
trenddjakarta.com, Jakarta – AI mempercepat perubahan dalam dunia bisnis dan memaksa perusahaan untuk meninjau kembali seberapa banyak dan seperti apa ruang kantor yang mereka butuhkan, dengan beralih memanfaatkan model ruang kerja yang fleksibel dan terdesentralisasi, menurut penelitian terbaru dari International Workplace Group, platform ruang kerja terbesar di dunia yang menaungi merek-merek seperti Regus dan Spaces.
Studi yang di lakukan kepada para CEO dan CFO menemukan bahwa 60% di antaranya meyakini kemunculan AI telah menyulitkan prediksi kebutuhan ruang kantor organisasi mereka untuk dua tahun ke depan. Seiring pesatnya kemajuan teknologi yang mengubah produktivitas, perencanaan tenaga kerja, dan kecepatan bisnis. Para pemimpin perusahaan mulai beralih dari komitmen properti jangka panjang yang bersifat tetap menuju strategi ruang kerja. Yang hemat biaya dan dapat di sesuaikan dengan perubahan kebutuhan.
AI mengubah peta tempat kerja
88% CEO menyatakan kemunculan AI menuntut organisasi mereka memiliki fleksibilitas terkait ruang kerja atau solusi properti. Di karenakan perubahan teknologi yang pesat membuat prediksi akan kebutuhan ruang kerja di masa depan menjadi sangat sulit. Ketika di tanya mengenai pengaruh teknologi, termasuk AI, terhadap keputusan terkait lokasi ruang kantor, 42% responden mengatakan teknologi memungkinkan kerja jarak jauh dan mengurangi kebutuhan akan kantor pusat. 39% mengatakan teknologi itu mendorong model kantor yang terdesentralisasi atau fleksibel dan 37% mengatakan hal tersebut memperluas akses terhadap talenta global yang tersebar di berbagai lokasi.
Beralih dari Pengeluaran Tetap ke Pengeluaran Fleksibel
Pergeseran ini sudah berlangsung. Sebanyak 99,8% CEO dan CFO mengatakan organisasi mereka secara aktif berupaya mengalihkan biaya properti dari biaya yang bersifat tetap menjadi lebih fleksibel, dengan mengadopsi model yang membutuhkan modal lebih minim sehingga perusahaan dapat mengalokasikan modal untuk mendukung pertumbuhan dan masa depan bisnis.
Menyadari manfaat fleksibilitas ruang kantor di bandingkan terikat pada kontrak jangka panjang yang mahal, mayoritas responden (57%) secara aktif berinvestasi dalam pengaturan ruang kerja hibrida. Lebih dari setengah di antaranya berencana mendirikan jaringan lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal karyawan (55%), sementara 52% di antaranya mempertimbangkan model ruang kerja yang terdesentralisasi.
Biaya kini juga menjadi faktor yang hampir universal dalam strategi menentukan lokasi kantor bagi jajaran eksekutif, 99% di antaranya menyatakan efisiensi biaya menjadi pendorong dalam keputusan mengenai lokasi ruang kantor dan lebih dari seperempat (27%) menyebutnya sebagai faktor pendorong utama.
Model tempat kerja yang lebih produktif dan hemat biaya
Alih-alih bergantung pada satu kantor pusat yang mahal di pusat kota. Perusahaan kini semakin banyak membangun jaringan ruang kerja profesional yang mendukung tim dengan pola kerja hibrida, meningkatkan kelincahan bisnis. Dan sekaligus memberikan karyawan akses ke ruang kantor berkualitas tinggi yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Meskipun terdapat penghematan biaya, perusahaan yang memberikan karyawannya akses ke lokasi kerja yang fleksibel juga akan memperoleh peningkatan produktivitas – model kerja hibrida. Yang terutama yang memungkinkan staf menggunakan ruang kerja fleksibel yang lebih dekat dengan rumah. Dan yang berpotensi meningkatkan produktivitas sebesar 11% dalam lima tahun ke depan. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan yang ingin mempertahankan talenta terbaik, sekaligus mengelola pengeluaran jangka panjang.
“Kantor” menjadi semakin penting, bukan sebaliknya
Lebih dari tiga perempat CEO (76%) menyatakan bahwa peran kantor akan semakin penting bagi organisasi mereka dalam dua tahun ke depan. Sementara hanya 0,8% yang berpendapat bahwa perannya akan semakin berkurang. Hal ini mencerminkan kesadaran yang kian meningkat bahwa perusahaan masih membutuhkan ruang profesional untuk kolaborasi, inovasi, dan budaya. Namun tidak lagi perlu terikat pada satu lokasi tetap selama bertahun-tahun.
Christian Schmitz, CEO International Workplace Group, mengatakan.
“AI mempercepat laju perubahan bagi setiap bisnis. Dan perusahaan yang ingin sukses memerlukan strategi tempat kerja yang memungkinkan mereka menyesuaikan skala operasional dengan cepat sesuai kebutuhan. Memangkas biaya tetap yang tidak perlu, serta memberikan akses kepada karyawan ke ruang kerja berkualitas tinggi di mana pun mereka membutuhkannya.”
“Hal ini berkaitan dengan memberikan fleksibilitas kepada bisnis untuk beradaptasi seiring dengan perubahan teknologi. Tidak ada yang tahu persis seperti apa organisasi mereka dalam dua tahun ke depan. Akan tetapi mereka tahu bahwa mereka membutuhkan kelincahan untuk merespons. Kemampuan inilah yang dirancang untuk dihadirkan oleh platform IWG.”
Mark Dixon, Executive Chairman International Workplace Group, mengatakan: “AI bukan sekadar gelombang inovasi baru. Teknologi ini mempercepat laju bisnis dengan kecepatan yang tidak terbayangkan oleh banyak orang. Sehingga perusahaan semakin sulit memprediksi kebutuhan mereka bahkan dalam dua tahun ke depan. Dalam situasi seperti ini, komitmen jangka panjang terhadap ruang kantor menjadi tidak masuk akal.”
“Masa depan akan menjadi milik perusahaan yang mampu bergerak cepat, menjangkau talenta di mana pun mereka berada. Dan menyediakan ruang kerja profesional bagi karyawan di lokasi yang mereka butuhkan. AI akan membuat kreativitas, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan beradaptasi menjadi semakin berharga, bukan sebaliknya. Dan ruang kerja fleksibel memberikan kelincahan yang dibutuhkan perusahaan untuk merespons.”
(***)





