
trenddjakarta.com – Hanya dalam hitungan 3 hari setelah serangan Israel Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026. Harga minyak hari ini 2 Maret 2026 melompat mendekati 80 dolar per barel. Media maistream AS menyebut harga minyak akan naik ke 90 dollar per barel. Untuk apa harga minyak naik? untuk memulihkan keuntungan perusahaan minyak raksasa yang satu per satu telah tergerus dalam satu dekade terakhir.
Dan untuk satu tujuan yang lebih besar dan yang paling besar yakni memulihkan kekuasan rezim petro dollar. Yaitu rezim uang kertas dollar yang siap di printing untuk di-utang-kan ke seluruh negara di dunia. Tapi apakah petro dollar yang tengah sekarat ini benar benar dapat di pulihkan dengan perang? dan dengan menaikkan harga minyak? Publik internasional tampaknya telah memiliki kesadaran yang lain. Mengetahui bahwa perdamaian dunia perdamaian Timur Tengah dan perdaiaman Palestina vs Israel adalah kuburan bagi rezim cetak uang kertas petro dollar system.
Tekanan terhadap petro dollar telah datang secara bertubi tubi. Gerakan climate change secara telak memukul minyak atau enegi fosil dan hendak menggantinya dengan energi baru terbaharukan. Bahkan sebagai bahan bakar sekalipun minyak bumi di tolak oleh gerakan global baru tersebut sejak Paris Agreement. Gerakan cliamete change mendesak agar minyak bumi berhenti di tambang. Sektor keuangan dan perbankan yang membiayainya terkena denda, dsn Negara dan perusahaan yang memperdagangkannya di kenakan pajak perdagangan yang besar melalui carbon tax. Transisi bertahap akan di tempuh melalui optimalisasi utilisasi gas alam, untuk selanjutnya elektrifikasi total.
Meskipun rezim baru, rezim pengganti fiat money atau rezim pengganti uang kertas printing sebenarnya masih ingin menyisahkan minyak bumi sebagai salah satu bahan bakar saja. Minyak bumi hanya di tendang keluar dari sistem global. Minyak bumi tidak lagi di jadikan sebagai jangkar mata uang. Dan tidak lagi di bentuk dengan konflik atau perang dan tidak lagi di buat atau di biakkan di Timur Tengah. di bentuk dari transparansi, keterbukaan dan bersumber dari perkembangan digitalisasi. Jangkar mata uang baru di bangun dengan cara buttom up, dari gerakan komunitas internasional yang inclusive.
Tekanan sangat kecang datang kepada The Federal Reserve yang merupakan lembaga penyelenggara petro dollar datang dari dunia maya. Supremasinya sebagai pencetak uang, sebagai pengusa uang terganggu oleh perkembangan dunia baru yang di bawa oleh penguasa dunia baru. Uang kertas cetakan yang di buat hanya bermodalkan kertas dan tinta. Serta mesin printing akan di gantikan dengan dengan uang digital yang di bentuk nilainya oleh sebuah kesepakatan komunitas internasional. Yang secara demokrasi melalui sistem digital. Tekanan paling keras dan significat adalah kebijakan dunia baru meninggapkan mata uang dollar sebagai mata uang dunia. Yang sebagai alat tukar global untuk selanjutnya akan di gantikan dengan cripto curency. Pukulan ini sangat telak, memukul mata uang dollar dan menelanjangi the Federal Reserve. Kenyataannya tidak ada cadangan atau reserve.
Presiden Donald Trump secara tegas mengatakan akan mengambi kembali The Fed untuk di Kuasai oleh negara Amerika Serikat. Donald Trump ingin mengakhiri pengusaan swasta terhadap organisasi keuangan tertinggi di dunia tersebut. Oleh Donald Trump lembaga The Fed akan di letakkan kembali di bawah kekuasan Presiden AS yakni di bawah Menteri Keuangan AS atau di bawah kebijakan goverment treasurry. Penolakan The Fed berkali kali terhadap permintaan Presiden AS telah memicu perkelahian yang sengit di antara mereka. Perkelahian inilah yang menjadi sumber huru hara dan keguncangan dunia saat ini.
Perbedaan perang dulu dengan perang saat ini di wilayah Timur Tengah adalah terletak pada konsekuensinya. Perang dulu mengokohkan bekerjanya petro dollar system dan membangun supremasi The Federal Reserve. Namun perang sekarang justru akan mengakhiri petro dolar system, membuka jalan lebih luas bagi rezim baru yang transparan. Walaupun harga minyak naik di awal perang, namun di hadapan komunitas global harga diri petro dolar telah tumbang di awal perang. Ini adalah ujung jalan, Ini adalah point of no return. Jadi apakah The Fed dan BI akan kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi? (***)
Oleh : Salamuddin Daeng






