
trenddjakarta.com, Akhir tahun 1992, Ayah yang nanti bakal gue panggil insinyur bodoh, baru aja dapet bonus dari hasil kerja kerasnya. Entah kenapa, mungkin karena semangat spontan yang ajaib atau perhitungan logika ngawur ala beliau, tiba-tiba aja beliau mutusin hal besar buat keluarga kami. Yaitu pindah dari Jatinegara ke sebuah desa terpencil di Jawa Barat.
Waktu itu, gue masih kecil. Tapi momen itu, entah kenapa, nempel banget di kepala. Rasanya kayak mau berangkat ke petualangan misterius, padahal, ya cuma pindahan rumah.
Emak, Ibu Nuryani seperti biasa tetap cantik. Beneran deh, kembang desa asli dari kampungnya sendiri. Jadi kalau gue bilang cantik, itu bukan bumbu cerita, tapi fakta lapangan. Kami, anak-anaknya, ikut pindah. Ada Kak Suci Nurjanah, si kakak kalem. Dan gue bocah bungsu yang polos banget. Gue belum ngerti apa-apa soal pindahan, tapi ada satu hal yang langsung menonjol, yaitu cara jalan gue.
Gaya jalan gue aneh. Kaku, miring-miring, katanya mirip Robot Gedeg di film Warkop. Emak suka nyeletuk sambil ngakak,
“Waduh, anak gue jalannya kayak teko tua di geret ke pasar, nih.”
Gue cuma nyengir bingung. Nggak ngerti lucunya di mana, tapi ikut ketawa aja biar aman. Kadang, kakak-kakak cantik di sekitar rumah suka nyiumin pipi gue, terus ngetawain cara gue melangkah. Gue sih cuma pengen kabur ke halaman, liat ayam, kambing, atau air terjun mini di samping jembatan. Dunia gue waktu itu sesederhana itu.
Ada satu foto yang masih nyisa sampai sekarang. Gue berdiri tegak, pakai baju polkadot, sepatu kecil lucu, senyum lebar kayak siap lomba jalan cepat. Padahal di kepala, yang gue pikirin cuma satu. Yaitu nangkap kambing nakal di depan rumah sebelum dia kabur entah ke mana.
Desa baru itu, meski asing, rasanya kayak surga kecil. Jalan tanah berdebu, ayam berkokok tiap pagi, bau dapur tetangga yang masak nasi hangat, suara jangkrik yang nyusup di malam hari. Dan satu hal yang bikin gue bengong tiap sore, yaitu kunang-kunang. Serius, hewan kecil itu badannya nyala di kegelapan! Buat gue, itu kayak sulap.
Dan di tengah semua itu, ada si Robot Gedeg yaitu gue sendiri. Yang jalannya masih miring-miring, tapi selalu penasaran sama dunia.
Kadang gue suka duduk bengong, liatin kambing kecil yang lagi nyusu sama induknya. Entah kenapa, gue senang sekaligus bingung. Mungkin karena gue sendiri belum bisa ngomong jelas. Kadang cuma keluar suara kayak, “Gle… gle…”atau“Eh… eh…”
Tapi di kepala gue waktu itu, gue yakin kambing ngerti maksud gue. Setidaknya gue mau percaya begitu.
Beberapa hari setelah pindah, gue mulai keliling rumah baru. Dari sinilah dunia si Robot Gedeg beneran di mulai. Semua seolah udah di rancang sama sang insinyur bodoh Ayah gue, Zulkarnaen. Entah itu naluri, takdir, atau hitungan matematika aneh versi beliau. Intinya rumah yang di pilih tuh paling pojok, paling jauh dari jalan utama dan paling dekat sama sunyi.
Dari luar, rumahnya kelihatan kayak campuran antara rumah tua dan karya seni gagal. Setengah tembok bata, setengah dinding kayu. Sekarang mungkin terlihat biasa, tapi waktu itu rasanya kayak istana kecil di tengah hutan rahasia.
Pagar depannya dari kayu, di hiasi ukiran motif sulur yang meliuk-liuk. Kata insinyur bodoh, itu hasil barter sama tukang ukir dari Cirebon. Setiap pagi, cahaya matahari nyelinap lewat celah ukiran pagar itu, jatuh ke tanah basah, bikin bayangan berliku-liku kayak pola misterius. Gue suka berdiri di sana, kaki di buka, tangan di pinggang, gaya-gayaan jadi penjaga kerajaan. Padahal, kalau kata Emak, gue lebih mirip teko hidup yang lagi mogok.
Di sebelah rumah, tumbuh hutan bambu yang rimbun banget. Kalau sore, anginnya datang sambil bawa suara “srek-srek-srek”. Kayak bisikan masa lalu atau panggilan buat petualangan yang belum kejadian. Kata orang kampung, di balik hutan bambu itu ada jalan setapak ke sungai. Dan gue tahu cepat atau lambat, si Robot Gedeg bakal ke sana.
Dengan langkah miringnya, dengan rasa penasaran yang lebih besar dari badannya sendiri.
Dunia kecil gue sederhana banget. Rumah pojok, pagar kayu berukir, hutan bambu penuh rahasia dan kambing-kambing yang selalu nongol di waktu yang nggak tepat. Tapi entah kenapa, semua itu berasa kayak panggung yang udah di siapin semesta buat satu karakter aja, gue.
Robot kecil, langkah miring, kepala kosong penuh imajinasi dan suara yang masih berantakan. Tapi di balik itu, ada perasaan hangat yang gue nggak tahu cara jelasinnya waktu itu. Mungkin ini yang di sebut mulai punya kenangan.
Gue inget banget, umur gue waktu itu baru empat tahun. Masih belum bisa ngomong jelas, tapi udah banyak omong bahaya tuh kombinasi. Kadang orang nggak ngerti apa yang gue ucapin, tapi gue cuek. Dalam hati kecil gue waktu itu, gue ngerasa kayak ada dunia mini di kepala gue, yang cuma gue dan Tuhan yang ngerti. Kadang gue mikir, mungkin si insinyur bodoh itu sebenarnya lagi ngerakit dunia kecil buat gue main-main di dalamnya.
Dan pagi itu, semuanya terasa hidup. Cahaya matahari main di pagar kayu, angin siulan bambu, kambing berlari ke sana-sini, dan gue robot kecil yang belum ngerti apa-apa berdiri di tengahnya, ngerasa kayak penjelajah dunia baru.
Itulah awal segalanya. Awal dari cerita hidup gue. Awal dari si Robot Gedeg.
(***)







