
trenddjakarta.com, Jakarta, 28 Juli 2026 – PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (selanjutnya disebut “Daewoong”) bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menggelar sesi edukasi media di Jakarta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kardiovaskular. Melanjutkan sesi sebelumnya. Program edukasi kesehatan ini di selenggarakan untuk meluruskan anggapan bahwa tubuh langsing terbebas dari kolesterol tinggi dan penyakit kardiovaskular. Yang sekaligus menyampaikan informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat.
Sesi tersebut menekankan bahwa kadar kolesterol jahat atau LDL-C dapat meningkat pada siapa saja, terlepas dari bentuk tubuhnya. Seseorang dengan berat badan normal tetap dapat memiliki lemak visceral berlebih maupun faktor risiko yang berkaitan dengan resistensi insulin, genetik, dan pola makan. Terlebih lagi, dislipidemia sering berkembang tanpa gejala yang terlihat.
Karena itu, Daewoong dan PERKI mengingatkan masyarakat agar tidak menilai kondisi kesehatannya hanya berdasarkan bentuk tubuh. Kadar kolesterol perlu dipantau secara berkala melalui pemeriksaan darah.
Sejumlah studi kohort berskala besar di Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah lainnya menunjukkan. Bahwa orang dewasa dengan berat badan normal tetapi memiliki faktor risiko metabolik menghadapi risiko penyakit kardiovaskular. Dan sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi di bandingkan individu dengan berat badan serupa yang metaboliknya sehat. Temuan tersebut antara lain tercantum dalam Nurses’ Health Study. Serta kajian yang di publikasikan dalam jurnal Diabetologia pada 2019 dan Endocrinology & Metabolism pada 2020.
Risiko ini perlu mendapat perhatian khusus di kalangan orang Asia. Di bandingkan populasi Barat, orang Asia cenderung mengalami penumpukan lemak visceral pada berat badan yang lebih rendah. Sebuah studi di abetes pada populasi Asia yang di kutip dalam jurnal internasional Metabolism pada 2016 juga menunjukkan. Bahwa orang dewasa Asia dengan di abetes sekitar lima kali lebih berpeluang memiliki tubuh langsing di bandingkan mengalami obesitas.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa berat badan maupun penampilan fisik tidak dapat di jadikan satu-satunya ukuran kesehatan metabolik. Pemeriksaan profil lipid secara rutin tetap di perlukan untuk mengetahui kadar kolesterol dan mendeteksi risiko kardiovaskular sejak dini.
Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI yang menjadi pembicara dalam acara tersebut, mengatakan, “Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh. Kondisi ini sering di sebut sebagai obesitas pada berat badan normal.”
“Penumpukan lemak visceral dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting,” lanjutnya.
Dr. Susetyo menjelaskan bahwa pedoman terkini merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan sedikitnya 50% dari kadar awal.
“Pada kelompok pasien tersebut berlaku prinsip ‘semakin rendah, semakin baik’. Berbagai bukti klinis menunjukkan bahwa semakin rendah kadar LDL-C yang di capai, semakin rendah pula risiko serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa di slipidemia sering kali tidak menimbulkan keluhan yang dapat di rasakan secara langsung. Oleh karena itu, orang dengan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular, di abetes, atau hipertensi perlu menjalani pemeriksaan profil lipid secara rutin. Guna memantau kadar kolesterol dan risiko kardiovaskularnya.
Dalam penanganannya, terapi kombinasi yang bekerja melalui dua jalur menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keterbatasan terapi tunggal dan mengoptimalkan penurunan LDL-C. Pendekatan ini menggabungkan statin, yang menghambat pembentukan kolesterol di hati, dengan ezetimibe, yang mengurangi penyerapan kolesterol di usus.
Kombinasi kedua zat aktif tersebut dalam satu tablet dapat memberikan efek penurunan LDL-C yang kuat sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan statin dosis tinggi. Bentuk kombinasi dosis tetap juga memudahkan pasien dalam mengonsumsi obat dan membantu menjaga kepatuhan terhadap terapi. Hal ini penting bagi pasien yang membutuhkan perlindungan kardiovaskular dalam jangka panjang.
dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand and Marketing Daewoong, mengatakan, “Sesi ini bertujuan meluruskan anggapan bahwa orang bertubuh langsing terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular. Sebagai mitra tepercaya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, Daewoong akan terus memperluas edukasi mengenai pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular agar masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat untuk menjaga kesehatan jantung.”
(***)





