
trenddjakarta.com,Yogyakarta, 15 September 2026 – Bagi banyak anak muda hari ini, dance bukan sesuatu yang asing. Gerak hadir di layar ponsel, di studio-studio kecil, komunitas kampus, panggung lokal, hingga berbagai tren yang berganti hampir setiap hari di media sosial. Namun di balik sesuatu yang terlihat menyenangkan dan spontan itu, ada disiplin, kreativitas, kebugaran, identitas. Dan jika mendapat ruang yang tepat, menjadi potensi untuk berkembang menjadi prestasi. Perjalanan Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 menunjukkan kemungkinan itu.
Dari Medan di bagian barat Indonesia hingga Sulawesi, kompetisi ini bergerak menyusuri berbagai regional untuk mencari kelompok-kelompok muda dengan karakter yang berbeda. Setelah melalui submission, audisi, dan semifinal di enam regional, ribuan peserta akhirnya mengerucut menjadi tujuh finalis yang bertemu di panggung Grand Final di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta.
Mereka tidak datang membawa satu gaya yang seragam. Setiap tim membawa referensi musik, cara bergerak, latar komunitas, serta interpretasi berbeda terhadap tema Modern with Indonesian Heritage. Di sinilah kompetisi menemukan relevansinya. Di mana budaya tidak hanya di tempatkan sebagai sesuatu yang harus di jaga dalam bentuk lama, tetapi juga dapat di tafsirkan kembali oleh generasi baru melalui bahasa yang mereka pahami.
Menurut Andry Mahyudi, Head of OTC, Women Health and Natural Wellness Category Kalbe Consumer Health, keberagaman tersebut menjadi salah satu pelajaran terpenting dari perjalanan POTEK Dance Fest. “Sejak awal kami ingin POTEK Dance Fest hadir langsung di berbagai daerah dan melihat bagaimana setiap komunitas membawa warna mereka sendiri ke atas panggung. Tahun ini kami menemukan begitu banyak talenta dengan gaya dan cerita yang berbeda. Itu membuat kami semakin yakin bahwa anak muda Indonesia membutuhkan ruang untuk mengembangkan passion mereka, sekaligus menunjukkan identitas dan kreativitasnya,” tutur Andry Mahyudi.
Ketika Hobi Di beri Jalan Menjadi Prestasi
Ada perbedaan besar antara sekadar menyukai sesuatu dan mendapat kesempatan untuk mengembangkannya. POTEK Dance Fest mencoba menjembatani keduanya. Kompetisi memberi peserta alasan untuk berlatih lebih serius, menyusun konsep, bekerja sebagai tim, menerima penilaian, melihat karya kelompok lain, hingga tampil di luar daerah mereka sendiri. Pada akhirnya, A-YOUNGZ dari Jabodetabek keluar sebagai Grand Prize Winner 2026 dengan hadiah Rp50 juta serta kesempatan berangkat ke Jepang.
Namun kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan perjalanan ini.
Pada 2025, POTEK Dance Fest di ikuti 1.449 grup. Setahun kemudian jumlah pendaftar bertambah menjadi 1.779 grup. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa di luar tujuh finalis yang akhirnya tampil di Yogyakarta, masih ada ribuan anak muda dengan minat, energi, dan bakat yang ingin mendapatkan ruang.
Artinya, pekerjaan menjaring talenta belum selesai. Bisa jadi masih banyak komunitas dan dancer dari berbagai wilayah Indonesia yang belum tersentuh tahun ini. Justru di situlah peluang berikutnya berada.
Kehadiran Ibuki Imata, international dancer asal Jepang yang menjadi International Judge, juga memberi perspektif lain tentang arti sebuah kompetisi.
