
trenddjakarta.com, Jakarta, 29 April 2026 – Rudy Presiden Direktur PT Astra Internasional TBK mengungkapkan.
“Pada kuartal pertama tahun 2026, laba Grup menurun terutama di sebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut.
Sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan imbal hasil kepada pemegang saham. Astra melanjutkan pelaksanaan program pembelian kembali saham pada kuartal pertama tahun ini. Di mana sampai saat ini, total pembelian kembali saham yang telah di realisasikan adalah sebesar Rp2,7 triliun. PT United Tractors Tbk (“UT”) juga melanjutkan program pembelian kembali saham mereka pada kuartal pertama tahun ini. Sejak program tersebut di mulai pada bulan November 2025, total pembelian kembali saham mencapai Rp3,0 triliun.
Ke depan, kondisi pasar di perkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan di siplin.
Dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan.”

LAPORAN PRESIDEN DIREKTUR
#Kinerja
Pendapatan bersih konsolidasian Grup pada kuartal pertama tahun 2026 adalah sebesar Rp78,7 triliun, 6% lebih rendah di bandingkan dengan kuartal pertama tahun 2025. Laba bersih Grup mencapai Rp5,9 triliun, 16% lebih rendah di bandingkan dengan periode yang sama tahun 2025. Hal ini di sebabkan oleh kinerja yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Terutama akibat kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim. Serta volume yang lebih rendah di bisnis alat berat dan bisnis jasa penambangan. Selain itu, pada periode ini, Grup mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih Grup turun 8% menjadi Rp6,8 triliun.
#Nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2026 naik sebesar 2% menjadi Rp5.810.
Utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026. Di bandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025. Dan terutama di sebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham. Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp66,0 triliun pada 31 Maret 2026, meningkat di bandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.
#Kegiatan Bisnis
Laba bersih Grup berdasarkan divisi bisnis pada kuartal pertama tahun 2026, di bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di muat dalam tabel di bawah:

#Otomotif & Mobilitas
Laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas Grup meningkat 4% menjadi Rp2,4 triliun dari Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Di dukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah. Selama periode tersebut, divisi ini mencatatkan kerugian nilai wajar atas investasi ekuitas sebesar Rp241 miliar yang terkait dengan GoTo. Dan yang di bandingkan Rp456 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Tanpa memperhitungkan kerugian nilai wajar, laba bersih divisi ini pada kuartal pertama 2026 sebesar Rp2,6 triliun, lebih rendah 4% di bandingkan kuartal pertama tahun 2025 sebesar Rp2,7 triliun.
• Penjualan mobil secara nasional meningkat 2% menjadi 209.000 unit pada kuartal pertama tahun 2026. Melemahnya segmen mass market serta peningkatan kompetisi secara umum memengaruhi pangsa pasar Astra, yang menjadi 49%.
• Penjualan sepeda motor secara nasional menurun 4% menjadi 1,6 juta unit pada kuartal pertama tahun 2026. PT Astra Honda Motor terus mempertahankan pangsa pasarnya yang kuat sebesar 78%.
• Kontribusi laba bersih bisnis komponen Grup, PT Astra Otoparts Tbk, meningkat sebesar 10% menjadi Rp447 miliar pada kuartal pertama tahun 2026. Dengan peningkatan kontribusi dari semua segmen.
• PT Serasi Autoraya, bisnis solusi transportasi dan logistik Grup, mencatat jumlah unit kontrak meningkat 14% menjadi 28.800 unit.
• OLXmobbi, bisnis mobil bekas Grup, membukukan penjualan mobil bekas yang meningkat 9% menjadi 8.200 unit.
#Jasa Keuangan
Laba bersih divisi Jasa Keuangan Grup meningkat 6% menjadi Rp2,3 triliun. Dan ini di sebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.
• Nilai pembiayaan baru bisnis pembiayaan konsumen Grup meningkat 5% menjadi Rp32,0 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus
pada pembiayaan mobil meningkat 5% menjadi Rp609 miliar. Laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor, PT
Federal International Finance, meningkat 3% menjadi Rp1,2 triliun.
