
trenddjakarta.com, Jakarta, 11 Maret 2026 – PT Super Bank Indonesia Tbk (IDX: SUPA; “Superbank”), bank dengan layanan digital yang di dukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS, menutup tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid. Yang sekaligus mencatatkan tonggak strategis sebagai perusahaan publik pasca pencatatan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025.
Sepanjang tahun 2025, Superbank membukukan Laba Sebelum Pajak (Profit Before Tax atau PBT) sebesar Rp143,3 miliar. Menegaskan keberhasilan model bisnis digital berbasis ekosistem yang di jalankan secara di siplin dan berkelanjutan. Keberhasilan IPO tersebut memperkuat struktur permodalan Perseroan. Dan secara resmi menempatkan Superbank dalam kategori Bank Umum berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.
Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur Superbank, menyampaikan. “Tahun 2025 merupakan periode transformasional bagi Superbank. Kami mencatatkan laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama 2025. Dan menutup tahun dengan pertumbuhan yang kuat di seluruh indikator utama. Momentum IPO tidak hanya memperkokoh struktur permodalan kami, tetapi juga semakin meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap Superbank. Yaitu sebagai bank dengan layanan digital yang tumbuh sehat, efisien, dan relevan. Capaian ini mencerminkan konsistensi strategi, tata kelola yang solid. Serta sinergi yang kuat dengan ekosistem dalam memperluas akses layanan keuangan digital di Indonesia.”
Pertumbuhan Finansial yang Kuat dan Tetap Prudent
Kinerja 2025 di topang oleh pertumbuhan pendapatan yang kuat dan ekspansi kredit yang tetap di jalankan dengan prinsip kehati-hatian. Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 160% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,6 triliun. Yang sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 50% YoY menjadi Rp9,6 triliun. Terutama pada segmen ritel dan UMKM. Dana Pihak Ketiga (DPK) turut tumbuh signifikan sebesar 139% YoY menjadi Rp11,8 triliun. Sementara total aset meningkat 87% YoY menjadi Rp21,3 triliun. Yang mencerminkan ekspansi usaha yang sehat dan terukur.
Seiring dengan peningkatan skala bisnis, efisiensi operasional menunjukkan perbaikan yang signifikan, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 70,52% di bandingkan 139.16% pada tahun sebelumnya. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross di level 2,60% dan NPL Net sebesar 0,68%. Di dukung struktur likuiditas yang sehat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 81,32%. Net Interest Margin (NIM) juga meningkat menjadi 10,64%, memperkuat fundamental profitabilitas Perseroan.
Sinergi dengan Ekosistem Pemegang Saham sebagai Kunci Pertumbuhan
Sejalan dengan pertumbuhan finansial tersebut, Superbank terus memperkuat penetrasi layanan digital melalui kolaborasi strategis dalam ekosistem, termasuk peluncuran OVO
Nabung by Superbank, Kartu Untung dengan KakaoBank, serta integrasi pengajuan Pinjaman Atur Sendiri (PAS) langsung melalui aplikasi Grab dan OVO. Sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, Perseroan telah melayani lebih dari 6 juta nasabah dengan rata-rata transaksi melampaui 1 juta transaksi per hari. Mencerminkan tingginya tingkat adopsi dan engagement pengguna dalam ekosistem digital Superbank.
Memasuki 2026 sebagai bank KBMI 2. Superbank optimis melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan dengan fokus pada inovasi teknologi, penguatan sinergi ekosistem. Serta
penerapan manajemen risiko yang prudent. Ini berguna menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
(***)