Menurut Ibuki, kompetisi bukan hanya tempat mencari pemenang, tetapi ruang pertukaran gagasan. Peserta melihat bagaimana orang lain bekerja, menemukan referensi baru, lalu kembali mempertanyakan identitas karya mereka sendiri. “Kompetisi memberi dancer kesempatan untuk belajar bukan hanya dari juri, tetapi juga dari peserta lain. Saya senang melihat bagaimana para finalis membawa karakter mereka sendiri dan menerjemahkan unsur budaya Indonesia melalui dance modern. Saya berharap pengalaman ini membuat mereka semakin percaya diri untuk mengeksplorasi ide, mengembangkan kemampuan, dan membawa karya mereka ke level yang lebih tinggi.”
Pesan tersebut penting dalam konteks Modern with Indonesian Heritage. Menjaga warisan budaya tidak selalu berarti mempertahankannya tanpa perubahan. Bagi generasi baru, menjaga heritage juga dapat berarti mengenalnya, mengolahnya, lalu membawanya kembali dalam bentuk yang relevan dengan zaman mereka.
Dengan begitu, dance menjadi lebih dari sebuah pertunjukan. Ia dapat menjadi bahasa generasi baru untuk berbicara tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Dari Passion Menuju Gaya Hidup Aktif
Ada nilai lain yang sering luput ketika membicarakan dance: tubuh harus bergerak.
Di tengah kecenderungan gaya hidup yang semakin banyak berlangsung di depan layar. Aktivitas yang memang di sukai anak muda dapat menjadi pintu masuk yang lebih realistis menuju kebiasaan aktif.
Dokter Olahraga dan Health Influencer dr. Ikhwan Zein, Sp.KO., Subsp.ALK (K), Ph.D. menjelaskan bahwa aktivitas fisik tidak selalu harus di mulai dari olahraga berat.
“Dance dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas fisik yang menyenangkan karena melibatkan berbagai bagian tubuh. Ketika di lakukan secara rutin dengan durasi dan intensitas yang sesuai kemampuan, dance dapat memberikan stimulus bagi sistem kardiorespirasi. Jadi yang penting bukan hanya bergerak sesaat, tetapi bagaimana aktivitas yang kita sukai kemudian berkembang menjadi kebiasaan aktif.”
Dalam konteks inilah kampanye #DanceOnCoughOff dan gagasan 15 Menit Dance menemukan tempatnya: bukan sebagai pengganti seluruh kebutuhan olahraga, tetapi sebagai ajakan sederhana untuk mulai bergerak.
Hobi yang dilakukan berulang dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dibangun dengan baik dapat berkembang menjadi gaya hidup. Dan bagi sebagian anak muda, jalan menuju hidup aktif mungkin memang tidak dimulai dari treadmill atau lapangan olahraga, melainkan dari musik yang mereka sukai dan keberanian untuk mulai bergerak.
Perjalanan yang Belum Selesai
Dua tahun perjalanan POTEK Dance Fest memberi satu pelajaran sederhana: anak muda tidak kekurangan bakat maupun passion; yang sering kali mereka butuhkan adalah ruang, kesempatan, dan alasan untuk membawa keduanya lebih jauh.
Tahun ini, perjalanan dari berbagai regional berakhir di Prambanan. Tetapi bagi para peserta, panggung final justru dapat menjadi awal perjalanan lain menuju komunitas yang lebih luas, karya yang lebih matang, pengalaman internasional. Atau juga sekadar keberanian untuk terus melakukan sesuatu yang mereka cintai.
Pertumbuhan jumlah peserta dari tahun ke tahun juga membuka harapan bahwa ruang seperti ini masih memiliki perjalanan panjang di Indonesia. Masih ada daerah yang bisa dijangkau, talenta yang belum ditemukan, cerita lokal yang belum diterjemahkan menjadi gerak. Dan anak-anak muda yang mungkin hari ini hanya menari di depan layar ponsel, tetapi kelak siap berdiri di atas panggung.
Seperti dikatakan Andry, “Kami berharap perjalanan ini tidak berhenti pada siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman yang mereka dapatkan bisa membuat mereka berkembang, membawa inspirasi kembali ke komunitasnya. Dan mendorong lebih banyak anak muda Indonesia untuk berani mengembangkan passion mereka.”
(***)





