
trenddjakarta.com, Jakarta – Sebagai upaya nyata dalam melestarikan warisan budaya nasional yang tengah di perjuangkan menjadi Warisan Dunia UNESCO, Rudy Octave bersama Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) dan Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) sukses menyelenggarakan kegiatan “Roadshow Edukasi dan Lokakarya: Tari Keroncong Nusantara Goes To School 2026”.
Acara yang berlangsung tatap muka ini di pusatkan di SMK Negeri 57 Jakarta. Dan di ikuti oleh 100 siswa dan siswi terpilih dari 11 SMA/SMK di wilayah Jakarta melalui pendaftaran dan undangan online.
“Keroncong itu adalah salah satu Warisan budaya Indonesia yang harus kita pertahankan. Karena yang terjadi banyak sekali warisan budaya Indonesia yang di akui oleh negara lain. Jadi menurut saya kegiatan ini sangat penting sekali untuk mengenalkan kepada generasi muda bahwa keroncong itu tidak hanya untuk orang tua. Tetapi ternyata anak muda juga bisa mempertahankan budaya melalui tari keroncong.” Kata Kepala Kepala SMK Negeri 57, Rina Mulyati Selasa, (12/5/2026) di Jakarta.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan penuh dan pendanaan dari Balai Pemajuan Kebudayaan Wilayah VIII (Banten-Jakarta), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Yang sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam penguatan ekosistem kebudayaan lokal.
Dalam lokakarya ini, para peserta di perkenalkan pada Tari Keroncong Nusantara. Yaitu sebuah inovasi gerak tari yang di ciptakan oleh ASETI untuk mengiringi lagu berjudul “Alunan Senja”. Lagu tersebut merupakan karya orisinal dari Rudy Octave. Seorang musisi sekaligus pendiri LINI yang juga di kenal lewat gagasan dalam buku “Indonesia Darurat Irama”.
Rudy Octave menekankan bahwa irama khas seperti Keroncong akan lebih lestari jika di dukung oleh gerak tari agar mudah di ikuti oleh masyarakat luas.
”Alunan Senja ini sebenarnya cuma hanya trigger. Ke depannya nanti semua lagu keroncong di tarikan seperti itu. Seperti Poco- Poco nanti bentuknya. Jadi akan menjadi social dance ke depannya,” kata Rudy.
Tari Keroncong Nusantara memiliki keunikan tersendiri. Yaitu dengan menggabungkan 10 pola gerak yang merepresentasikan keragaman budaya dari ujung timur hingga barat Indonesia. Dan yang mencakup unsur Melayu, Betawi, Sulawesi, Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara hingga Jawa. Juga dengan mengingat peta perjalanan penjelajah bangsa Portugis melewati daerah-daerah tersebut dengan membawa instrumen asli berupa gitar kecil yang bernama cavaquinho. Yang pada akhirnya berevolusi menjadi machina dan pronga di kawasan Kampung Tugu Jakarta Utara dan instrume Cak dan Cuk di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan sehingga di kenal nama irama KERONCONG saat ini. Filosofi tarian ini di rancang santai dan inklusif agar dapat di pelajari dengan mudah oleh generasi muda tanpa memerlukan energi berlebihan. Tetapi tetap menjaga nilai estetika dan sejarah. (Hnd)






