
trenddjakarta.com, Bali, 9 Oktober 2025 – Pendekatan entrepreneurial marketing menjadi bahasan penting dalam Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2025 yang di gelar di Griya Santrian Resort Bali. Melalui sesi Masterclass by Hermawan Kartajaya: Strategic Entrepreneurial Marketing for Hospitality, peserta di ajak memahami bagaimana sinergi antara kreativitas dan efisiensi dapat memperkuat daya saing industri hospitality pada era disrupsi.
Ida Bagus Gede Sidharta Putra, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara pembelajaran dan pembangunan berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem pariwisata Bali. “Pembangunan pariwisata bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga bagaimana kita membangun manusia dan pengetahuan di dalamnya. Melalui pembelajaran lintas sektor seperti ini, kita memperkuat kapasitas pelaku industri agar Bali dan Indonesia mampu beradaptasi di tengah perubahan global,” ujarnya.
Dalam paparannya, Hermawan Kartajaya, Founder & Chair of MCorp menjelaskan. Omnihouse Model lewat bukunya “Entrepreneurial Marketing: Beyond Professionalism to Creativity, Leadership, and Sustainability”. Konsep ini menekankan sinergi antara antara Marketing yang berjiwa Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership (CIEL) dengan Finance yang menumbuhkan Productivity, Improvement, Professionalism, dan Management (PIPM).
“Inovasi sejati bukan hanya sulap kata-kata atau ide kreatif belaka, tetapi harus betul-betul terbukti dampaknya. Inilah mengapa CIEL harus terintegrasi dengan teknologi, seperti ChatGPT untuk menghasilkan bukti nyata,” kata Hermawan.
Selain itu, Hermawan juga mengaitkan dengan prinsip Quality, Cost, Delivery, Service (QCDS) yang mendukung implementasi Operational Excellence. Konsep QCDS ini tercantum dalam seri kedua Entrepreneurial Marketing yang berjudul “Reimagining Operational Excellence: Inspirations from Asia”. “Operation adalah driver dari QCDS. Kuncinya adalah membuat Quality yang bagus, tetapidengan Cost yang sangat murah. Cost boleh meningkat, asal Quality naik jauh lebih tinggi, sebab di situlah peran kreativitas dan inovasi kita bekerja,” ucap Hermawan.
Pendekatan tersebut relevan bagi industri hospitality. Yang di tuntut untuk tidak hanya kreatif dalam menarik wisatawan, tetapi juga efisien, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepuasan pelanggan. Konsep tersebut diperkaya dengan studi kasus Prama Sanur Beach Hotel. Yang di presentasikan oleh General Manager Prama Sanur Beach Hotel, I Gusti Bagus Surya Candra Sasmita. Ia menunjukkan bagaimana penerapan prinsip QCDS dapat menjaga kualitas layanan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“Dengan memetakan lima industry drivers dan mengintegrasikannya ke dalam QCDS. Kami dapat menciptakan operasional yang lebih efektif dan selaras dengan strategi positioning dengan implementasi di lapangan,” kata Bagus Surya.
Sementara itu, Ferdy Hartanto, Chief Executive of Surabaya Branch MCorp menambahkan bahwa pelaku industri perlu mengadopsi pola pikir entrepreneurial marketer yang memadukan keberanian berinovasi dan ketajaman bisnis. “Omnihouse Model menjadi alat ukur komprehensif yang menyatukan aspek Marketing, Finance dan Operation dalam satu kerangka strategis. Sehingga pelaku industri dapat menyeimbangkan target finansial dan strategi pemasaran secara terukur,” ujarnya.
Hari kedua ITMW 2025 di tutup dengan kegiatan pelepasan tukik (anak penyu) di area pantai belakang Griya Santrian Resort. Aktivitas ini menjadi simbol komitmen untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kelestarian lingkungan. Sejalan dengan semangat ITMW 2025 yang menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari masa depan pariwisata Indonesia.
(***)




