
trenddjakarta.com – Ada pepatah mengatakan ‘masih banyak ikan di laut’. Namun, perubahan iklim menyebabkan kenyataan sebaliknya. Stok ikan di dunia kini justru semakin menipis.
Model penelitian terbaru dari Monash University memprediksi bahwa perubahan iklim akan memengaruhi hasil tangkapan ikan di banyak wilayah. Dampak ini berpotensi mengancam ketahanan pangan, mata pencaharian nelayan, dan masa depan ekosistem laut sebagai sumber pangan yang berkelanjutan.
Berbagai hasil penelitian sebelumnya hanya melihat bagaimana spesies ikan merespons kenaikan suhu tanpa mempertimbangkan evolusi. Namun, riset terbaru yang di publikasikan di jurnal Science meneliti bagaimana ikan akan berevolusi sebagai respons terhadap iklim di masa depan.
Permintaan terhadap industri perikanan sebagai sumber protein hewani bagi miliaran orang di seluruh dunia di perkirakan akan terus meningkat. Di Indonesia, sektor kelautan juga memegang peranan ekonomi yang besar. Menyumbang lebih dari US$ 180 miliar (sekitar Rp 3 triliun) per tahun melalui perikanan, pariwisata bahari, transportasi laut. Serta berbagai industri berbasis laut lainnya.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar, serta termasuk dalam jajaran produsen rumput laut, budidaya ikan (aquaculture), dan perikanan tangkap. Meski memiliki posisi kuat, pertumbuhan perikanan tangkap di Indonesia belakangan melambat. Kondisi ini di sebabkan jumlah tangkapan yang kian mendekati batas maksimal. Yang di anggap aman dan berkelanjutan, yaitu sekitar 6,5 juta ton per tahun.
Di sisi lain, seiring meningkatnya suhu laut dan perubahan cuaca, ikan pun berevolusi. Beberapa jenis ikan kini berkembang biak lebih sedikit atau bahkan menghilang sepenuhnya dari perairan tertentu.
Para peneliti dari Monash University menemukan bahwa respons evolusi ikan terhadap perubahan iklim global kemungkinan akan mengurangi keberlanjutan industri perikanan dan berdampak negatif pada hasil tangkapan perikanan di seluruh dunia.
Menurut Profesor Craig White, Head of the School of Biological Sciences. Pemanasan global di perkirakan membuat ikan tumbuh lebih cepat dan dewasa sebelum waktunya, sehingga ukuran ikan dewasa menjadi lebih kecil dari yang seharusnya.
“Perubahan evolusi ini berdampak baik bagi kelangsungan ikan, tetapi kurang baik bagi nelayan dan industri perikanan. Evolusi membantu ikan mengurangi dampak pemanasan global terhadap kondisi fisik mereka, tetapi memiliki pengaruh yang buruk terhadap kelestarian hasil tangkapan,” ujar Profesor White.
“Setiap kenaikan satu derajat suhu bumi di perkirakan akan menurunkan produksi perikanan. Di sisi lain, kebijakan iklim yang baik, yang membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius. Ini berpotensi menjaga jutaan ton hasil perikanan yang di khawatirkan hilang,” tambahnya.
Penelitian yang di lakukan bersama Profesor Jan Kozłowski dari Universitas Jagiellonian, Polandia, ini menggunakan model sejarah hidup (life-history model) yang baru. Dan di uji dengan data hampir 3.000 spesies ikan. Model tersebut memprediksi bagaimana evolusi sejarah hidup ikan akan memengaruhi kelestarian hasil tangkapan di 43 kawasan perikanan terbesar dunia.
Menurut Profesor Dustin Marshall, Head of the Marine Evolutionary Ecology Research Group di Monash University. Faktor evolusi harus di pertimbangkan untuk memprediksi bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada layanan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan manusia.
“Banyak yang beranggapan bahwa evolusi akan mengurangi dampak perubahan iklim. Hal itu memang benar untuk kelangsungan hidup spesies, tetapi sebaliknya dapat memperburuk kondisi layanan ekosistem,” ujar Profesor Marshall.
Berikut adalah beberapa poin utama hasil penelitian terkait:
Seiring berkembangnya waktu, ikan akan berevolusi untuk beradaptasi lebih efektif terhadap suhu air yang lebih hangat, sehingga tetap mampu bertahan hidup dan berkembang biak meskipun terjadi perubahan iklim.
Meski ikan mungkin mampu beradaptasi dengan lebih baik, proses evolusi ini berdampak buruk bagi industri perikanan, karena dapat menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan.
Akibat perubahan evolusi ini, industri perikanan bisa mengalami kerugian hingga 50 persen, baik dari sisi pendapatan maupun jumlah yang di tangkap.
Penelitian ini menegaskan perlunya kebijakan iklim yang kuat untuk membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius. Langkah ini berpotensi mempertahankan jutaan ton produksi perikanan yang riskan hilang. Karena setiap kenaikan suhu akan terus mengurangi hasil tangkapannya.
(***)



