
trenddjakarta.com, Jakarta, 6 Agustus 2026 – Penelitian terbaru dari International Workplace Group (IWG) mengungkapkan hampir 7 dari 10 (69%) orang tua merasa stres dalam mengatur penitipan anak selama libur sekolah. Dalam upaya mencari solusi tersebut, 8 dari 10 (78%) responden menyatakan memiliki akses ke ruang kerja lokal. Dan yang akan meringankan stres tersebut.
Hal ini terjadi di tengah kondisi di mana hampir tiga perempat (74%) orang tua menyatakan mereka perlu bekerja secara fleksibel. Di mana untuk mengurangi biaya penitipan anak selama libur sekolah berlangsung. Yang mengingat tekanan inflasi global yang terus berlanjut. Lebih dalam, lebih dari seperempat (27%) memperkirakan mereka mengeluarkan biaya lebih besar untuk penitipan anak. Yaitu selama musim libur sekolah tahun ini, di bandingkan sebelumnya. Dengan biaya penitipan anak tambahan selama libur sekolah bagi para orang tua. Fleksibilitas menjadi solusi bagi banyak keluarga yang berusaha menyeimbangkan urusan keluarga dan pekerjaan.
Berkurangnya Fleksibilitas Menjadi Tantangan bagi Para Orang Tua Saat Liburan Sekolah
Para orang tua yang menghadapi pengurangan kebijakan kerja fleksibel di tempat kerja tahun ini (55%, naik dari 33% pada tahun 2025). Dan di tuntut mengambil langkah-langkah penyesuaian tambahan untuk membantu menyeimbangkan kepentingan mengasuh anak dan beban kerja selama musim liburan.
Lebih dari seperempat (27%) kini mengaku semakin bergantung pada bantuan dari teman dan keluarga. Sementara 26% di antaranya menilai kewajiban bekerja dari kantor pusat memperbesar ketimpangan pembagian tanggung jawab pengasuhan dengan pasangan. Kondisi ini kemudian berdampak secara tidak proporsional terhadap ibu pekerja yang 8% lebih mungkin merasakan tekanan tambahan. Yang di sebabkan mengelola pengasuhan anak selama libur sekolah, lebih tinggi di bandingkan pria (75% untuk ibu, 66% untuk ayah).
Para Orang Tua Menyesuaikan Pola Kerja selama Musim Liburan
Sebanyak tiga perempat (75%) orang tua juga mengatakan bahwa rutinitas keluarga mereka selama liburan turut memengaruhi kehidupan kerja mereka. Sekitar seperempat responden (26%) bahkan mengaku lebih sulit berkonsentrasi ketika harus menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab di rumah secara bersamaan.
Untuk mengatasi tekanan tambahan selama libur sekolah. Lebih dari seperempat responden (28%) terpaksa menggunakan sebagian jatah cuti tahunan mereka untuk mengasuh anak. Bahkan, satu dari lima orang tua (18%) menghabiskan seluruh jatah cuti tahunan mereka selama periode libur sekolah.
Survei ini juga menunjukkan bahwa 22% orang tua yang bekerja mengurangi jumlah rapat atau panggilan kerja selama periode tersebut, atau memilih bekerja hingga larut malam, demi menyesuaikan kebutuhan pengasuhan anak. Sementara itu, 21% lainnya memulai hari kerja lebih awal untuk mengejar beban pekerjaan.
Meski demikian, para orang tua juga melihat adanya solusi yang dapat membantu. Di mana 83% responden menyatakan akan memanfaatkan ruang kerja fleksibel profesional yang lokasinya lebih dekat dengan rumah. Apabila fasilitas tersebut di sediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan, 27% percaya kebijakan tersebut akan memberi mereka lebih banyak waktu berkualitas bersama anak-anak selama musim libur.
Penerapan Sistem Kerja Hibrida Bantu Tekan Biaya Pengasuhan Anak dan Meningkatkan Produktivitas
Temuan survei ini menunjukkan bahwa penerapan sistem kerja hibrida dapat membantu orang tua mengelola pengasuhan anak dengan lebih efektif selama musim libur. Lebih dari dua pertiga responden (69%) mengaku mengeluarkan biaya transportasi yang lebih rendah pada periode tersebut, sehingga dapat mengalokasikan penghematan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan anak. Hal ini semakin menegaskan manfaat bekerja lebih dekat dengan rumah.
Hal ini sejalan dengan bukti yang lebih luas mengenai manfaat bisnis dari kerja terdistribusi. Penelitian terbaru IWG bersama Arup, menemukan bahwa perusahaan yang memberdayakan karyawan untuk menggunakan ruang kerja dan kantor lokal sebagai bagian dari strategi kerja hibrida berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 12% dalam lima tahun ke depan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa pengaturan kerja fleksibel dapat mengurangi tingkat pengunduran diri sukarela hingga 20% di AS, yang berpotensi menghasilkan penghematan tahunan sebesar 22 miliar dolar AS pada tahun 2030 dan 45 miliar dolar AS pada tahun 2045.
Secara keseluruhan, temuan ini menekankan betapa pentingnya fleksibilitas bagi orang tua yang bekerja selama liburan sekolah. Dengan jutaan orang yang harus mengelola biaya pengasuhan anak, rutinitas keluarga, serta perubahan tempat dan waktu kerja, kemampuan untuk bekerja secara fleksibel dan lebih dekat dengan rumah memainkan peran penting dalam membantu keluarga menjalani periode tersebut dengan lebih efektif.
Fatima Koning, Chief Commercial Officer, IWG mengatakan: “Fleksibilitas tempat kerja tidak hanya mendukung kesejahteraan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan mental secara keseluruhan dan kepuasan kerja karyawan. Dengan mengakomodasi kebutuhan orang tua yang bekerja melalui akses yang lebih baik ke tempat kerja, terutama ruang kerja lokal, perusahaan dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang lebih mendukung dan produktif, serta pada akhirnya mendorong produktivitas dan retensi talenta perusahaan.”
(***)





