
trenddjakarta.com, Jakarta, 9 Maret 2026 – Sampoerna University menggelar TEDxSampoerna University 2026 dengan tema “AfterAll: What Remains Beneath” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Acara yang kini memasuki penyelenggaraan keenam ini menghadirkan delapan pembicara terkurasi yang membahas tiga subtema utama: “Beneath Idea”, “Beneath Action”, dan “Beneath Expression”. Ketiga subtema tersebut kemudian di kembangkan ke dalam topik-topik sesuai keahlian dan latar belakang profesional masing-masing pembicara. Termasuk di antaranya, Edward Tirtanata, CEO & Founder Kopi Kenangan serta Naya Anindita, sutradara film hadir untuk menginspirasi Gen Z Indonesia membangun nilai diri dan resiliensi di tengah era disrupsi.
Edward Tirtanata, CEO & Founder Kopi Kenangan, hadir membawakan topik ‘Behind the Pitch: The Power of Resilience in Innovation’. Topik ini berangkat dari realita bahwa meski perusahaan rintisan terus bermunculan dalam beberapa tahun terakhir, hanya sedikit yang benar-benar mampu bertahan. Edward, yang bukan berasal dari latar belakang yang ahli di bidang kopi. Membuktikan bahwa brand yang didirikannya selama sembilan tahun adalah bukti nyata dari perjalanan tersebut.
“Kami mempunyai misi besar menjadi jaringan kedai kopi nomor satu di Indonesia hingga kancah internasional. Akan tetapi, ada banyak rintangan yang tidak kecil dan harus kami lewati seperti pandemi Covid-19, tekanan inflasi, hingga ekspansi yang terlalu melebar sebelum pondasinya benar-benar kuat. Dari titik inilah, kami memilih untuk membangun kembali dari dalam. Mulai dari menyusun ulang strategi brand, memperketat fokus pada satu identitas brand tanpa distraksi. Hingga mengubah cara pandang bahwa kami bukan sekadar menjual kopi sebagai komoditas saja, tetapi sebagai sebuah brand. Inilah sebuah tekad yang saya lakukan bersama tim, dan sebagai seorang founder, saya tidak akan berhenti berusaha menjadi versi yang lebih baik hari ini daripada hari kemarin,” cerita Edward.
Selain Edward, TEDxSampoerna University 2026 juga mengundang Naya Anindita. Yang adalah seorang sutradara film yang di kenal lewat karya-karyanya seperti Imperfect the Series dan Komang. Mengangkat topik ‘Why Real Beats Perfect’, Naya berbagi perjalanannya sebagai seorang seniman yang pernah berusaha keras mengejar kesempurnaan dalam setiap karyanya, hingga akhirnya menyadari bahwa kesempurnaan itu tidak pernah benar-benar memiliki ujung. Dirinya sering merasakan kegagalan dan dari situlah, Naya menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga. Yakni kejujuran dalam berkarya serta keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.
“Kegagalan itu manusiawi dan merupakan bagian dari proses yang tidak bisa kita hindari. Daripada berusaha untuk tidak gagal, lebih baik belajar untuk menerimanya. Karena dari kegagalan itulah kita tumbuh, berkembang, dan menemukan versi diri yang lebih baik dari sebelumnya. Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah terus melangkah maju,” ungkap Naya.
Kedua topik ini beresonansi kuat dengan visi Sampoerna University dalam mempersiapkan mahasiswanya untuk sukses di panggung global. Dengan menghadirkan kurikulum berstandar Amerika Serikat (AS) yang di akui secara global. Sampoerna University membekali lulusannya dengan kompetensi akademik yang kuat sekaligus kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Kualitas yang sama ini sangat di butuhkan untuk bertahan maupun bersaing di tengah ketidakpastian.
(***)






