
trenddjakarta.com, Jakarta — Kebebasan pers global makin terancam. Laporan terbaru UNESCO mengungkap penurunan kebebasan berekspresi sebesar 10% sejak 2012, angka yang hanya pernah terjadi saat Perang Dunia I, menjelang Perang Dunia II, dan Perang Dingin akhir 1970-an.
“Kondisi ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Khaled El-Enany, Director-General UNESCO. Yang dalam Konferensi Hari Kebebasan Pers Dunia di Lusaka. “Jurnalisme menjadi garis pertahanan terakhir masyarakat terhadap manipulasi dan perpecahan.”
Berdasarkan data Varieties of Democracy (V-Dem), praktik sensor diri di kalangan jurnalis melonjak 69% sejak 2012 hingga akhir 2025. Tekanan hukum seperti gugatan pencemaran nama baik dan regulasi pembatas kerja jurnalistik jadi pemicu utama.
Yang paling mengkhawatirkan, kekerasan digital terhadap jurnalis perempuan meningkat tajam. Riset International Center for Journalists (ICFJ) bersama UN Women dan UNESCO mencatat 75% jurnalis perempuan pernah mengalami kekerasan daring. Lebih jauh, 42% dari mereka mengaku serangan itu berlanjut menjadi ancaman atau kekerasan fisik di dunia nyata. Yang naik dua kali lipat di banding 20% pada 2020.
Meski begitu, UNESCO mencatat sejumlah kemajuan. Dari 194 negara yang di kaji pada 2025, hampir separuhnya sudah punya kerangka hukum yang mengakui media komunitas dan memberi dukungan finansial. Akses informasi juga membaik: 139 negara anggota PBB kini menjamin hak publik atas informasi. Teknologi digital dan AI bahkan mendorong jurnalisme investigasi lintas batas makin berkembang.
“Ruang redaksi di seluruh dunia sedang berjuang bertahan secara finansial dan menghadapi ancaman eksistensial,” tegas Khaled El-Enany. Ia menyebut hanya dengan 15 hari pengeluaran militer global, kebutuhan dana jurnalisme untuk kepentingan publik selama setahun bisa terpenuhi.
UNESCO mendesak pemerintah dan masyarakat sipil memperkuat dukungan terhadap jurnalisme independen. “Ketika jurnalisme melemah, korupsi meningkat, tata kelola pemerintahan memburuk, dan manipulasi informasi dapat memicu konflik,” tegas UNESCO.
Sebagai bentuk apresiasi, Penghargaan UNESCO/Guillermo Cano untuk Kebebasan Pers tahun ini di berikan kepada Sudanese Journalists Syndicate, yang tetap bekerja di tengah konflik dan risiko tinggi.
Laporan ini jadi pengingat: melindungi jurnalis sama dengan menjaga demokrasi dan perdamaian.
(Td/La)




