
trenddjakarta.com, Jakarta, 16 September 2026 – Persoalan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman mengenai sustainability. Di butuhkan kemampuan untuk melihat persoalan secara lebih mendalam, mengidentifikasi peluang, serta mengembangkan solusi yang dapat memberikan nilai bagi masyarakat. Pendekatan inilah yang di hadirkan Sampoerna University melalui Building Entrepreneurial Mindset for Sustainable Technology and Society (BESTS) Program 2026. Yang kembali di laksanakan bersama Institute of Science Tokyo, Jepang untuk tahun kedua.
Tahun ini, BESTS bersama Institute of Science Tokyo, Jepang, memperluas pengalaman pembelajaran mahasiswa melalui rangkaian kegiatan di Jepang dan Indonesia. Yaitu dengan sustainability sebagai benang merah dalam setiap aktivitasnya. Salah satunya adalah “A Circular Economy Business for Fishing-Net Waste in Tanimbar”. Buah karya Chintya Ramadhani, Keyzia Ariola Putri, Stivan Delon Sahertian, Tsukui Shun & Mardo Malawau. Yang berangkat dari persoalan limbah jaring ikan di Tanimbar. Gagasan ini mengeksplorasi pengembangan jaring ikan yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan kembali limbah jaring ikan melalui proses daur ulang.
Proyek lainnya, Eco-Fuel karya Harsen Ramadhan, Luthfi Ahmad, Nona Brillyanti, Koki Nakazaki dan Hiroki Nozaki, mengembangkan gagasan untuk mengubah limbah plastik. Yang memiliki nilai ekonomi rendah menjadi bahan bakar cair alternatif melalui proses pirolisis. Gagasan tersebut berangkat dari dua persoalan yang saling berkaitan. Yaitu tingginya biaya bahan bakar untuk kebutuhan pertanian dan masih banyaknya limbah plastik yang sulit di serap oleh sistem pengelolaan sampah.
“BESTS memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk keluar dari ruang kelas dan melihat secara langsung bagaimana isu sustainability hadir dalam kehidupan masyarakat maupun dunia industri. Inisiatif ini sejalan dengan visi Sampoerna University dalam mengembangkan lulusan dengan entrepreneurial mindset. Yaitu kemampuan untuk melihat peluang dari berbagai persoalan, mengembangkan solusi, dan menciptakan nilai dari pengetahuan yang mereka miliki. Melalui pengalaman lintas negara, interaksi dengan industri, serta proses pengembangan ide selama BESTS. Dan Mahasiswa mendapatkan ruang untuk menerapkan pola pikir tersebut pada persoalan nyata,” ujar Dr. Farid Triawan, Dean of Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University.
(***)







