
trenddjakarta.com, 12 Mei 2026 – Ada perspektif baru dari Perunggu dalam melihat panggung belakangan ini. Setelah konser “Pertunjukan Dalam Dinamika” di Jakarta tahun lalu berkembang menjadi salah satu pertunjukan paling monumental dalam perjalanan mereka, trio ini membawa pengalaman yang sama ke tiga kota: Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung.
Pada 16 Mei 2026, Surabaya akan menjadi titik berikutnya. Sebuah kota yang, bagi Perunggu, punya energi berbeda: musikal dan sering kali sulit di tebak. Di Grand City Hall, mereka tidak sekadar datang untuk memainkan lagu-lagu dari album Dalam Dinamika, tapi juga mencoba mendorong ulang batas tentang seperti apa konser Perunggu seharusnya terasa.
“Di tur ini, kami nggak cuma mengulang, tapi mencoba menyempurnakan. Kami lebih siap secara teknis, tapi juga lebih sadar bahwa yang penting itu bukan cuma tampil rapi, tapi bagaimana pengalaman itu terasa ke penonton.” Ujar vokalis dan gitaris Maul Ibrahim.
Mengusung materi dari album Dalam Dinamika serta lagu-lagu sebelumnya, pertunjukan ini tetap mempertahankan elemen interaktif sebagai bagian penting dari konsepnya. Bagi Perunggu, kedekatan dengan audiens menjadi hal yang tidak bisa ditawar, bahkan ketika skala pertunjukan semakin besar.
“Dari dulu kami selalu serius, tapi skalanya yang terus membesar. Sekarang ini mungkin pertama kalinya kami benar-benar memikirkan pertunjukan secara menyeluruh. Dari lighting, visual, sampai flow antar lagu. Kami ingin ini terasa sebagai satu show yang utuh, bukan sekadar memainkan lagu.” Imbuh drummer Ildo Hasman.
Salah satu kampanye menarik yang mereka gaungkan adalah imbauan untuk tidak mengunggah video konser dalam waktu dekat. Perunggu meyakini bahwa pengalaman menonton musik secara langsung perlu kembali menjadi sesuatu yang personal sebelum dibagikan ke ruang publik.
“Kami ingin penonton benar-benar menikmati momen. Tujuannya supaya pengalaman itu jadi personal dulu, baru nanti jadi memori,” jelas Maul.
Surabaya dan Energi yang Berbeda
Surabaya menghadirkan tantangan sekaligus daya tarik tersendiri bagi Perunggu. Kota ini di kenal memiliki karakter penonton yang lebih spesifik dalam merespons musik secara langsung.
“Surabaya itu menarik, karena energinya beda. Kami merasa penonton di sana cukup menikmati hal-hal yang secara musikal lebih kompleks. Bahkan beberapa lagu kami yang jarang di bawakan karena cukup ‘ribet’, justru mereka responnya bagus di sana.” Ungkap Adam Adenan.
Maul Ibrahim juga menambahkan bahwa Surabaya menjadi wilayah penting dalam peta pendengar Perunggu, termasuk sebagai representasi dari kawasan Jawa Timur secara lebih luas.
“Surabaya itu bukan cuma kotanya, tapi juga mewakili area sekitar seperti Malang, Sidoarjo, dan sekitarnya. Kami punya basis pendengar yang cukup kuat di sana. Walaupun secara pasar konser katanya menantang, itu justru yang pengen kami coba pecahkan.” Ujar Maul.
Meski di kenal sebagai kota dengan dinamika pasar konser yang berbeda, Perunggu melihat Surabaya sebagai ruang untuk bereksperimen dan memperluas cara mereka berinteraksi dengan penonton.
Menggandeng Salma Salsabil dan Natassya “Thee Marloes”
Setelah menghadirkan Eross Candra dan Kunto Aji di Yogyakarta, Perunggu akan mempertemukan dua spektrum berbeda lewat kolaborasi bersama Salma Salsabil dan Natassya
Sianturi dari Thee Marloes di Surabaya. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari pendekatan Perunggu dalam menghadirkan warna musikal yang lebih luas dalam satu panggung.
“Kami senang bisa main bareng musisi yang kami kagumi. Ada keinginan untuk berbagi ruang dan memperluas pengalaman penonton juga,” ujar Maul.
Tur “Pertunjukan Dalam Dinamika” akan di tutup di Bandung pada 23 Mei 2026 di Eldorado Dome. Informasi tiket dapat di akses melalui www.dalamdinamika.com
(***)






