
trenddjakarta.com, Jakarta, 11 Juni 2026 – Daewoong Pharmaceutical Indonesia (selanjutnya di sebut “Daewoong”). Yang bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar sesi edukasi media di Jakarta. Yaitu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kardiovaskular.
Di selenggarakan menjelang World Heart Day. Sesi ini menyoroti masih banyaknya pasien di Indonesia yang belum mengenali tanda bahaya nyeri dada sejak dini sehingga kehilangan waktu penting untuk mendapatkan penanganan. Daewoong dan PERKI berkolaborasi untuk meluruskan pemahaman bahwa Angin Duduk, yang kerap di anggap sebagai masuk angin biasa dan di tangani dengan cara tradisional. Seperti Kerokan atau kerok, dapat menjadi tanda awal angina pektoris, yaitu kondisi jantung serius yang membutuhkan perhatian medis.
Berdasarkan studi One ACS Registry yang melibatkan 14 rumah sakit di Indonesia. Dari pasien infark miokard akut yang membutuhkan penanganan darurat pada periode Juli 2018 hingga Juni 2019, sebanyak 34,8% tidak mendapatkan terapi reperfusi untuk membuka kembali pembuluh darah jantung yang tersumbat. Hanya 21,8% pasien yang menerima penanganan dalam waktu tiga jam sejak gejala muncul. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak pasien belum langsung mengenali gejala awal seperti nyeri dada sebagai tanda bahaya. Dan baru mencari pertolongan medis ketika kondisi sudah memburuk. Daewoong dan PERKI menekankan pentingnya perubahan kesadaran agar gejala nyeri dada seperti Angin Duduk tidak d ianggap sebagai pegal, kelelahan, atau masuk angin biasa. Tetapi di pahami sebagai sinyal untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Dalam sesi tersebut, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, FESC dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berafiliasi dengan PERKI. Mengingatkan masyarakat mengenai bahaya Angin Duduk.
“Angin Duduk yang sering di anggap ringan dan coba di atasi dengan kerokan sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris. Yaitu kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup,” ujar dr. Febtusia. “Terutama bila nyeri terasa seperti di tekan di bagian tengah dada, menjalar ke rahang atau lengan. Atau muncul bahkan saat beristirahat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda peringatan angina tidak stabil atau infark miokard akut.”
Ia menambahkan, “Jika di biarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak. Pasien perlu segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan memulai pengobatan yang sesuai.”
dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menjelaskan. Bahwa pengelolaan ketat kadar LDL-C, yang di kenal sebagai kolesterol jahat, hingga di bawah 55 mg/dL penting untuk membantu mengendalikan salah satu penyebab utama angina.
“Bagi pasien yang sulit mencapai target dengan terapi statin tunggal konvensional. Atau memiliki kekhawatiran terhadap efek samping statin dosis tinggi. Pendekatan jalur ganda atau dual-pathway berbasis kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi pilihan yang efektif. Pendekatan ini bekerja dengan menghambat sintesis kolesterol di hati sekaligus mengurangi penyerapan kolesterol di usus,” ujar dr. Wicak.
Ia juga memperkenalkan terapi kombinasi Daewoong sebagai salah satu opsi pengobatan yang di rancang untuk meningkatkan kemudahan minum obat dengan menggabungkan dua zat aktif dalam satu tablet.
Baik In Hyun, Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical, mengatakan. “Selama lebih dari 20 tahun, Daewoong telah tumbuh bersama Indonesia dan berupaya berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di negara ini. Melalui kolaborasi dengan PERKI ini, kami akan terus bekerja sama dengan para tenaga medis untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat, berbasis sains, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia.”
(***)






