
trenddjakarta.com, Jakarta, 10 April 2026 — Kuartet instrumental asal Kabupaten Bandung, Basajan, resmi merilis album perdana mereka bertajuk Béwara. Setelah memperkenalkan lanskap sonik mereka melalui beberapa rilisan sebelumnya. Album ini menjadi pernyataan utuh tentang bagaimana Basajan menerjemahkan budaya Sunda ke dalam eksplorasi musik modern yang penuh warna.
Berisi 10 trek, “Béwara” di rancang sebagai sebuah perjalanan konseptual yang berangkat dari filosofi kosmologi Sunda, yakni Tri Tangtu. Melalui pendekatan ini, Basajan membagi album ke dalam tiga dimensi kehidupan yang saling terhubung: spiritual, dunia manusia, dan refleksi akan akhir.
Pada bagian Buana Nyungcung, Basajan menghadirkan nuansa sakral yang merepresentasikan hubungan manusia dengan Sang Hyang Kersa. Trek seperti “Wilujeng”, “Ageman”, “Nadoman”, dan “Pamali”. Yang di bangun dengan pendekatan repetitif dan atmosferik dan menciptakan ruang kontemplasi yang dalam sekaligus transenden.
Beranjak ke Buana Panca Tengah, Basajan menggeser fokus ke dinamika kehidupan sehari-hari. “Uleman”, “Talaah”, dan “Sonten” merefleksikan ritme hidup manusia. Dari interaksi sosial hingga momen-momen personal yang sederhana namun bermakna. Groove yang lebih terasa membumi menjadi benang merah di bagian ini.
Sementara itu, Buana Larang menjadi ruang eksplorasi yang lebih gelap dan reflektif. Melalui trek seperti “Pileuleuyan”, “1971”, “Panon Poe”, dan “Waas”. Basajan mengolah tema tentang perpisahan, akhir, dan penerimaan akan kefanaan. Lapisan bunyi yang lebih eksperimental dan emosional memperkuat kesan kontemplatif di fase ini.
Secara musikal, Béwara tetap berpijak pada identitas musik Basajan yang mereka sebut sebagai Priangan Psychedelic Groove; Perpaduan antara ritme groovy, tekstur psikedelia, serta nuansa musikal Sunda yang khas. Eksplorasi ini di perkuat dengan kontribusi Rezki Delian pada permainan perkusi. Yang menambah dimensi ritmis yang lebih hidup dan dinamis di sepanjang album.
Secara visual, Béwara di balut dengan estetika yang kuat. Donatian Argil ‘Gege’ Saga bertanggung jawab atas desain logo. Sementara sampul album menampilkan karya seniman Yuri Yeuyanan yang berjudul “Badai Beureum” (Badai Merah). Lukisan tersebut merupakan simbol pencarian identitas dan keberanian untuk menyatakan diri sebagai sebuah béwara (maklumat) tentang proses menjadi utuh. Estetika ini di pertegas oleh desainer ilustrasi Syahbira Atras yang menggabungkan gaya komik Amerika dengan unsur tradisional Sunda pada kemasan fisik album.
“Béwara bukan hanya kumpulan komposisi instrumental, tetapi juga sebuah upaya Basajan dalam merangkai narasi tentang spiritualitas, keseharian, dan refleksi hidup melalui bunyi. Album ini mempertegas posisi Basajan sebagai salah satu proyek musik yang konsisten menggali identitas lokal dengan pendekatan kontemporer.” Ujar Adhit, personel Basajan.
Bahasa Ibu Records sebagai label rekaman yang menaungi Basajan menyambut baik album Béwara, yang akan di rilis pada 10 April 2026. Album perdana Basajan ini adalah sebuah upaya dalam menggali spiritualitas dan budaya Sunda. Yang di wujudkan dalam bentuk musik instrumental yang kaya dan beragam.
“Béwara akan mengajak pendengar ke dalam perjalanan spiritual yang mendalam dan kontemplatif. Album ini tidak hanya mengusung keunikan musik Sunda, tetapi juga menghadirkan nuansa psikedelia dan groove yang modern. Dengan strategi promosi yang tepat, termasuk tur Jepang dan partisipasi dalam festival internasional, Béwara akan membawa Basajan kepada audiens yang lebih luas, baik di Indonesia maupun global.” Pungkas Kemfau, Program Director Bahasa Ibu Records.
Album Béwara sudah dapat di nikmati di berbagai platform musik digital serta dalam format full track download di laman resmi www.bahasaiburecords.id mulai 10 April 2026. Sementara untuk format rilisan fisik berupa cakram padat (CD) akan menjadi rilisan khusus dalam perayaan Record Store Day pada tanggal 18 April 2026 mendatang.(***)