• Nilai pembiayaan baru yang di salurkan oleh perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan alat berat meningkat sebesar 10% menjadi Rp4,4 triliun. Dan laba bersih dari segmen ini meningkat 16% menjadi Rp64 miliar.
• PT Asuransi Astra Buana, perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 7% menjadi Rp404 miliar. Dan ini di sebabkan terutama oleh
peningkatan hasil usaha dan hasil investasi. Perusahaan asuransi jiwa Grup, PT Asuransi Jiwa Astra, mencatatkan peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 47% menjadi Rp44 miliar.
#Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi menurun 79% menjadi Rp408 miliar. Pada periode ini, UT mengakui non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih divisi ini turun 42% menjadi Rp1,1 triliun di bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan kinerja terutama di sebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe. Dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada tahun 2026.
-Penjualan alat berat Komatsu menurun 20% menjadi 1.107 unit, terutama di dorong oleh penurunan permintaan dari sektor tambang.
-Penyedia jasa penambangan, PT Pamapersada Nusantara, mencatatkan pengupasan lapisan tanah yang lebih rendah 7% menjadi 236 juta bank cubic metres.
-Anak perusahaan UT di bidang pertambangan batu bara melaporkan penjualan batu bara miliknya sebesar 4,0 juta ton (termasuk 0,9 juta ton batu bara metalurgi), meningkat di bandingkan dengan 3,2 juta ton (termasuk 1,1 juta ton batu bara metalurgi) pada kuartal pertama tahun 2025.
-Bisnis pertambangan emas UT mencatat penjualan emas yang menurun 93% menjadi 4.000 oz, di bandingkan dengan 57.000 oz pada periode yang sama tahun lalu, terutama di sebabkan oleh tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe akibat penghentian sementara kegiatan operasionalnya. Pada bulan Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk kembali melanjutkan kegiatan operasionalnya.
-Bisnis pertambangan nikel UT terdiri dari PT Stargate Pasific Resources, yang mayoritas sahamnya di miliki oleh UT, dan Nickel Industries Limited (“NIC”) yang 20,1% sahamnya di miliki oleh UT. Sehubungan dengan perbedaan waktu rilis kinerja NIC. UT membukukan bagian pendapatan ekuitas NIC untuk periode 3 bulan berdasarkan rilis kinerja NIC kuartal terakhir tahun 2025.
#Agribisnis
Laba bersih divisi Agribisnis Grup meningkat 35% menjadi Rp298 miliar. Terutama di dorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah (“CPO”) dan produk turunannya sebesar 6% menjadi 457.000 ton. Yaitu dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp14.556/kg.
#Infrastruktur
Divisi Infrastruktur Grup mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp343 miliar. Dan di sebabkan oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Konsesi jalan tol Grup mencatatkan peningkatan pendapatan harian sebesar 14%.
#Teknologi Informasi
Divisi Teknologi Informasi Grup mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp53 miliar. Dan ini di sebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.
#Properti
Divisi Properti Grup melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 145% menjadi Rp115 miliar. Terutama berasal dari aset-aset gudang industri yang baru di akuisisi.
#Aksi Korporasi
Pada bulan Maret 2026, Astra mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham dengan nilai maksimum sebesar Rp2,0 triliun. Yaitu dengan periode pelaksanaan dari 16 Maret hingga 15 Juni 2026. Pada bulan April 2026, UT mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham dengan nilai maksimum sebesar Rp2,0 triliun dengan periode pelaksanaan dari 1 April hingga 30 Juni 2026. Kedua program tersebut di lakukan sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Program-program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Grup dan kemampuannya dalam menghasilkan arus kas yang berkelanjutan. Serta mendukung pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.
#Prospek Bisnis
Ke depan, kondisi pasar di perkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan di siplin. Yaitu dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan.
(***)







