
trenddjakarta.com, Kuala Lumpur/Jakarta, 28 Oktober 2025 – Indonesian Business Council (IBC) menggelar Executive Lunch Dialogue bertajuk “From Indonesia to ASEAN Incorporated” pada Jumat, 24 Oktober 2025. Pertemuan yang di gelar di sela-sela rangkaian ASEAN Business and Investment Summit 2026 ini menghimpun pemimpin bisnis, policymakers dan pakar ekonomi. Yang dari kawasan ASEAN untuk membahas bagaimana kemajuan ekonomi Asia Tenggara dapat di wujudkan oleh seluruh pihak secara bersama.
Di pimpin oleh Chairman of the Board dan CEO dari IBC. Dialog ini mempertemukan perwakilan anggota IBC, dari Sinarmas dan Paragon Corp, serta tiga Sovereign Wealth Fund (SWF) terkemuka dari ASEAN yaitu Temasek Holdings, Khazanah Nasional Berhad dan BPI Danantara. Serta juga private equity dan venture capital antara lain East Ventures, Bullhound Capital, dan Sriwijaya Capital. Selain itu, mewakili pengusaha Malaysia, yaitu Kuala Lumpur Business Club (KLBC) dan Sunway Group. Tak lupa, sebagai ketua dari ASEAN tahun 2026 mendatang, Chairman of ASEAN-Business Advisory Council dan dari sisi pemerintah, Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Filipina juga hadir.
Sementara ini, para pakar ekonomi termasuk Tan Sri Rebecca Fatima, dan Mari Elka Pangestu. Serta President dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) juga terlibat dalam dialog ini. Di moderasi oleh Noto Suoneto, VP for International Affairs IBC, diskusi berlangsung sangat konstruktif.
Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid mulai dengan menekankan bagaimana ASEAN memiliki dua momentum penting yang perlu di manfaatkan oleh dunia usaha. Pertama, bagaimana seluruh pemimpin ASEAN menyadari pentingnya perdagangan, investasi dan rantai pasok intra-kawasan untuk menghadapi ancaman ekonomi dan politik eksternal. Ini di aspirasikan dapat mendorong ‘resilience’. Yang kedua adalah bagaimana level of ‘confidence’ dan ‘trust’ antara pemimpin negara-negara ASEAN perlu di institusionalkan dalam sistem dan kerangka kerjasama yang konkrit di mana dunia bisnis siap mendukungnya.
“Kita ingin mendorong semangat Indonesia Incorporated. Di mana pelaku usaha, pakar dan juga pengambil kebijakan bekerjasama untuk pertumbuhan ekonomi untuk terus di gaungkan di level ASEAN,” tambah Arsjad.
Sementara itu, CEO IBC, Sofyan Djalil menyampaikan tindak lanjutnya. “Hasil dari dialog hari ini akan langsung kami bawa ke Indonesia Economic Summit pada Februari 2026 mendatang, pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN penting bagi Indonesia” ujarnya.
Tan Sri Datuk Dr. Rebecca Fatima Sta Maria menekankan pentingnya penyederhanaan proses bisnis (ease of doing business) guna meningkatkan daya saing regional. Adapun Tan Sri Rebecca menggarisbawahi dua inisiatif penting yang tengah di dorong oleh ASEAN di bawah keketuaan Malaysia. Yakni ASEAN Business Entity (ABE) yang memiliki potensi besar dalam mempermudah ekspansi dan investasi antarnegara ASEAN. Dan yang di mulai oleh ASEAN-BAC Indonesia tahun 2023.
Dalam konteks dinamika geopolitik yang semakin kompleks, Tan Sri Rebecca juga menyoroti pembentukan ASEAN Supply Chain Coordination Council, yang mencerminkan keseriusan ASEAN dalam memperkuat koordinasi serta ketahanan rantai pasok kawasan terhadap berbagai disrupsi global.
Pada kesempatan yang sama, Mari Elka Pangestu menjelaskan latar belakang pembentukan ASEAN Geoeconomic Task Force (AGTF). Yang di bentuk untuk memberikan masukan dan rekomendasi kepada para Kepala Negara ASEAN. Pembentukan AGTF ini merupakan upaya untuk memastikan ASEAN memiliki respons kolektif dan terkoordinasi dalam menghadapi tantangan eksternal di bidang geopolitik dan geoekonomi. Dan yang kian berdampak terhadap stabilitas dan pertumbuhan kawasan.
Mari Elka Pangestu dan Rebecca Fatima juga mengapresiasi untuk pertama kalinya Menteri Luar Negeri dan Menteri Ekonomi ASEAN. Setelah lebih dari 25 tahun duduk bersama untuk merumuskan kesepakatan.
Dialog ini juga memberikan kesempatan bagi anggota IBC untuk membagikan kisah sukses mereka dalam memperlebar jangkauan bisnis dan investasi perusahaan di kawasan ASEAN antara lain:
Chairman Sinar Mas Telecommunications and Technology, Franky Oesman Widjaja, menekankan potensi ekonomi kawasan ASEAN. Dan menyoroti pentingnya akselerasi infrastruktur digital untuk mendorong ekosistem ekonomi digital ASEAN. Ia juga menyoroti kolaborasi antara XL Axiata dan Smartfren. Yang kini telah bergabung menjadi XLSmart, sebagai contoh konkret dalam memperkuat people-connectivity di ASEAN.
Country Director ParagonCorp Malaysia, Zaireen Ayu Ibrahim. Menyampaikan juga bagaimana target pasar produk mereka yang sudah menjangkau pasar ASEAN memerlukan dukungan akan pengurangan hambatan perdagangan. Dan dukungan insentif inovasi terutama bagi perusahaan yang sudah melibatkan pelaku industri lokal dalam ekosistem bisnisnya.
Jose Ma. “Joey” Concepcion III, selaku Chairman ASEAN-BAC 2026, turut menyampaikan pandangannya. Yang sekaligus memaparkan prioritas utama kepemimpinan Filipina tahun depan. Yaitu penguatan sektor UMKM, yang mencakup lebih dari 70 juta pelaku usaha atau hampir 95% dari total bisnis di kawasan ASEAN. Serta ‘joint-investment’ sektor pertanian dan pemberdayaan kewirausahaan pemuda.
Dalam pertemuan tersebut, Wakil Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Undersecretary Ceferino S. Rodolfo, menyampaikan bahwa pertemuan informal seperti ini sangat bermanfaat untuk mendengarkan aspirasi para pelaku industri di kawasan ASEAN. Yang sekaligus menjadi masukan penting dalam persiapan Filipina sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2026.
Konsep diskusi ASEAN Incorporated yang bersifat informal dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan akan di laksanakan secara reguler setiap tahun. Di mana ini juga bertepatan dengan penyelenggaraan KTT ASEAN. Adapun sesi mengenai posisi strategis ASEAN dalam kerangka ekonomi dan rantai pasok global akan turut di angkat dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026 mendatang.
(***)







