
trenddjakarta.com, Yogyakarta – Sekolah Dasar Eksperimental (SDE) Mangunan Go Yogyakarta sukses menggelar Puncak Festival Literasi dan Kreasi di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Mengusung tema “Bergerak Bersama Satukan Hati Pulihkan Bumi”, kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan hasil belajar, kreativitas, dan bakat mereka melalui berbagai karya seni dan pertunjukan.
Festival yang di gagas SDE Mangunan ini menjadi puncak dari proses pembelajaran yang telah di jalani siswa selama satu semester. Beragam kegiatan di tampilkan, mulai dari pameran lukisan, pertunjukan drumband, teater, tari, karawitan, hingga penampilan band anak. Seluruh rangkaian acara mengedepankan semangat kolaborasi dan kerja sama, sesuai dengan nilai-nilai pendidikan yang di wariskan Romo Y.B. Mangunwijaya.
Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (Eksperimental Mangunan), Yasinta Osy Petriana, menjelaskan bahwa festival tersebut merupakan ruang bagi siswa untuk membagikan hasil belajar mereka kepada teman, orang tua, dan masyarakat luas.
“Selama satu semester anak-anak belajar mengembangkan berbagai potensi diri. Festival ini menjadi kesempatan untuk membagikan hasil proses belajar tersebut kepada teman-teman, orang tua, dan masyarakat,” ujar Yasinta.
Direktur Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, Romo Albertus Hesta, menegaskan bahwa konsep festival di pilih sebagai bentuk implementasi filosofi pendidikan Romo Mangun yang menempatkan kolaborasi di atas kompetisi.
“Bagi Romo Mangun, bakat anak bukan untuk saling bersaing atau menjatuhkan satu sama lain, melainkan untuk berkolaborasi dan bekerja sama. Karena itu namanya festival, tempat semua anak saling bersinergi,” kata Romo Albertus.
Menurutnya, setiap anak memiliki keistimewaan yang patut di hargai dan di tampilkan. Melalui berbagai pertunjukan dan karya seni, siswa di dorong untuk percaya diri sekaligus belajar menghargai kemampuan teman-temannya.
Kegiatan tersebut turut mendapat apresiasi dari Pengawas Pembina SD Kemantren Jetis dan Danurejan Yogyakarta, Wahyu Hastini. Ia mengaku terkesan dengan kreativitas siswa dalam menggabungkan unsur seni tradisional dan modern dalam satu panggung.
“Ini sesuatu yang luar biasa. Gamelan bisa di kolaborasikan dengan sangat manis bersama band. Selain itu, karya-karya lukisan anak juga menunjukkan bahwa sekolah ini tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga mengembangkan seluruh potensi siswa,” ujarnya.
Hastini juga menepis anggapan bahwa kesenian tradisional mulai di tinggalkan generasi muda. Menurutnya, antusiasme siswa terhadap seni budaya lokal masih sangat tinggi.
“Saya tidak setuju kalau gamelan di tinggalkan. Anak-anak masih mencintai gamelan. Ketika ada kegiatan gamelan di sekolah, mereka hadir dengan tekun dan penuh semangat,” ungkapnya.
Menutup kegiatan, Hastini berpesan agar para siswa terus mengembangkan seluruh potensi yang di miliki, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
“Kembangkan semua kemampuan, bakat, minat, dan hobi yang kalian miliki. Dengan begitu kalian dapat tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan berdaya bagi lingkungan sekitar,” pungkasnya.
(Td/Hnd)




