkat daerah.
Delegasi IBC juga menuntaskan pembahasan dengan Business Council of Australia (BCA) dengan menyiapkan kerja sama kelembagaan IBC–BCA sebagai kanal business-to-business (B2B) untuk memfasilitasi kemitraan sektor swasta di kedua negara. Pada saat yang sama, IBC berdiskusi dengan Lowy Institute mengenai dinamika geopolitik dan geoekonomi Indo-Pasifik. Serta implikasinya terhadap peluang penguatan perdagangan dan investasi Indonesia–Australia.
Sebagai bagian dari rangkaian kunjungan. IBC (Indonesian Business Council) turut berpartisipasi dalam AFR Asia Summit 2025. Di mana Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menjadi pembicara dalam sesi panel bertajuk “Navigating Asia’s Geopolitics to Advance Australia’s Prosperity”. Pada kesempatan tersebut, Ia menegaskan pentingnya peran ASEAN di tengah persaingan geopolitik kawasan. Dan yang menyoroti inklusivitas sebagai kekuatan yang mampu mengubah kompetisi menjadi kolaborasi. Ia pun menekankan titik temu (common ground) pertumbuhan Asia adalah perdamaian dan stabilitas. Prasyarat bagi integrasi rantai pasok dan arus investasi yang berkelanjutan.
“Asia di satukan bukan hanya dengan garis batas, melainkan oleh tekad menjaga perdamaian dan stabilitas. Inklusivitas adalah kekuatan bersama,” ungkap Arsjad.
Di sela-sela forum, IBC mengadakan pertemuan dengan Fu Ying, Founding Chair, Center for International Security and Strategy. Yang mana beliau mantan Menteri Luar Negeri Tiongkok sekaligus mantan Dubes Tiongkok untuk Australia. Diskusi kali ini menyoroti perlunya memperdalam hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok, terutama ketika rantai pasok global tengah mengalami pergeseran besar. Delegasi IBC juga berkesempatan untuk berdiskusi dengan Tatsuya Terazawa, Chairman & CEO Institute of Energy Economics Japan. Yaitu untuk membahas transisi energi dan investasi energi bersih di kawasan.
Kehadiran IBC di Asia Summit dan pertemuan bilateral di Sydney mencerminkan posisi sektor swasta Indonesia. Dan yang semakin di libatkan dalam diplomasi ekonomi regional.
Roadshow kemudian berlanjut ke Canberra di mana IBC bertemu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia, serta berdialog dengan akademisi di Australian National University (ANU) terkait tantangan politik-ekonomi Indonesia dan peluang kerja sama perdagangan-investasi. “Kami melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, dan ekonomi antara Indonesia dan Australia. Roadshow ini adalah langkah nyata untuk mendorong momentum tersebut,” tambah Arsjad.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju Indonesia Economic Summit (IES) 2026). Yang akan berlangsung di Jakarta pada 3–4 Februari 2026 dengan tema “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity”. Forum ini di targetkan menghadirkan lebih dari 1.500 pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan pakar global untuk membahas strategi pertumbuhan berkelanjutan.




